Anak Agung Ngurah Adnya Praba dari Puri Kerambitan menjelaskan Tektekan adalah bunyi-bunyian yang timbul dari suara bambu, tek, tek, tek yang merupakan sekumpulan kulkul yang ditabuh beramai-ramai.
Nektek berarti membunyikan gamelan dari bambu yang maksudnya adalah untuk menetralisir energi negatif. Tektekan dapat diartikan sebagai jenis gamelan dari bambu,
Ia menjelaskan, nektek merupakan tradisi yang turun temurun di Desa Kerambitan yang bangkit pada zaman pemerintahan Ida Anglurah Gede Taman.
Pada perhitungan sistem kalender Bali, sasih merupakan hal yang dominan dalam sistem padewasan di Bali, khususnya di Desa Kerambitan.
Pada sasih ke 6 diadakan ritual di masing-masing Prahyangan yang disebut mererebhu bhumi.
“Karena dianggap sasih ke 6 sasih yang wayah sampai pada sasih kasanga, sehingga perlu diadakan ritual menyucikan bhuwana agar tidak terjadi hal-hal yang buruk di masyarakat,” ujarnya.
Pada awal sasih ke-6 dianggap sasih wayah maka mulailah dilaksanakan kegiatan nektek pada saat sandikala atau peralihan dari sore ke malam. Uniknya, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, mengambil benda-benda yang bisa menimbulkan bunyi.
Mereka secara berkelompok mengelilingi desa untuk mentralisir kekuatan negatif (bebhutan) supaya tidak menganggu kehidupan masyarakat desa dan itu dilakukan setiap hari nyaluk "Sandikalaning Jagat".
Pementasan tektekan berawal dari Saren Gong. Saren Gong memiliki taksu sehingga tidak mudah dilupakan oleh masyarakat Desa Kerambitan. Kalau sudah mendengar Saren Gong berarti teringat peristiwa sejarah di masa lalu yaitu terjadinya peristiwa grubug sampai banyak menelan korban jiwa.
“Keberadaan Saren Gong sekarang sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Kerambitan, di tempat ini merupakan linggih sesuhunan yang disebut Ida Bhatara Biang Sapuh Jagat (berwujud rangda) dan barong macon (barong berkepala macan), dan peranakan (tokoh panakawan),” paparnya.
Selain linggih Ida Bhatara, banyak juga tersimpan perangkat gamelan tektekan yang taksunya dapat disejajarkan dengan perangkat gamelan yang dipakai nektek sekarang.
Selain perangkat gamelan tektekan di dalamnya juga tersimpan perangkat topeng atau iringan Ida Bhatara sesuhunan juga sangat dikeramatkan oleh masyarakat Desa Kerambitan.
Upacara piodalan dilaksanakan setiap enam bulan sekali tepatnya pada Tumpek Klurut. Ketika itu, masyarakat Kerambitan dan luar Kerambitan banyak yang tangkil bersembahyang untuk memohon keselamatan kepada Ida Bhatara sesuhunan dan menyaksikan Ida Bhatara mesolah hal ini merupakan rutinitas setiap piodalan.
Sesepuh Puri Kerambitan, Anak Agung Ngurah Adnya Praba menambahkan, prosesi membuat Tektekan diawali upacara yang disebut dengan upacara ngaturang pejati.
Ritual ini dilakukan tempatnya persis di bawah pohon bambu sebagai wujud atur piuning untuk memohon keselamatan kepada yang menghuni tegalan sehingga yang mencari bahan menjadi selamat.
Selain dari itu agar batang bambu yang akan digunakan sarana tektekan dapat memiliki taksu (kekuatan gaib yang memiliki jiwa).
Kegiatan ini dilaksanakan oleh jero mangku Saren Gong yang memang kesehariannya bertugas melakukan ritual yang berkaitan dengan Saren Gong.
Usai melakukan ritual baru dilanjutkan mepersiapkan jan (alat panjat) sebagai sarana untuk memilih pohon bambu yang baik dan berkualitas sehingga dapat mengeluarkan bunyi nyaring ketika dipukul.
“Jenis bambu yang dipilih adalah bambu yang umurnya tua. Jenis pohon bambu disebut dengan bambu ori.
Bambu ditebang secukupnya, rantingnya dibersihkan dan dicuci, selanjutnya diangkut ke Saren Gong.
Sebelum sampai di Saren Gong sudah disiapkan ritual yang dilaksakanoleh jero mangku yang disebut dengan ritual ngulap ambe dengan banten pengambean.
Tujuan dari ritual ini dilaksanakan adalah sebagai pembersihan sarana kentongan agar tidak cemer.
Sebelum dipotong, bambu dibersihkan dengan air untuk menghilangkan kotoran yang melekat. Bambu diberikan ukuran selanjutnya dipotong dengan gergaji.
Teknik melobangi dengan pahat dan sayatan pisau pengutik sebagai alat penghalus lubangjuga memerlukan ketrampilan khusus. Kesalahan melobangi akan berpengaruh terhadap suara kentongan.
Pembuat biasanya beberapa kali mencoba dengan memukul kentongan untuk menentukan pilihan suara, apakah sudah nyaring atau belum, demikian dilakukan secara berulang sampai menghasilkan suara nyaring.
“Kulkul dalam instrumen tektekan dengan ukuran panjang 30 em dan diameter kurang lebih 1 cm,” sebutnya.
Ada upacara yang disebut dengan upacara ngulap ambe merupakan upacara penyucian terhadap perangkat tektekan yang berupa kulkul, prosesi ini juga dilakukan oleh pemangku dan pemucuk-pemucuk Saren Gong.
Para pemucuk melakukan persembahyangan bersama guna memohon agar perangkat tektekan yang baru memiliki kesamaan taksu dengan perangkat yang lainnya.
“Terakhir dilakukan penyimpanan perangkat dan diletakan bersama-sama dengan perangkat yang lainnya di tempat suci genah Ida Bhatara Saren Gong yang sangat disakralkan oleh masyarakat desa Kerambitan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika