Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan, Lakon Bima Swarga menjadi lakon wajib yang dibawakan dalam mengiringi upacara kematian seperti ngaben, maupun ritual mekinsan di geni. Lakon wayang ini diyakini sebagai simbol bakti pratisentana terhadap sang pitra.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jro Dalang Ardi menceritakan, lakon Bima Swarga sejatinya diadopsi dari kisah Mahabrata. Namun, penggalan kisah epos Baratayudha ini banyak ditemukan di Bali.
Dikisahkan, pada suatu hari, Dewi Kunti memanggil putranya Bhima. Dalam pertemuan itu, Dewi Kunti mengutarakan tentang persiapan upacara yadnya yang akan dilangsungkan di Merajan Agung istana.
Dewi Kunti menuturkan, bahwa dirinya telah menerima sabda dari Dewata, bahwa upacara tidak bisa dilaksanakan, jika masih ada dalam keadaan leteh, yaitu roh Pandu dan Dewui Madri masih ada dalam kawah neraka.
Ia lantas meminta kepada semua anaknya untuk membebaskan roh Pandu dan Dewi Madri, dari kawah neraka. Namun Yudhisthira, Arjuna, Nakula dan Sahadewa menyatakan tidak dapat melaksanakan perintah ibunya, karena mengaku tidak mampu.
Ibu dari Panca Pandawa itu lantas meminta kepada anak keduanya, yaitu Bhima agar segera berangkat ke sorga untuk membebaskan roh leluhurnya itu. Bukan tanpa alasan mengapa Bhima diminta membebaskan roh Pandu dan Dewi Madrim.
“Karena Bhima memiliki ajian Angkus Prana, yaitu ajian yang dapat memuat banyak orang di dalam tubuhnya, sehingga bisa melesat ke Neraka,” sebutnya.
Bhima menyatakan bersedia dan senang hati serta penuh semangat melaksanakan perintah ibunya itu. Bhima lalu berangkat ke sorga bersama Dewi Kunti dan semua saudara-saudaranya.
Berkat ajian angkus prana, Bhima mempersilahkan ibu dan semua saudaraya masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa lama kemudian, Bhima tiba di Tegal Penangsaran. Dalam perjalanannya, mereka menemui berbagai rintangan yang disebut pengadang-ngadang, seperti rumput berdaun senjata taji, tumbak, ikan julit berkepala raksasa, buaya, catur sanak. Bhima kemudian berperang dengan penghuni sorga, seperti binatang dan sebagainya.
Akibatnya, keadaan sorga menjadi kacau. Sang Suratma mengetahui kejadian tersebut. Atas laporan Sang Suratma, Jogor Manik sebagai penjaga pintu kawah Candragomuka Sanghyang Yama sebagai Hakim sorga menjadi murka. Sanghyang Yama segera menemui Bhima, apa tujuannya ke sorga. Bhima menjelaskan bahwa ia memohon agar roh Pandu dan Dewi Madri dibebaskan.
Bhima hanya memohon dua atma, yakni hanya berjenis laki-perempuan. Sanghyang Yama mememenuhi permintaan Bhima. Bhima segera terjun ke kawah, untuk mencari atma Pandu dan Dewi Madri yang menjadi kerak kawah yang panas itu. Oleh karena berada di dasar kawah, Bhima mengangkat banyak atma.
“Ketika diprotes oleh Sanghyang Atma, Bhima mengatakan, bahwa ia hanya mengangkat atma laki dan perempuan, dan tidak ada mengambil atma yang banci. Sanghyang Yama marah dan menantang Bhima untuk berkelahi. Bhima meladeni dan mencekik Sanghyang Yama,” ungkap pria asal Selunglung, Kecamatan Kintamani Bangli ini.
Sanghyang Yama pun menyerah dan menyatakan bersedia mengambil atma Pandu dan Madri di dasar kawah. Namun janji itu tidak dilaksanakan oleh Sanghyang Yama. Kawah itu kemudian dibalik oleh Bhima.
Ia hanya mendapatkan kotoron besi sebagai kerak kawah. Bhima kemudian memanggil ibunya Dewi Kunti, untuk memastikan apakah atma Pandu dan Dewi Madri itu berupa kerak kawah. Setelah yakin itu benar atma Pandu dan Madri, Bhima memanggil kakaknya, Yudhisthira, dan adik-adiknya Arjuna, Nakula dan Sahadewa.
Dewi Kunti memerintahkan agar Nakula dan Sahadewa menyembah dua atma itu supaya wujudnya lebih sempurna. Setelah itu, kotoran besi itu menjadi tulang belulang Pandu dan Dewi Madri. Kemudian Arjuna menghaturkan sembah, lalu dilanjutkan oleh Yudhisthira. Setelah itu, keduanya berubah menjadi sesosok manusia seperti patung.
Kunti lalu memerintahkan Bhima untuk melakukan sembah agar wujud Pandu dan Madri lebih sempurnna. Bhima menolak perintah ibunya. Nakula dan Sahadewa lalu memiliki siasat. Ia mengatakan, bahwa jeriji Bhima kanan-kiri tidak sama.
Setelah Bhima mencakupkan tangan untukmemastikan ukuran jeriji tangannya, di saat itu Bhima dipandang sudah menghaturkan sembah. Setelah sempat marah, karena merasa ditipu, Bhima mohon tirta pawitra Dewata Nawa Sanga. Setelah sempat bertarung dengan para dewata, Bhima sempat tewas oleh Dewa Bayu.
Namun Bhima dihidupkan kembali oleh Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal lalu menganugerahi tirta pawitra. Dengan disucikannya roh Pandu dan Madri, maka upacara yang digelar di Merajan Agung Pandawa dapat dilangsungkan dengan lancar dan sukses, paparnya.
“Penggambaran tokoh Bhima sebagai tokoh sentral yang membebaskan roh leluhurnya di dasar kawah neraka dapat menjadi sebuah contoh sebagai sebuah usaha untuk menghormati leluhur, sehingga lakon ini ditampilkan dalam upacara kematian seperti pengabenan, maupun upacara kematian mekinsan di geni, atau mekinsan di pertiwi,” sebutnya.
Selain sebagai tontonan yang bermakna rasa bhakti kepada leluhur, pementasan wayang dalam upacara pitra yadnya juga bertujuan agar tirta sudhamala yang diberikan oleh sang dalang untuk dipercikkan ke sawa atau jenazah.
Jro Dalang Putu Ardhiyasa mengungkapkan jika dalam ritual ngaben, tirtha sudamala itu dipercikkan sebelum ngayut sekah. Sedangkan dalam upacara kematian mekinsan di geni atau mekinsan di pertiwi biasanya dilakukan sebelum prosesi ke setra.
Ia mengatakan, sesajen yang dihaturkan saat pementasan wayang dengan lakon Bima Swarga di setiap tempat berbeda sesuai dengan desa kala patra. Namun, sepengetahuannya, pria yang juga Kaprodi di Prodi Pendidikan Seni dan Budaya, IAHN Mpu Kuturan ini menyebutkan sesajen yang digunakan terdiri dari banten untuk gender, untuk pertunjukan wayang dan sesajen untuk nunas tirtha wayang.
Menurutnya, selain adanya perbedaan tradisi, kepercayaan, juga tergantung pada situasi dan keadaan di tempat pertunjukan. Namun, intinya tetap sama, yakni persembahan yang mengandung unsur daun, bunga, buah, air dan di Bali, juga memakai daging atau ikan.
Sesajen wayang kulit yang sering digunakan untuk pertunjukan wayang kulit yakni secara garis besar dibagi dua. Ada sesajen yang ditempatkan di atas dalam panggung dan ada yang di bawah. Sesajen yang berada di atas, dipersembahkan kehadapan Taksu dan Bhatara Samodaya.
Sesajen yang dipersembahkan antara lain: pras, lis, daksina, banten taksu, canang sari, katipat kelan, punjung rayunan, suci asoroh maiwak itik putih, panyeneng, tehenan, ajuman, canang gantal, banyuawang, pedupaan, lengawangi, buratwangi.
Dulang medaging sangku utawi payuk anyar madaging toya anyar, matatakan beras, toya cendana samsam, bija kuning, bunga 11 warna, utamine sekar tunjung putih, pipis 250, lis wayang gede.
“Sesajen itu dipersembahkan dengan tujuan, memohon kepada Ida Taksu atau manifestasi Tuhan sebagai Dewa Kesenian, agar dianugerahi keselamatan, kelancaran dan suksesnya pertunjukan dan penonton merasa terhibur.”pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika