Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tata Letak Penunggun Karang: Berstana di Barat Laut Natah, Posisi Menghadap Selatan

I Putu Mardika • Senin, 20 Oktober 2025 | 03:20 WIB

 

Pelinggih penunggun karang
Pelinggih penunggun karang
BALIEXPRESS.ID-Setiap rumah khususnya Umat Hindu di Bali Dataran senantiasa memiliki Pelinggih Penunggun Karang. Pelinggih ini diyakini sebagai benteng perlindungan dari berbagai pengaruh negatif yang datang dari luar dan bertujuan untuk menyerang penghuninya.

Pelinggih Penunggun karang rata rata berbentuk tugu, baik dengan material ukiran, maupun pelinggih berbahan bebatuan. Yang paling mencolok, pelinggih penunggun karang kerap menggunakan saput poleng (hitam-putih) sebagai wastra.

Dalam konsep asta kosala kosali, area natah dibagi menjadi tiga. Yaitu Nista, Madya dan Mandala. Area Nista, merupakan area tiga kelompok ruang yang berada di sebelah kiri, meliputi bangunan kandang dan angkul-angkul, serta sebagian bale dauh dan paon.

Madya merupakan area ruang untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti untuk melakukan upacara adat dan keagamaan. Kelopok ruang madya yang merupakan ruang bagian tengah, meliputi bangunan tempat suci Penunggun Karang, natah (halaman), jineng (lumbung) dan bangunan angkul-angkul atau pintu keluar-masuk halaman. Sedangkan Utama merupakan area ruang tempat suci seperti sanggah atau merajan.

Cendikiawan Hindu, Ida Bagus Arsana dari Geriya Mayun Budug, Badung mengatakan dalam Lontar Asta Bumi, area natah terdapat  pojok-pojok atau pemucu yang menjadi simpul simpul penting. Sebut saja di sisi timur Sri Raksa yang ditempatkan sebagai pengulu sebagai tempat sembahyang.

Baca Juga: BNI Perkuat Literasi Keuangan Digital di Ajang TNI RUN 2025, Tawarkan Pengalaman Transaksi Modern dan Layanan O-Branch Berkonsep Coffee Shop

Kemudian Aji raksa di sisi tenggara, ditempatkan tempat belajar. Neriti atau barat selatan biasanya dijadikan areal dapur. Dan di Wayabya atau utara barat ditempatkan sumur dan penunggun karang. “Penunggun Karang inilah yang menjaga penghuni  rumah di pekarangan tersebut,” jelasnya.

Penungun karang merupakan manifestasi dari Kala Raja. Sehingga paduraksanya adalah Kala. Umumnya Penunggun karang dibangun pada bagian barat laut dari pekarangan atau natah sebuah rumah.

Ciri bangunan dari pelinggih penunggun karang yakni berbentuk tugu. Dalam Lontar Tutur Gong Besi, disebutkan setelah Bhatara Siwa kesah dari natah, berada di pemucu sebagai Penunggun Karang, beliau bermanifestasi sebagai Durga Manik

Beliaulah yang menjaga areal rumah dari berbagai gangguan. “Biasanya pertanda kalau tidak ada penunggun karang, saat memelihara binatang seperti Sapi, Babi, itu tidak mau berkembang biak. Itu terjadi karena tidak ada penunggun karang. Dan ini sudah banyak dibuktikan. Ada pula gangguan mistis akan banyak terjadi kalau tidak ada penunggun karang,” imbuhnya.

Karena posisi dalam membuat pelinggih penunggun karang mengacu pada tata letak ulu di timur, maka posisi di barat laut yang dibangun adalah penunggun karang. Posisi Penunggun Karang ini menghadap ke selatan.

Lalu siapa yang dipuja dalam Pelinggih Penunggun Karang? Dikatakan Ida Bagus Arsana, bila dilihat dari mitologi bahwa pada saat Bhatara Siwa ada di rong tiga kemudian kesah ke natah menjadi Siwa Reka dan di Penunggun Karang menjadi Durga Manik, kemudian beliau juga adalah Dewaning Tenget kesah keluar pekarangan di Lebuh menjadi Durga Maya atau Indrablaka beliau yang menjaga, sehingga disebut dengan Ratu Ngurah atau Ida Durga Manik.

Baca Juga: Bank BPD Bali Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda Lewat Expo Bulan Inklusi Keuangan 2025

“Mengacu pada sastra Kanda Pat Sari, disebutkan bahwa yang berstana di Penunggun karang adalah Dewaning Tugu atau Pengempu Bumi. Pengempu Bumi ini adalah ngemong yang ada di dalam pekarangan. Sehingga fungsinya menjaga,” paparnya.

Ada sejumlah sarana yang dihaturkan di Pelinggih Penunggun Karang saat hari hari tertentu, seperti Kajeng Kliwon dan hari suci lainnya. Mulai dari Tipat Dampulan, Laklak Tape, Lekesan hingga Lanyaran (rokok).

Dikatakan Ida Bagus Arsana, mengatakan, selain menghaturkan saiban setiap hari,  persembahan spesifik kepada yang berstana di Pelinggih Penunggun Karang bisa dilakukan dengan menghaturkan tipat dampulan.

Bukan tanpa alasan mengapa tipat dampulan dijadikan sarana persembahan di Pelinggih Penunggun Karang. Sebab, dari sisi makna dampulan, berasal dari kata ampu atau empu yang dimaknai sebagai emong.

“Kalau dalam suguhan memang tipat dampulan Karena beliau bermanifestasi sebagai pengempu Bumi, jadi yang ngempu bumi baik ratu ngurah, penunggun karang, pelinggih Indra Blaka, itu adalah tipat dampulan,” katanya.

Baca Juga: Terancam Erosi, Puluhan Hektar DAS di Badung Rusak

Sebagai pelengkap dari tipat dampulan adalah Laklak Tape. Persembahan ini dihaturkan karena beliau dipercaya sebagai dewanya Bhuta. Sehingga saat Kajeng Kliwon dipersembahkan laklak tape di pelingggih Penunggun Karang sebagai suguhan wajib.

“Sehingga saat Kajeng Kliwon sebaiknya menghaturkan suguhan yang beliau suka di Penunggun Karang. Kalau sudah beliau suka, maka sudah pasti membuat beliau senang dan memberikan restunya,” sebutnya.

Uniknya, ada pula yang kerap mempersembahkan rokok atau lekesan sirih di Penunggun Karang. Persembahan ini dihaturkan kepada rerencang. Dengan harapapan agar rerencangnya tidak mengganggu.“Suguhan ini, bermaksud menyeimbangkan, sehingga diberikan perlindungan,” singkatnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #pelinggih #hindu #penunggun karang