BALIEXPRESS.ID-Dua hari setelah merayakan Hari Saraswati, Umat Hindu merayakan Hari Soma Ribek atau Sabuh Mas. Hari ini datang pada Senin Pon Wuku Sinta atau dua hari sebelum Hari Raya Pagerwesi.
Dosen Upakara Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti menjelaskan Secara etimologi, Soma Ribek bermakna “Senin Penuh Anugerah”, yang dimaknai sebagai hari penuh karunia atau amerta.
Pada perayaan ini, umat Hindu memuja Sang Hyang Sri Amrta yang diyakini bersemayam di lumbung padi, simbol kemakmuran dan keberlanjutan hidup.
Soma Ribek juga memiliki keterkaitan dengan Hari Raya Saraswati yang diperingati dua hari sebelumnya. Jika Saraswati mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan, maka Soma Ribek mengajarkan agar ilmu tersebut dipergunakan secara bijak demi kesejahteraan.
Perayaan yang jatuh setiap Soma Pon Wuku Sinta pun sarat dengan makna filosofis. Hari Soma berkaitan dengan Sang Hyang Wisnu yang berwujud sebagai air suci (udaka amerta pawitra).
“Pon dikaitkan dengan Sang Hyang Mahadewa yang berwujud udara (apah amerta kundalini), sementara Wuku Sinta berhubungan dengan Sang Hyang Yama yang berwujud api (agni amerta kundalini). Ketiga unsur ini dipandang sebagai sumber kehidupan yang menopang keberlangsungan makhluk,” paparnya.
Di sejumlah daerah di Bali, perayaan Soma Ribek ditandai dengan prosesi Widhi Widhana, yakni ritual penghormatan terhadap padi dan beras di lumbung. Pemujaan ini sekaligus dipersembahkan kepada Dewi Sri, yang dipuja sebagai simbol kesuburan.
Bagi masyarakat yang tidak memiliki lumbung padi (jineng), ritual dilakukan di rumah dengan beras yang dimiliki.
Baca Juga: Tirta Sudamala Bangli Ramai saat Banyupinaruh, Kelian Sedit Ungkap Dua Faktor Penyebab
Sesajen berupa banten Soma Ribek ditata dalam wadah ceper, diisi dengan bantal, tape, tebu, raka-raka, dan canang. Selain itu, terdapat pula tangkih berisi jajanan kukus putih-kuning, rerasmen, serta tipat sari.
Keyakinan masyarakat Hindu menyebutkan bahwa Soma Ribek adalah momen untuk memohon keselamatan serta berkah rezeki, khususnya terkait pangan, agar hemat dan bermanfaat (mesari). Doa kepada Bhatari Sri diyakini mampu menghadirkan panen yang lebih baik pada musim berikutnya.
Uniknya, perayaan ini juga diiringi dengan sejumlah pantangan. Pada hari Soma Ribek, umat dilarang menumbuk padi, menjual beras, atau melakukan aktivitas pertanian. Beberapa wilayah bahkan melarang mengetam padi, nyosoh gabah, memetik buah, sayuran, hingga memperjualbelikan hasil bumi.
“Dalam tradisi tertentu, masyarakat juga berpantang memberi maupun meminta bahan pangan kepada orang lain,” ungkapnya.
Baca Juga: Ida Bagus Gede Arjana Ungkap Skema Penanganan Masalah Sampah Di Badung
Sehari setelah “Soma Ribek”, tepatnya Anggara Wage (Selasa) Umat Hindu di Bali kemudian mengupacari uang, emas dan kekayaan lainnya. Mereka berharap, seluruh kekayaan tersebut dapat terkumpul untuk kesejahtraan mereka.
Hari untuk mengupacarai uang, emas dan kekayaan ini disebut dengan “Sabuh Emas-Jinah”, yang artinya berkumpulnya seluruh kekayaan. Jadi, masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah sumber kesejahtraan.
Selanjutnya Hari Raya Pagerwesi yang jatuh pada Buda Kliwon Shinta menurut kalender Bali, merupakan perayaan pertama dalam sistem pawukon (kalender Bali).
Perayaan pertama ini dilakukan pada Wuku Sinta. Nama Sinta adalah nama seorang ibu, yang dalam cerita Ramayana disebut Sita. Dalam mitologi kalender Bali, Wuku Sinta juga dianggap ibu dari 29 Wuku lainnya.
Karena itu, hari suci ini sangat berkonotasi dengan sifat keibuan, yaitu kasih sayang sehingga pada hari raya Pagerwesi ini, umat diharapkan mengaturkan bhakti kepada Hyang Pramesti Guru, yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih yang dekat dengan umatnya.
Nama Pagerwesi juga mengandung makna tembok besi. “Pagerwesi artinya adalah ikatan yang kokoh. Karena itu, pada hari suci ini, seluruh anggota keluarga diharapkan berkumpul di rumahnya masing-masing,” sebutnya.
Dijelaskan Murniti, saat Pagerwesi, umat Hindu persembahyangan di tempat suci keluarga yang ada pada masing-masing tepatnya di Kamulan dan memuja Hyang Pramesti Guru
Pada hari ini, umat berharap Tuhan senantiasa memberikan kasihnya pada umat manusia, sehingga umat bisa melangsungkan kehidupannya dengan baik.
“Di Bali, kalau kita melihat Perayaan Pagerwesi dirayakan dengan lebih meriah di Buleleng sedangkan di Bali selatan, perayaannya cukup dengan mengaturkan sesajen di tempat suci keluarga masing-masing,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika