Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Ngelungah pada jenazah Bayi: Gunakan Sarana Utama Nyuh Gading, Diawali Ngenteni

I Putu Mardika • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 02:17 WIB

prosesi Ngelungah merupakan penyucian bagi anak yang meninggal sebelum meketus, sehingga dilambangkan dengan kelungah (kelapa muda).
prosesi Ngelungah merupakan penyucian bagi anak yang meninggal sebelum meketus, sehingga dilambangkan dengan kelungah (kelapa muda).

BALIEXPRESS.ID-Ritual Ngelungah merupakan penyucian bagi anak yang meninggal sebelum meketus, sehingga dilambangkan dengan kelungah (kelapa muda). Kelungah ini digunakan sebagai tirta pengentas sehingga disebut Ngelungah.

Sarati banten Jro Ketut Utara mengatakan, Ngelungah secara umum dibagi menjadi dua yaitu Upacara Ngelungah bagi jenazah anak yang telah meninggal dimakamkan terlebih dahulu dan upacara Ngelungah yaitu membakar jenazah anak terlebih dahulu

Perbedaannya, jika Ngelungah yang didahului dengan proses penguburan terlebih dahulu diiringi dengan upacara Ngentenin. 

Sedangkan upacara Ngelungah dengan membakar jenazah anak secara langsung tidak mengandung upacara Ngentenin

Ia mengatakan, umumnya upacara Ngelungah dilaksanakan dengan beberapa tahapan.

Mulai dari empersiapkan adegan Pengelungahan, Ngentenin, Pengesengan, Nganyud dan tahap akhir sebagai Pemuput.

Pembuatan adegan pengelungahan atau penghias kwangen pengelungahan biasanya dilakukan oleh Sulinggih.

Baca Juga: Terbesar di Indonesia, Portofolio Sustainable Finance BRI Capai Rp807,8 Triliun

Adegan pengelungahan digunakan sebagai tempat atau linggih orang yang meninggal namun belum ketus gigi (gigi tanggal).

Adegan pengelungahan terbuat dari kelapa muda (nyuh gadang) yang dilengkapi dengan rerajahan.

Bagian Kelungah yang dirajah diantaranya pada bagian luar tutup kelungah, di dalam tutup kelungah dan pada badan luar kelapa.

Selain rerajahan, di dalam kelungah juga terdapat panca datu (isin sesimpen), emas, perak, slaka, tembaga, akah-akah, dan tanah serta beralaskan kain putih merajan padma.

Isi dan dasar dari Kain putih tersebut dimasukkan ke dalam kelapa muda yang masih hijau (kelungah) dan ditambah dengan tiga lembar daun dapdap, tiga lembar daun bunut, menori.

Baca Juga: Tragis! Niat Temani Anak Wisuda Pupus, Warga Kusamba Justru Tewas Tertabrak Truk

“Kelungah dibungkus dengan kain putih kain kuning dan menggunakan sok Padma sebagai alasnya. Di atasnya dihiasi dengan bunga emas, seperti bunga kenanga (sandat), bunga cempaka putih (cempaka putih), dan bunga kamboja Bali, dan tongkat berisi pipil (nama anak siapa yang meninggal). Dalam pembuatan pengelungahan diatas dibuat banten pejatian,” ungkapnya.

Prosesi Ngentenin atau ngulapin dilakukan di kuburan yang dilaksanakan tiga hari sebelum upacara pengelungahan.

Kemudian prosesi selanjutnya adalah ngaturang piuning ke Pura Dalem dan Pura Prajapati .

“Upacara Ngentenin bertujuan untuk memanggil atau memohon arwah orang tersebut untuk beristirahat (berstana) dalam lingga (adegan) yang digunakan sebagai simbol tubuh almarhum,” paparnya.

Setelah prosesi saat Ngentenin di kuburan usai, kemudian kembali ke rumah. Jika tingkat banten arepan mebabangkit, perlu dilakukan pemrelina oleh Ida Sang Sulinggih. Jika tidak, maka tidak perlu dilakukan pemerelina oleh Ida Sang Sulinggih.

Tahap selanjutnya adalah pengesangan dengan cara membakar tubuh simbolis mendiang anak yang meninggal.

Sarananya menggunakan kelungah (Nyuh Gadang). Prosesinya, adegan pengelungahan dibawa kembali ke kuburan.

