Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Nyapuleger di Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang: Dilaksanakan Secara Massal, Peserta dari Berbagai Wilayah  

I Putu Mardika • Selasa, 12 Agustus 2025 | 03:21 WIB

Prosesi Sapuleger di Pura Siwa Manik Dalamh
Prosesi Sapuleger di Pura Siwa Manik Dalamh
BALIEXPRESS.ID-Upacara Nyapuleger massal kembali dilaksanakan di Pura Siwa Manik Dalang, Desa Pemaron, Kecamatan/Kabupaten Buleleng pada Senin (11/8) pagi. Selama satu minggu kedepan, sejumlah masyarakat yang lahir di Wuku Wayang akan melaksanakan Nyapuleger di Pura ini.

Ritual sapuleger ini memang rutin dilaksanakan saban Wuku Wayang. Peserta nyapuleger ini berasal dari berbagai kalangan dan wilayah di Bali.

Pada Senin ini, sebanyak 4 orang mengikuti upacara Nyapuleger. Mereka berasal dari Jinengdalem, Kaliasem, Sambangan dan Desa Poh Bergong.

Sebut saja Putu Sri Utama, 52. Warga desa Kaliasem ini bahkan dua orang anaknya lahir di Wuku Wayang, yakni pada hari senin dan hari Jumat. Maka, kedua anaknya harus mengikuti prosesi sapuh leger.

“Yang kakaknya lahir Jumat, kemudian adiknya lahir senin Wayang. Hari ini (Senin, Red) adiknya nyapuleger duluan, lalu jumat nanti, kakaknya,” katanya

Menurutnya, program Nyapuleger massal di Pura Siwa Manik Dalang sangat meringankan masyarakat yang akan Nyapuleger. Sebab, jika dilaksanakan secara mandirinya, upacara ini bisa menelan biaya hingga puluhan juta.

“Kalau di sini, hanya bayarnya sekitar Rp 6,6 juta. Tingga kami di rumah buatkan banten piuning saja,” katanya

Di sisi lain, Pemedek yang tangkil bukan hanya melaksanakan upacara Nyapu Leger. Tetapi juga ada yang melaksanakan upacara melukat di depan paduraksa yang merupakan batas antara Utama Mandala dengan Madya Mandala. Usianya pun beragam. Mulai dari anak-anak balita hingga para lansia.

Sekertaris Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang, Nyoman Sudiarta menjelaskan Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang hanya satu-satunya ada di Bali. Ada empat pelinggih di areal Jeroan atau Utama Mandala.

Yakni Pelinggih Dewa Bagus Manik Dalang, Dewa Ayu Manik Mas Anglayang, Pelinggih Taksu Agung atau Taksu Gede/Taksu Bagus Semar untuk memohon seni Pedalangan dan Pelinggih Padmasana. Sedangkan di areal jaba (nista mandala) hanya ada Pelinggih Penglurah Patih Agung.

Bila ditelisik, di Pelinggih Dewa Bagus Manik Dalang ini terdapat wayang kulit yakni Tualen (Ismaya) dan Bhatara Guru (Siwa). Wayang Kulit yang dipajang itu merupakan persembahan dari Jro Dalang.

Pria asal Mengwi, Badung ini menyebut pemedek yang nangkil memang tidak hanya bertujuan untuk sembahyang. Tetapi juga untuk melukat bagi yang terlahir di Wuku Wayang. Namun, ada pula yang bertujuan menggelar ritual Nyapu Leger, khususnya bagi pemedek yang usianya sudah menginjak 13 tahun ke atas.

Khusus yang berminat Nyapu Leger, mereka memang wajib usia minimal 13 tahun. Karena pertimbangannya juga sudah beranjak remaja atau akil balig. Aturan usia ini berlaku baik bagi pria dan wanita. “Kalau lebih (di atas usia 13 tahun, Red) boleh. Mereka itu datang dari berbagai wilayah di Bali,” katanya.

Selain mengatur soal usia minimal, pemedek yang hendak mengikuti ritual Nyapu Leger harus medaftar terlebih dahulu. Minimal enam bulan sebelum dilaksanakan. Bahkan, bisa mendaftar langsung saat Pujawali pada Wuku Wayang. Kemudian Nyapu Leger akan dilaksanakan enam bulan kedepan.

