BALIEXPRESS.ID-Pura Yeh Gangga terletak di Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Pura ini konon ditemukan pada tahun 1920 dan didirikan di dekat Sungai. Di Pura ini ditemukan sinkretisme antara Hindu-Budha di Perean.
Tidak sulit mengakses pura ini. Lokasinya berada di tepi jalan. Pemedek yang nangkil bisa mengakses dengan berbagai moda transportasi.
Keberadaan Pura Yeh Gangga sangat erat dengan perjalanan Kebo Iwa melaksanakan perjalanan keliling Bali. Sebelum memasuki pura, pemedek bisa melakukan penglukatan.
Posisi penglukatan bisa diakses dengan menuruni anak tangga. Jaraknya tidak begitu jauh dengan pura. Sesampai di lokasi ini, ada banyak pancoran untuk penglukatan.
Sebelah kiri bisa digunakan untuk masyarakat umum, dan di sisi kanan menjadi sumber air suci yang digunakan untuk persembahyangan.
Baca Juga: AeroXSpace Adventure Rayakan Satu Tahun Hadir di Bali
Sedangkan tiga pancuran utama yang berada di sisi utara digunakan sebagai sarana upacara keagamaan. Bahkan, ada yang meyakini, jika sumber air suci ini untuk memohon keturunan.Air ini juga bisa langsung diminum.
Pelinggih utama di Pura ini adalah Meru tumpeng pitu dan merupakan pemujaan terhadap Siwa Budha. Memasuki areal pura juga terdapat bukti Sejarah Pura Yeh Gangga yang berupa batu bertulis angka tahun
Tumpukan batu berbentuk padma ini berisi tulisan angka yang menandakan tahun pembuatan, yakni 1261 Caka atau 1339 Masehi. Batu ini juga sebagai penanda didirikannya Pura Yeh Gangga.
Meru tumpeng tujuh di pura ini juga diyakini bertalian dengan lingga yang terdapat di dalam Meru sebagai perwujudan Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Kemudian di sisi timur laut, Meru tumpang pitu terdapat Padmasana
Di depan candi terdapat patung gajah. Dan di atas patung hgajah terdapat relief Dwarapala atau kala yang banyak ditemukan di candi-candi kawasan Jawa Timur.
Sebelah sisi utara, ada pelinggih Gedong Sari, yang merupakan stana Dewa Wisnu sebagai pemelihara. Di dalam gedong sari terdapat satu arca dan dua buah lingga.
Di sisi barat terdapat pelinggih yang merupakan stana dari Dewa Mahadewa sebagai Pelebur. Di sisi selatan Meru terdapat pelinggih arca dan lingga sebagai stana Dewa Brahma.
Pura Yeh Gangga juga secara spiritual ada kaitannya dengan Pura Semeru dan Sungai Gangga di India. Pujawali di Pura Yeh Gangga pada Tumpek Kuningana tau bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, setiap 210 hari.
Masyarakat Hindu dan Buddha di Desa Perean Tengah umumnya sudah secara turun temurun melaksanakan persembahan pada Pura Yeh Gangga yang pada palinggih Meru yang menggabungkan dua unsur ini
Kedatangan ajaran Buddha di Desa Perean secara umum dapat dimulai dari adanya Pengaruh Siwa-Buddha yang meluas pada masa Kerajaan Raja Udayana dan Permaisurinya Sri Gunapriya Dharmapatni pada abad-11.
Raja Udayana yang menganut ajaran Buddha Mahayana dan Sri Gunapriya Dharmapatni Menganut ajaran Tantrisme, maka diperkirakan ajaran Buddha masuk dan berkembang di Desa Perean bersamaan dengan pemerintahan Raja Udayana di Bali.
Baca Juga: Kembar Ukraina Bersaksi Otak Pabrik Narkoba di Tibubeneng Bernama Oleg Tkachuk
Sang Ratu Maharani Sri Dharmayodana Warmadewa atau biasa disebut Udayana adalah penguasai pulau Bali yang dikenal sebagai penganut sekte Buddha Mahayana dan istrinya Sri Gunapriya Dharma Patni yang menganut ajaran Tantrik yang memerintah pada periodesasi tahun 989-1011 yang tertulis pada prasasti Bali kuno
Cendikiawan Hindu, I Gede Arum Gunawan menjelaskan, masuknya ajaran Siwa-Buddha di Desa Perean secara histori diprediksi dari bentuk bangunan suci yang ada di Pura Yeh Gangga desa Perean yang menyerupai candi peninggalan wangsa isyana di daerah Jawa Timur.
Jika ditarik garis hubungan di Bali yang memiliki hubungan erat dengan Jawa timur pada saat itu adalah raja udayana karena perkawinan beliau dengan Sri Gunapriya Dharma Patni yang merupakan saudara dari raja Dharmawangsa Teguh di jawa timur, darisanalah dirunut dan diduga ajaran Siwa-Buddha mulai berkembang pada masa kerajaan Udayana pada abad-11 di daerah ini.
Pada masa tersebutlah kedua agama Hindu dan Buddha tumbuh dalam suatu lingkungan yang juga telah mengembangkan sistem kepercayaanya, dalam perkembangan kedua agama tersebut saling memberi pengaruh.
Sinkretisasi ajaran Siwa-Buddha di Pura Yeh Gangga dapat dilihat dengan ditemukannya relief yang diperkirakan bercorak Buddha, posisi bangunan yang berada di barat dan menghadap ketimur memiliki kemiripan peninggalan candi yang berada di daerah Jawa Timur.
Dengan demikian sangat dimungkinkan memiliki kaitan erat dengan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di daerah Jawa Timur pada saat itu, jika ditarik garis lurus pada saat Raja Udayana, Bali dan Jawa Timur memiliki hubungan yang sangat erat karena memperistri Sri Gunapriya Dharma Patni yang merupakan saudara dari raja Dharmawangsa Teguh di jawa timur.
Baca Juga: DPRD Badung Minta Pemkab Tinjau Ulang Kenaikan NJOP dan PBB-P2: Masyarakat Mohon Bersabar
Darisanalah dirunut dan diduga Bangunan suci ini dibangun pada masa kerajaan Udayana pada abad-11
Sinkristisasi yang terjadi di Pura Yeh Gangga, menyebabkan tumbuh dua tradisi berbeda dalam satu ruang lingkup wilayah Pura Yeh Gangga. Tradisi yang dimaksud adalah tradisi bakar kertas emas yang dilakukan pada Pujawali/Piodalan di Pura Yeh Gangga.
“Upacara pujawali di Pura Yeh Gangga ini menunjukan pengaruh Hindu dalam hal ritual sedangkan tradisi bakar kertas emas merupakan tradisi asli dari masyarakat Tiongkok,” sebutnya.
Wujud Sinkretisasi Siwa-Buddha di Pura Yeh Gangga berupa Meru Tumpang Pitu yang memiliki perbedaan pada bagian dasar yang berbentuk Landasan sebuah Stupa yang berbeda dari pura pada umumnya di Bali.
Bangunan Meru yang terdapat pada Pura Yeh Gangga memperlihatkan proses Sinkretisasi antara agama Hindu dan Buddha.
“Bukti lain keberadaan Sinkretisasi Siwa-Buddha adalah dalam pelaksanakan pemujaanya karena sangat diyakini oleh masyarakat yang bersthana pada Meru Tumpang Pitu tersebut Shang Hyang Siwa-Buddha,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika