Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Manggala Desa Petang Dasa di Suwug, Berjumlah 40 Orang, Dipilih saat Purnama Kaulu  

I Putu Mardika • Kamis, 14 Agustus 2025 | 04:18 WIB

Pura Bale Agung di Suwug tempat pelaksanaan Tradisi Manggala Desa Petang Dasa
Pura Bale Agung di Suwug tempat pelaksanaan Tradisi Manggala Desa Petang Dasa
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Suwug, Kecamatan Sawan, Buleleng, menyimpan sebuah tradisi unik bernama manggala desa petang dasa.

Tradisi ini merupakan pembentukan kelompok beranggotakan 40 orang, yang dipilih secara bergiliran setiap tahun bertepatan dengan rahina Purnama Kaulu, hari lahir Desa Adat Suwug.

Tradisi ini bukan sekadar penunjukan jabatan adat, tetapi sebuah rangkaian ritual sakral yang telah diwariskan turun-temurun sejak awal berdirinya desa. Konon, jumlah penduduk pertama Desa Suwug hanya 40 orang. Jumlah inilah yang diabadikan menjadi formasi tetap manggala desa.

Tokoh Adat Suwug, Jro Wayan Mudita menjelaskan pergantian anggota manggala desa petang dasa selalu dirangkaikan dengan tradisi ngelawar intaran, yaitu membuat lawar menggunakan daun intaran (mimba) yang memberikan cita rasa khas. Hidangan ini menjadi simbol kekuatan, kesucian, sekaligus kebersamaan warga desa.

Keunikan manggala desa petang dasa juga terlihat dari prosesi ritualnya. Sebelum mulai ngayah, para anggota menjalani mejaya-jaya.

Mereka wajib mengikuti sangkep rutin setiap Purnama dan Tilem, serta hadir dalam seluruh upacara desa adat hingga rampung.

Para manggala lanang tampil dengan busana khas: saput poleng bermotif kotak-kotak, baju dan udeng putih, bunga pucuk merah, serta membawa keris. Busana ini menjadi identitas saat melaksanakan ngayah di pura.

Tradisi bermula dari kisah Anglurah Braban Watu Lepang yang memerintahkan Patih Ki Intaran untuk menangkap Ki Lebah.

Meski berhasil ditawan, Ki Lebah lolos dan melarikan diri ke Bengkala. Murka, Anglurah memerintahkan 40 pasukannya untuk menghukum Ki Intaran.

Empat puluh pasukan inilah yang kemudian diyakini menjadi cikal bakal manggala desa petang dasa.

Sejak peristiwa itu, Desa Suwug dan Bengkala menjalin hubungan budaya. Warga Bengkala memiliki kewajiban membawa keris ke Pura Lebah saat piodalan, sebagai penghormatan sejarah.

Proses pemilihan anggota manggala desa dimulai dari penunjukan oleh kelian desa adat, yang kemudian diteruskan kepada kelian banjar adat untuk disampaikan kepada warga yang mendapat giliran. Pemberitahuan dilakukan sebulan sebelum pergantian.

Selanjutnya, calon anggota baru diundang ke Pura Desa untuk mesakapan widhi, ritual memohon izin kepada sesuunan agar dapat munggah ke Bale Lantang Agung. Prosesi ini hanya diikuti oleh pasangan suami istri yang sudah menikah.

Selama satu tahun masa baktinya, manggala desa melaksanakan sangkep rutin setiap 15 hari, selain membantu dalam seluruh upacara desa.

Menjelang akhir masa jabatan, mereka mengikuti metata linggih pada Purnama Kaulu.

Rangkaian metata linggih diawali dengan mendak mengelilingi Pura Desa, persembahyangan bersama, dan pembacaan awig-awig oleh Jro Penyarikan Gede.

Kelian Desa Adat memberikan sambutan, dilanjutkan pertunjukan budaya seperti tari tumbak dan sayut gong.

“Puncaknya adalah serah terima keris sebagai simbol peralihan tanggung jawab dari anggota lama kepada anggota baru,” paparnya.

Ritual sangkep sendiri dibedakan waktunya. Pada rahina Purnama, sangkep diadakan di Pura Desa pukul 12.00 WITA dengan suguhan jajan kukus ketan.

Pada rahina Tilem, sangkep digelar di Pura Dalem pukul 08.00 WITA dengan suguhan nasi sangkepan.

Pelaksanaan sangkep terdiri dari tiga tahap. Tahap awal dimulai dengan nimbang jajan menggunakan keranjang dan batu sungai seberat 5 kilogram.

Setelah itu, nanding jajan dilakukan dengan menata 55 tanding jajan kukus di atas daun pisang.

Sembilan tanding di antaranya disiapkan khusus dengan parutan kelapa bercampur gula merah, garam, kwangen, lekesan, dan tuak manis dalam beruk untuk dihaturkan ke piasan pura.

Tahap inti diawali dengan bunyi kulkul tanda dimulainya acara. Prewayah desa dan manggala lanang duduk di Bale Lantang, melakukan absensi, lalu persembahyangan bersama yang dipimpin Jro Bendesa Adat.

Rangkaian persembahyangan meliputi piuning banten sangkep, Tri Sandya, dan Panca Kramaning Sembah. Setelah itu, mesadu ajeng atau makan bersama dilakukan menggunakan hidangan yang disiapkan manggala istri.

Sebelum makan, krama istri (saye) membawakan pewajikan untuk cuci tangan. Usai santap, pewajikan kembali dibawakan sebelum mereka berdiskusi tentang agenda dan masalah desa.

Paruman ini kemudian dibawa oleh prewayah untuk dibahas lebih lanjut dalam paruman bersama pengurus desa adat.

Tahap akhir sangkep adalah prosesi nunas tirta dan bija sebagai simbol penyucian diri. Dilanjutkan pengumuman giliran manggala istri yang akan bertugas sebagai saye pada pertemuan berikutnya.

Acara ditutup dengan sembahyang mepamit sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan. Setelah prosesi selesai, seluruh peserta kembali ke rumah dengan rasa tenteram.

"Bagi masyarakat Desa Adat Suwug, manggala desa petang dasa bukan sekadar tatanan biasa, tetapi punya tanggung jawab dalam proses ritual di Suwug," tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Manggala Desa Petang Dasa #sawan #ngelawar intaran #Suwug #buleleng