“Nanti masalah pelaksanaannya sesuai dengan harinya. Kalau hari minggu lahirnya, maka pelaksanannya Nyapu Leger hari Minggu. Begitu juga kalau lahir hari Senin hingga sabtu, maka dilaksanakan berdasarkan atas hari kelahirannya,” sebutnya.

Jumlah pemedek yang mengikuti upacara Nyapu Leger pun tidak tentu. Kadang-kadang pada hari Minggu bisa dua orang, Senin tiga orang, begitu seterusnya sampai Sabtu. Tentu biaya yang dikeluarkan  bisa beragam. Bergantung jumlah pemedek.

Dikatakan Sudiarta, setiap sekali Nyapu Leger bisa membutuhkan biaya Rp 15 juta. Prajuru pun melakukan subdisi silang dalam pelaksanaannya ini. Sehingga bisa meringankan pemedek dalam melakukan upacara Nyapu Leger.

“Semisal, kalau Rp 15 juta dikali 7 hari atau awuku Wayang. Setelah dikalkulasi, barulah biaya total dibagi jumlah peserta yang Nyapu Leger selama 7 hari di wuku Wayang. Makanya biayanya per orang bisa mencapai Rp 6 jutaan. Nah kalaupun satu hari hanya satu orang pesertanya, maka sudah pasti akan tetap berjalan. Karena memang sudah berlaku subsidi silang,” paparnya.

Ia menyebutkan, kelahiran di Wuku Wayang dalam berbagai sastra seperti Kala Purana, Puja Kalla Tattwa disarankan untuk meruwat dengan upacara Nyapu Leger. Sehingga orang yang terlahir pada wuku wayang mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dari sisi kesehatan, rejeki, hingga usia.

“Biasanya orang menggelar Nyapu Leger secara mandiri, hanya saja biayanya memang lumayan besar. Tetapi, kami sudah memberikan solusi, untuk menekan biaya itu, lewat upacara di Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang,” sebutnya.

Prajuru Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang Pemaron juga melibatkan Jro Dalang dalam upacara Nyapu Leger. Dengan catatan, mereka disebut sebagai Dalang Samirana dan paham tentang Dharma Pewayangan.

Dikatakan Nyoman Sudiarta, Jro Dalang yang kerap dilibatkan dalam Nyapu Leger rata rata berasal dari Buleleng. Ada dari Banjar, Anturan, Tukad Mungga, Desa Pemaron hingga dari Air Sanih.

“Dalangnya yang ditunjuk itu dikordinasi oleh prajuru. Secara bergiliran dalam satu Minggu saat Wuku Wayang. Durasinya memang sangat ditentukan oleh para dalang dalam nyolahang wayang” jelasnya.

Ia menambahkan, prosesi atau pailen acara Nyapu Leger di Pura Siwa Manik Dalang biasanya dimulai dari jam 11.00 siang sampai selesai. Pertimbangannya memang karena mencari waktu kala sehingga melewati jejeg ai atau pukul 12.00 Wita.

Banten Nyapu Leger disiapkan oleh Prajuru dari biaya yang dibebankan. Sedangkan peserta yang Nyapu Leger cukup hanya membawa banten Peras Pejati satu buah sebagai piuning. Selain itu, mereka juga wajib membawa tirta upasaksi dan menggunakan saput poleng ketika ritual Nyapu Leger dilaksanakan.

Ritual ini dilaksanakan di areal Madya Mandala. Peserta yang diruwat  wajib mengenakan saput poleng di depan Bale Anyar tempat Dalang Samirana nyolahang Wayang Sapuh Leger. Bebantenan juga sudah disiapkan di areal tersebut. Selain itu, ada pula pihak keluarga dari peserta yang turut menyaksikan proses ruwatan dilaksanakan.

Sementara berlangsung prosesi ruwatan, masyarakat atau pemedek yang bukan peserta Nyapu Leger juga bisa mengikuti persembahyangan secara bertahap yang dipimpin oleh para pemangku di Pura Siwa Manik Dalang.

Bagi yang hendak melukat karena terlahir di Wuku Wayang, mereka akan digiring ke depan Paduraksa yang merupakan batas antara Madya Mandala dengan utama Mandala. Sudiarta menyebut, krama yang nangkil dan melukat disarankan untuk membawa banten Peras Pejati, peras Tataban, Tipat Gong dua, Ajengan, Bunga warna solas, Tunjung, Dadap dan Lalang. “Nanti dilukat sama Jro Mangku,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #Pura Siwa Manik Dalang #Nyapuleger #pemaron