Pura ini menyimpan sejarah panjang yang bermula dari masa kerajaan Karangasem di Bali. Keberadaannya tidak hanya penting secara religius, tetapi juga memiliki nilai historis, budaya, dan spiritual yang tinggi.
Secara historis, Pura Lingsar Ulon didirikan oleh Anak Agung Ketut Karangasem. Sementara itu, Taman Lingsar yang berada sekitar 100 meter di sebelah baratnya, dibangun oleh Anak Agung Anglurah Karangasem pada tahun 1714.
Keduanya menjadi saksi bisu hubungan erat antara kerajaan Karangasem Bali dengan masyarakat Sasak di Lombok. Tidak heran jika pura ini menjadi lambang toleransi dan akulturasi budaya di Nusa Tenggara Barat.
Nama Lingsar sendiri menyimpan makna mendalam. Secara etimologi, kata ini berasal dari bahasa Kawi dan Sanskerta.
Kata “Ling” berarti ucapan atau sabda, sedangkan “Sar” merujuk pada air atau sesuatu yang mengalir. Keduanya dipadukan menjadi simbol suara atau wahyu yang mengalir jernih.
Dalam bahasa Sasak, istilah Lingsar disebut “Aik Mual” yang berarti air yang melimpah. Penyebutan ini menegaskan hubungan erat pura dengan sumber kehidupan.
Dari pemaknaan tersebut, Pura Lingsar dipandang sebagai pura yang berhubungan dengan air dan kesuburan. Tak heran bila masyarakat menempatkannya sebagai Pura Ulunsuwi, pura yang erat kaitannya dengan pertanian.
Pemangku Pura Lingsar, Jero Mangku Gede Rai menjelaskan, hubungan Pura Lingsar dengan dunia agraris semakin nyata dalam tradisi Perang Topat. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Hindu Bali dan Islam Sasak.
Perang Topat bukan sekadar pertarungan, melainkan doa bersama untuk kesuburan tanah dan panen yang melimpah. Inilah wujud kerukunan religius yang tumbuh dari akar tradisi lokal.
Secara arsitektur, Pura Lingsar memiliki struktur yang unik. Kompleksnya terbagi dalam lima halaman dengan fungsi masing-masing.
Halaman luar atau Nista Mandala difungsikan sebagai ruang terbuka. Di sini terdapat Balai Wantilan yang kerap digunakan untuk pementasan seni dan budaya.
Memasuki halaman kedua, pengunjung disambut candi bentar yang megah. Patung raksasa Dwara Phala berdiri gagah di sisi pintu masuk, menjadi penjaga simbolis kawasan suci.
Di halaman ini terdapat dua telaga besar yang mengapit jalan menuju ruang selanjutnya. Kedua telaga ini mempertegas hubungan pura dengan unsur air.
Halaman ketiga dipenuhi pohon manggis dan tanaman hias. Nuansanya teduh, memberi ketenangan bagi umat maupun pengunjung.
Di bagian barat halaman ini berdiri bangunan semacam balai pertemuan. Tempat ini digunakan oleh umat Sasak Wetu Telu, berdampingan dengan kompleks perumahan pemangku Kemaliq.
Menuju halaman keempat, pengunjung kembali melewati candi bentar dengan ukuran lebih kecil. Ruang ini dikenal dengan nama Bancingah Pura Lingsar.
Di Bancingah terdapat tiga bangunan utama: dua Bale Jajar dan satu Bale Bundar. Bale-bale ini berfungsi sebagai tempat beristirahat umat serta ruang kegiatan seni.
Tanah di kawasan Bancingah sedikit berbukit, menciptakan perbedaan ketinggian antara Bale Jajar dan Bale Bundar. Tata ruang ini menambah keunikan arsitektur pura.
Dari Bancingah, terdapat tiga pintu candi kurung atau Candi Agung yang berderet dari utara ke selatan. Pintu-pintu ini menjadi akses menuju halaman utama pura.
Candi Agung yang mengarah ke Pura Gaduh menampilkan relief khas Hindu Bali. Sepasang patung dwarapala atau patung raksasa berdiri di kanan-kiri pintu sebagai penjaga.
Pintu berikutnya, menuju kompleks Kemaliq, juga dihiasi patung dwarapala atau raksasa. Bedanya, di bagian puncak terdapat patung binatang yang menyerupai anjing hutan.
Pintu terakhir mengarah ke kompleks Pesiraman. Bentuknya lebih sederhana, tetapi tetap mencerminkan gaya arsitektur Bali.
“Pura Gaduh sendiri merupakan pusat persembahyangan umat Hindu. Di dalamnya terdapat pelinggih-pelinggih suci untuk pemujaan Betara Gunung Agung, Gunung Rinjani, hingga Betara Alit Sakti,” paparnya.
Kompleks Kemaliq menjadi ruang unik yang mencerminkan akulturasi budaya. Bagi umat Hindu, tempat ini adalah stana Ida Sang Hyang Widhi. Sementara bagi umat Sasak Wetu Telu, ia menjadi sarana penghubung dengan Allah SWT.
Di area Kemaliq terdapat batu-batu suci yang disebut Petaulan. Bagi umat Hindu, batu ini adalah pratima, sementara bagi umat Sasak, ia menjadi simbol tali penghubung dengan Tuhan.
Tak jauh dari sana, sebuah telaga dengan arca Garuda Wisnu dan Batari Gangga menjadi pusat pemujaan air kehidupan. Simbol ini memperkuat makna kesejahteraan dan kemakmuran.
Kompleks Pesiraman juga memiliki peran penting. Kawasan ini terbagi menjadi dua, yakni pesiraman laki-laki dan perempuan.
Di sini terdapat sembilan pancuran suci yang disebut Pancoran Siwa. Lima pancuran diperuntukkan bagi laki-laki, sedangkan empat untuk perempuan.
Selain sebagai tempat penyucian diri sebelum bersembahyang, pancuran ini dahulu juga menjadi pemandian keluarga kerajaan Karangasem.
Pesiraman dipercaya pula memiliki kekuatan penyembuhan. Cerita rakyat menyebutkan, ada orang yang sembuh dari penyakit setelah mandi di pancuran ini.“Kepercayaan itu membuat masyarakat hingga kini masih meyakini kesucian air Pesiraman Lingsar,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika