Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Banten Byakala Menggunakan Andong Merah, Simbol Sarana Penyucian

I Putu Mardika • Selasa, 23 September 2025 | 02:40 WIB

Banten Byakaon dengan menggunakan sarana Andong
Banten Byakaon dengan menggunakan sarana Andong
BALIEXPRESS.ID-Banten Byakala atau Byakaon menjadi salah satu sarana persembahan yang acapkali digunakan dalam berbagai upacara yadnya. Banten ini diyakini berfungsi menetralisir kekuatan negatif menjadi positif karena erat kaitannya dengan waktu (kala) agar tercipat keharmonisan lingkungan.

Dosen Upakara UNHI Denpasar, I Gusti Ayu Artati menjelaskan banten byakala dihaturkan sebelum upacara inti yang berfungsi sebagai sarana pabersihan lingkungan, sesuai konsep ajaran Tri Hita Karana. Selain itu Byakala juga dipersembahkan sebagai pelengkap dalam tatandingan banten Caru.

Cara mempersembahkannya jika ngayab ke pelinggih maka dihaturkan ke bawah, dan pada manusia di ayab menuju puser atau difokuskan pada areal kaki.

Bahan dasar dari banten byakala/byakaon adalah dapat dengan daun andong merah, slepan, dan sampian nagasarinya bisa dengan menggunakan busung. Fungsinya sebagai simbul dari dewa brahma (merah).

Banten Byakala memiliki jenis yang beragam berdasarkan unsur pendukungnya. Sebut saja Banten byakaon yang merupakan salah satu dari banten byakala yang dimana unsur penyusun banten tersebut terdiri dari sebuah sidi, aledan sayut, berisi kulit peras pandan berduri.

Kemudian, Raka-raka sampian nagasari, Pesucian, Sebuah lis amuan-amuan, sebuah nasi metajuh, sebuah ceper berisi base tulak, takir berisi beras kuning.

Tempurung berisi nasi berwarna hitam, telor ayam mentah,Kojong rangkat Nasi kepel agung metancep bawang tabia, sebuah nasi metimpuh, sebuah sabet dari serabut kelapa,3 katih lidi, sebuah penyeneng dan Payuk pere.

Baca Juga: Astra Motor Bali Gelar Penjurian Regional AHMBS 2025, 12 Karya Inovatif Generasi Muda Tampil Percaya Diri

Selain itu ada pula banten byakala menyesuaikan dengan konsep desa kala patra. Bahkan, dikenal pula Banten Byakala Agung. Banten ini tentu lebih kompleks karena terdapa sarana yang digunakan.

Namun, yang pasti ada dalam banten byakala itu adalah alas berupa sidi, kulit sesayut, diatas kulit sesayut ditumpuk atau boleh juga ditempelkan aled peras yang dibuat dari daun pandan berduri atau disebut pandan wong. Termasuk pula lis byakala yang wajib ada.

Dijelaskan Artati, prosesin ngayabin ataupun ngetisin banten byakaon ke arah belakang disebabkan karena banten tersebut untuk sarana penyucian yang tujuannya menetralisir kekuatan negatif yang berasal dari 3 alam. sesuai dengan kandungan unsur dan sifat dasar persembahannya.

“Agar menjadi positif sehingga menciptakan keharmonisan. Proses ngayab bermakna sebagai penyucian Tri Kaya Parisudha, dan Penyucian ke 3 alam, alam bhur, bwah dan swah, sehingga menciptakan keseimbangan,” jelasnya.

Secara filosofis, banten banten Byakala atau Byakaon berasal dari kata baya artinya bahaya, kaon artinya buruk. Sehingga dengan menggunakan banten Byakaon dapat menghilangkan hal-hal yang bersifat negatif.

Baca Juga: Wuling Melalui BenihBaik.com Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Bali Terdampak Banjir

Jika dihubungkan dengan perasaan seseorang maka banten byakala dapat menetralisir hal-hal negatif yang dapat mengganggu pikiran sehingga menimbulkan perasaan yang tidak baik misalnya perasaan kesal, marah, sehingga menciptakan sifat kedewataan.

Penggunaan sarana sambuk atau sabut kelapa dalam banten byakaon tidak dapat dihindarkan. Kalau yang menggunakan sarana sambuk (api takep) biasanya dipergunakan pada upacara manusia yadnya.

Fungsinya sebagai upesaksi. Sedangkan jika jenis upacaranya dewa yadnya, maka tidak menggunakan sambuk.

Banten Byakala kerap ditemukan menggunakan sarana aledan sayut dan aledan tajuh. Aledan sesayut bundar artinya simbul bulan dan bisa dimaknai sebagai proses kehidupan yang berputar ibarat roda.

Sedangkan Aledan metajuh sebagai simbul matahari. Aledan ini memiliki empat  sisi sebagai catur loka, arah mata angin, timur, selatan, barat, dan utara

Penggunaan sidi pada banten Byakala dianggap penting. Karena secara simbolis sidi pada banten byakala tersebut dapat dimaknai untuk menyaring kotoran.

“Kalau ibarat sidi, pasti bertujuan untuk menyaring yang kotor, kasar agar bisa menjadi halus,” ungkapnya.

Baca Juga: Pengancuk Kaung Syarat Medesa Adat Tegak di Julah

Pada tetandingan banten byakala menggunakan pandan wong (pandan berduri) yang dibentuk seperti kulit peras. Pandan wong dipergunakan pada banten byakala tujuannya karena sifanya pandan wong adalah berduri, dan tajam.

Gusti Ayu Artati menyebutkan, pandan wong adalah sebuah analogi dari hidup manusia. Dimana manusia  kadangkala sulit (sakit), ada rintangan, halangan, dinetralisirlah dengan banten byakala/bayekaon.

Pada banten byakala menggunakan 5 helai kulit peras dari panda wong yang artinya simbul dari panca maha bhuta.

Kemudian ada pula penggunaan sarana lis atau bebuu. Lis berasal dari kata bahasa bali les artinya ciri atau wujud tertentu. Sedangkan mebu’u artinya mebersih.

Wujud yang dimaksudkan dalam persembahan adalah perwujudan yang mengandung arti sesuai dengan lontar yadnya prakerti.

Baca Juga: Siapapun Bekingnya Ditindak Tegas dan Keras, Rapat Kerja Pansus Dengan Gubernur

Dimana banten disimbolkan sebagai  sahananing banten pinaka raganta twi simbul diri kita.

Ada simbul isi perut pada basang nguda, basang wayah, tipat pusuh, siku, ntud. Ada pula sahananing banten pinaka rupaning ida bhatara.

 Lis, bu’u, padma dimaknai sebagai senjata dewa siwa. Lis senjata penggambaran dari senjata dewata nawa sanga. Lis juga sebagai isi alam semesta. Sehingga Ada simbul tumbuh-tumbuhan (paku, linting, sritetel, jan, sesapi, lawangan, tangga menek, tangga tuwung, tipat tulud.

“Jumlah lis dibuat sesuai dengan kebutuhan. Kalau lis alit bisa jumlahnya 27, 33 jenis, kalau lis agung besar sampai 45,” singkatnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#yadnya #banten byakala #andong #penyucian #caru