Baca Juga: Kecelakaan Tunggal di Jalur Denpasar–Gilimanuk, Pemotor Asal Pekutatan Tewas di Tempat

Isi kelungah dibakar di atas pasepan merajah Padma. Kemudian abunya diambil dengan sendok ental.

Setelah itu ditumbuk dengan tebu, dan disiram dengan air belonyoh yang terbuat dari air kelungah yang telah dihaluskan diberi mantra oleh Ida Sang Sulinggih.

Setelah upacara selesai, abu dari pembakaran dimasukkan ke dalam kelungah yang digunakan sebagai adegan pengelungahan.

Selain cara pengesengan menggunakan kelungah, ada juga cara pengesengan dengan cara membakar jenazah sang anak secara langsung tanpa melalui proses penguburan bersama

“Mapiuning ke Pura Dalem dan Pura Prajepati, Pembuatan adegan pengelungahan, Upacara pangesengan didahului dengan Nyiraman Layon

Usai pangesengan dilanjutkan dengan prosesi Ngeringkes. Setelah upacara pembersihan, jenazah akan dikirim ke kuburan (Setra). Sesampainya di Setra, jenazah dibawa dan diputar sebanyak tiga kali dalam pangesengan, kemudian diletakkan di dalam pangesengan.

Sarana dipercikkan berbagai jenis tirta. Seperti tirta kawitan, tirta pangentas, tirta kahyangan tiga, serta rantasan dengan penempatan adegan pengelungahan di atas tubuh anak dan dibakar.

Setelah menjadi abu kemudian disiram dengan air dan ditutup dengan daun buah dengan daun dapdap.

Kemudian, galih atau tulang dikumpulkan dan dirangkai di atas kain putih yang diisi 23 buah kwangen.

Setelah itu, dihancurkan menggunakan sesenden dan tebu, kemudian abunya dimasukkan kembali ke dalam kelungah. Kemudian,Upacara pemujaan oleh Ida Sang Sulinggih dilakukan bersamaan dengan pangubaktian oleh keluarga.

“Upacara selanjutnya adalah Nganyud, Upacara ini disebut Jro Utara merupakan rangkaian upacara pengabenan yang di dalamnya,

Setelah nganyud barulah diaksanakan penyineban dengan nglingihang rantasan serta kwangen di baturan sanggah kemulan. Artinya ruh sang anak telah disucikan dan ditempatkan di dalam sangah atau merajan.

Baca Juga: Enam Bulan di Pengungsian, Warga Kanorayang Segera Kembali ke Rumah

Sejak saat itu, arwah anak yang meninggal sudah berada di alam Dewa atau Dewa Loka. Alasannya mengapa upacara Atma Wedana tidak dilaksanakan setelah Ngelungah adalah karena anak dianggap tidak berdosa dalam hidupnya, sehingga pikiran atau jiwanya tidak terbelenggu oleh akibat karma atau karmapala.

Dikatakan Jro Ketut Utara, salah satu tujuan upacara Atma Wedana adalah untuk mensucikan atma dari belenggu unsur Panca Maya Kosa, yaitu Anamanya kosa, Pranamaya kosa, Widjananamaya kosa, Manumaya kosa, dan Ananda maya kosa, dengan demikian Atma benar-benar suci.

“Itulah alasan proses pemurnian untuk muda anak yang giginya belum tanggal. Proses pengesengan dilakukan saja sekali yaitu mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya sehingga menjadi ruh suci,” paparnya.

Beberapa jenis sesajen digunakan termasuk adegan Pengelungahan. Sarana ini terbuat dari kulit kelungah nyuh gadang dan dijadikan sebagai adegan, dilengkapi sarana seperti don bingin, lalang lepas padang, meseat mingmang kalpika, daun menori, kwangen, dihiasi bunga kuning dan kuning wastra (kain).

Banten Suci Asoroh terdiri dari pengulapan menggunakan empat buah tumpeng, pengambean menggunakan dua tumpeng, wayang menggunakan tiga tumpeng, saji menggunakan satu tumpeng, ajengan putih kuning

“Sarananya tidak menggunakan tumpeng melainkan hanya nasi di atas ceper saja putih dan lainnya kuning, peras menggunakan dua tumpeng, pembersihan suda mala, sesayut Taman pebersihan, banten suci, dan lis dengan bebek guling” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#ritual #anak meninggal #kelapa muda #ngelungah