Upacara tersebut bernama tingkatan Catur Rebah, yang di dalamnya dilakukan Ngaturang Pakelem berupa kambing hitam, angsa, bebek dan ayam.
Dalang Ida Bagus Pidada yang saat itu menata upacara menerangkan, melasti ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah di Puri Agung Jero Kuta yang terdiri dari Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, dan Tawur Balik Sumpah Utama.
“Melasti ke segara merupakan upaya umat Hindu dalam menghilangkan kekotoran bumi dan isinya, serta memohon merta atau kesejahteraan di segara yang merupakan simbol alam semesta,” ujarnya. Menurutnya upacara ini memiliki makna yang mendalam, karena berkah bukan saja untuk keluarga puri, tapi masyarakat Bali.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa upacara Mamungkah memiliki kesinambungan dengan upacara Maligia yang digelar Puri Agung Jero Kuta belum lama ini.
“Jika Maligia digelar sifatnya untuk pitara, maka dari itu disebut dengan Pitra Yadnya. Nah jika Mamungkah, ini penyucian Merajan yang tujuannya memohon berkah Tuhan setelah melakukan upacara suci,” tuturnya.
“Idealnya karya semacam ini digelar 30 tahun sekali, aliasa Amasa. Namun tentu situasi dan kondisi juga harus menyesuaikan agar tujuan dari upacara itu tercapai,” imbuhnya.
Penglingsir Puri Agung Jero Kuta I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya dalam kesempatan itu berbahagia karena upacara ini melibatkan seluruh unsur puri, seperti Pengempon Pura Uluwatu.
Pura Uluwatu sendiri merupakan pura amongan puri, sehingga puri memiliki tanggung jawab penuh atas puri tersebut.
“Bendesa Uluwatu dan Jero Mangku Gede Pura Uluwatu juga hadir, karena yang kami upacarai di Merajan juga adalah beliau yang berstana di Pura Uluwatu. Keluarga puri juga guyub, ini menurut saya berkah yang luar biasa,” ucapnya.
Untuk hubungan eksternal puri, ia berharap upaya yang dilakukan melalui upacara dapat menjadi penghubung sehingga dapat menjaga hubungan yang harmonis.
Sedangkan secara hubungan internal, pria yang akrab disapat Turah Joko ini ingin memberi contoh kepada seluruh keluarga puri tentang tanggung jawab yang diemban.
“Sekarang kan sudah tidak ada pelestarian kerajaan lagi, karena negara sudah republik. Yang kami bisa lakukan sekarang adalah memberi contoh pelestarian budaya,” sambungnya.
Sementara Manggala Prawartaka Karya, I Gusti Ngurah Bagus Manu Raditya menjelaskan, karya di Puri Agung Jro Kuta didukung oleh Pasemetonan Puri Agung Jro Kuta, Paiketan Semeton Agung Jero Kuta 23 Jero yg tersebar di seluruh Bali, termasuk Jero Kuta Kerobokan dan Jero Tegeh Bongan Tabanan.
“Kami juga didukung wargi, braya lan pekandelan puri. Juga tiga banjar yakni Panti Gede, Belong Gede, Balun,” ujarnya.
Setelah melasti, kata dia, upacara akan dilanjutkan dengan Tawur Agung yang berlokasi di Puri Agung Jro Kuta. Pada saat tawur itu, Ida Bhatara Pura Uluwatu akan tedun menuju Puri untuk dipersembahkan pemujaan.
“Ritual selevel ini pernah dilakukan penglingsir kami dulu, sekitar 63 tahun silam. Dan kami sebagai generasi penerus, bangga sekali mendapat tanggung jawab ini. Intinya, upacara ini kami dedikasikan untuk Pulau Bali kita yang tercinta agar terjaga,” pungkasnya. (art)
Editor : I Putu Mardika