Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita Bhima Swarga dalam Pewayangan: Dipentaskan saat Pitra Yadnya, Simbol Penghormatan ke Sang Pitra

I Putu Mardika • Jumat, 3 Oktober 2025 | 00:43 WIB

Jro Dalang Putu Ardhiyasa saat mementaskan wayangf   
Jro Dalang Putu Ardhiyasa saat mementaskan wayangf  
BALIEXPRESS.ID-Upacara Pitra Yadnya maupun upacara kematian di Bali kerap menampilkan wayang sebagai pelengkap ritual. Menariknya, dalam pementasan tersebut Lakon Bima Swarga sering diangkat dalam cerita pewayangan mengiringi ritual kematian.

Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan, Lakon Bima Swarga menjadi lakon wajib yang dibawakan dalam mengiringi upacara kematian seperti ngaben, maupun ritual mekinsan di geni. Lakon wayang ini diyakini sebagai simbol bakti pratisentana terhadap sang pitra.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jro Dalang Ardi menceritakan, lakon Bima Swarga sejatinya diadopsi dari kisah Mahabrata. Namun, penggalan kisah epos Baratayudha ini banyak ditemukan di Bali.

Dikisahkan, pada suatu hari, Dewi Kunti memanggil putranya Bhima. Dalam pertemuan itu, Dewi Kunti mengutarakan tentang persiapan upacara yadnya yang akan dilangsungkan di Merajan Agung  istana. 

Dewi  Kunti  menuturkan,  bahwa  dirinya  telah  menerima  sabda  dari  Dewata, bahwa upacara tidak bisa dilaksanakan, jika masih ada dalam keadaan leteh, yaitu roh Pandu dan  Dewui  Madri  masih  ada  dalam  kawah  neraka. 

Ia lantas meminta kepada semua anaknya untuk membebaskan roh Pandu dan Dewi Madri, dari kawah neraka. Namun Yudhisthira, Arjuna, Nakula dan Sahadewa menyatakan tidak dapat  melaksanakan perintah ibunya, karena mengaku tidak mampu.

Ibu dari Panca Pandawa itu lantas meminta kepada anak keduanya, yaitu Bhima agar segera berangkat ke sorga untuk membebaskan  roh  leluhurnya  itu.  Bukan tanpa alasan mengapa Bhima diminta membebaskan roh Pandu dan Dewi Madrim.

“Karena Bhima memiliki ajian Angkus Prana, yaitu ajian yang dapat memuat banyak orang di dalam tubuhnya, sehingga bisa melesat ke Neraka,” sebutnya.

Bhima  menyatakan  bersedia  dan  senang  hati  serta penuh  semangat  melaksanakan  perintah  ibunya  itu.  Bhima  lalu  berangkat  ke  sorga  bersama Dewi    Kunti    dan    semua    saudara-saudaranya.   

Berkat ajian    angkus    prana,    Bhima mempersilahkan ibu  dan  semua  saudaraya  masuk  ke  dalam  tubuhnya.  Beberapa lama kemudian, Bhima tiba di Tegal Penangsaran. Dalam perjalanannya, mereka menemui berbagai rintangan yang disebut pengadang-ngadang, seperti rumput berdaun senjata taji, tumbak, ikan julit berkepala raksasa, buaya, catur sanak. Bhima kemudian berperang dengan penghuni sorga, seperti binatang dan sebagainya.

Akibatnya, keadaan sorga menjadi kacau. Sang Suratma mengetahui kejadian tersebut. Atas  laporan  Sang  Suratma,  Jogor  Manik  sebagai  penjaga  pintu  kawah  Candragomuka Sanghyang  Yama  sebagai  Hakim sorga  menjadi  murka.  Sanghyang Yama segera  menemui Bhima, apa tujuannya ke sorga. Bhima menjelaskan bahwa ia memohon agar roh Pandu dan Dewi Madri  dibebaskan. 

Bhima hanya  memohon  dua  atma,  yakni  hanya  berjenis  laki-perempuan. Sanghyang Yama mememenuhi permintaan Bhima. Bhima segera terjun ke kawah, untuk mencari atma Pandu dan Dewi Madri yang menjadi kerak kawah yang panas itu. Oleh  karena  berada  di  dasar  kawah,  Bhima  mengangkat  banyak  atma. 

“Ketika diprotes  oleh Sanghyang Atma, Bhima mengatakan, bahwa ia hanya mengangkat atma laki dan perempuan, dan tidak ada mengambil atma yang banci.  Sanghyang Yama marah dan menantang Bhima untuk  berkelahi.  Bhima  meladeni  dan  mencekik  Sanghyang  Yama,” ungkap pria asal Selunglung, Kecamatan Kintamani Bangli ini.

Sanghyang Yama pun menyerah dan menyatakan bersedia mengambil atma Pandu dan Madri di dasar kawah. Namun janji itu tidak dilaksanakan oleh Sanghyang Yama. Kawah itu kemudian dibalik oleh Bhima.

Ia hanya mendapatkan kotoron besi sebagai kerak kawah. Bhima kemudian memanggil ibunya Dewi Kunti, untuk memastikan apakah atma Pandu dan Dewi Madri itu berupa kerak kawah. Setelah yakin itu benar atma Pandu dan Madri, Bhima memanggil kakaknya, Yudhisthira, dan adik-adiknya Arjuna, Nakula dan Sahadewa.

Dewi  Kunti  memerintahkan  agar  Nakula  dan  Sahadewa  menyembah  dua  atma  itu supaya wujudnya lebih sempurna. Setelah itu, kotoran besi itu menjadi tulang belulang Pandu dan Dewi Madri. Kemudian Arjuna menghaturkan sembah, lalu dilanjutkan oleh Yudhisthira. Setelah   itu,   keduanya   berubah   menjadi   sesosok   manusia   seperti   patung.  

Kunti   lalu memerintahkan   Bhima   untuk   melakukan   sembah   agar   wujud   Pandu   dan   Madri   lebih sempurnna.  Bhima menolak  perintah  ibunya.  Nakula  dan  Sahadewa  lalu  memiliki  siasat.  Ia mengatakan, bahwa jeriji Bhima kanan-kiri tidak sama.

Setelah Bhima mencakupkan tangan untukmemastikan ukuran jeriji tangannya, di saat itu Bhima dipandang sudah menghaturkan sembah. Setelah sempat marah, karena merasa ditipu, Bhima mohon tirta pawitra Dewata Nawa Sanga. Setelah sempat bertarung dengan para dewata, Bhima sempat tewas oleh Dewa Bayu.

Namun Bhima dihidupkan kembali  oleh  Sanghyang  Tunggal.  Sanghyang Tunggal lalu menganugerahi tirta pawitra. Dengan disucikannya roh Pandu dan Madri, maka upacara yang digelar di Merajan Agung Pandawa dapat dilangsungkan dengan lancar dan sukses, paparnya.

“Penggambaran tokoh Bhima sebagai tokoh sentral yang membebaskan roh leluhurnya di dasar kawah neraka dapat menjadi sebuah contoh sebagai sebuah usaha untuk menghormati leluhur, sehingga lakon ini ditampilkan dalam upacara kematian seperti pengabenan, maupun upacara kematian mekinsan di geni, atau mekinsan di pertiwi,” sebutnya.

Selain sebagai tontonan yang bermakna rasa bhakti kepada leluhur, pementasan wayang dalam upacara pitra yadnya juga bertujuan agar tirta sudhamala yang diberikan oleh sang dalang untuk dipercikkan ke sawa atau jenazah.

Jro Dalang Putu Ardhiyasa mengungkapkan jika dalam ritual ngaben, tirtha sudamala itu dipercikkan sebelum ngayut sekah. Sedangkan dalam upacara kematian mekinsan di geni atau mekinsan di pertiwi biasanya dilakukan sebelum prosesi ke setra.

Ia mengatakan, sesajen yang dihaturkan saat pementasan wayang dengan lakon Bima Swarga di setiap tempat berbeda sesuai dengan desa kala patra. Namun, sepengetahuannya, pria yang juga Kaprodi di Prodi Pendidikan Seni dan Budaya, IAHN Mpu Kuturan ini menyebutkan sesajen yang digunakan terdiri dari banten untuk gender, untuk pertunjukan wayang dan sesajen untuk nunas tirtha wayang.

Menurutnya, selain  adanya  perbedaan  tradisi,  kepercayaan,  juga  tergantung  pada  situasi  dan  keadaan  di tempat  pertunjukan.  Namun, intinya tetap  sama,  yakni  persembahan  yang  mengandung unsur daun, bunga, buah, air dan di Bali, juga memakai daging atau ikan.

Sesajen  wayang  kulit  yang  sering  digunakan  untuk  pertunjukan  wayang  kulit  yakni secara garis besar dibagi dua. Ada sesajen yang ditempatkan di atas dalam panggung dan ada yang  di  bawah.  Sesajen  yang  berada  di  atas,  dipersembahkan  kehadapan  Taksu  dan  Bhatara Samodaya.

Sesajen yang dipersembahkan antara lain: pras, lis, daksina, banten taksu, canang sari,  katipat  kelan,  punjung  rayunan,  suci  asoroh  maiwak  itik  putih,  panyeneng,  tehenan, ajuman, canang gantal, banyuawang, pedupaan, lengawangi, buratwangi.

Dulang medaging sangku utawi payuk anyar madaging toya anyar, matatakan beras, toya cendana samsam, bija kuning, bunga 11 warna, utamine sekar tunjung putih, pipis 250, lis wayang gede.

“Sesajen itu dipersembahkan dengan tujuan, memohon kepada Ida Taksu atau manifestasi Tuhan sebagai Dewa Kesenian, agar dianugerahi keselamatan, kelancaran dan suksesnya pertunjukan dan penonton merasa terhibur.”pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #wayang #pitra yadnya #Lakon #bima