Penekun Usada Bali, Gede Sutana mengatakan Sehat dalam Ayurweda penyakit kencing manis disebut madhumeha, yang berarti air seni yang mengandung madu sehingga rasanya manis. Dijelaskan juga bahwa penyebab timbulnya penyakit kencing manis adalah akibat unsur pitta (api) pada salah satu unsur tri-dosha dalam tubuh manusia meningkat (vridhi) jumlahnya.
Tri-dosha sering dianggap sebagai cairan humoral, yang merupakan unsur produk hasil metabolisme sel jaringan tubuh, terdiri atas vatta, pitta, dan kapha. Ketiganya ini sering diidentikkan dengan udara, api dan air. Bila ketiganya berada dalam keadaan seimbang, maka sehatlah tubuh.
Sebaliknya jika keberadaannya tidak seimbang, maka sakitlah tubuh. Untuk menyembuhkannya, harus diusahakan mengembalikan keseimbangan ketiga unsur tri-dosha tersebut. Mengenai proses terjadinya penyakit kencing manis, kitab Ayurweda menjelaskan dengan rinci.
Baca Juga: Kabel Internet Gesek Kabel Listrik, Tiang di Jalan Ngurah Rai Jembrana Terbakar
Dalam kitab Ayurweda dijelaskan akibat adanya kelebihan unsur pitta yang bersifat panas seperti api, maka semua air yang ada di dalam tubuh akan menguap dan air inilah yang akan menjadi air kencing dan keringat. Karena air menguap dan badan panas maka diperlukan air yang banyak untuk mengimbanginya. Itulah sebabnya timbul dahaga, banyak minum serta kulit kering.
Sutana menjelaskan dalam mengobati suatu penyakit, Ayurweda mempergunakan beberapa pendekatan, salah satunya adalah ausadha. Ausadha dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk memperoleh umur Panjang, menjaga kesehatan secara umum dan terbebas dari penyakit.
“Dalam bahasa sansekerta ausadha merupakan tumbuhan yang dapat dipergunakan sebagai bahan ramuan obat, bagian tumbuhan yang paling sering dipergunakan sebagai bahan ramuan obati dapat diambil,” jelasnya.
Mulai dari akar (mula), umbi rimpang (kandha mula), batang (valkala), duri (kikasa), daun (palasa), bunga (puspa) dan buah (pala). Ayurweda juga membagi tanaman yang ada di bumi ini atas empat golongan.
“Pertama Wanaspati, yakni tumbuhan yang berbuah. Kedua Wanaspatya, yakni tumbuhan berbunga dan berbuah. Ketiga disebut Wirut, yakni tumbuhan menjalar. Keempat adalah Osadhi, yakni tumbuhan yang setelah berbuah sekali langsung mati,” paparnya.
Baca Juga: Karangasem Tegaskan Komitmen Pembangunan Berbasis Tata Ruang Berkelanjutan di Forum Regional
Sutana menyebut, ada sejumlah tanaman yang digunakan dalam usada atau pengobatan penyakit diabetes mellitus. Seperti kelor, pegagan, sambiroto, kunyit putih, mimba (intaran), brotowali, jahe merah, binahong, sirih merah, kayu secang, kersen, ciplukan, dan pare.
“Tanaman itu diolah sedemikian rupa. Ada yang diolah menjadi bubuk, ada yang dminum, ada yang digunakan untuk membasuh luka,” imbuhnya.
Dalam Ayurweda mengenal enam rasa yang bisa dirasakan oleh lidah manusia, yaitu Madhura (manis), Amla (asam), Lavana (asin), Tikta (pahit), Katu (pedas), dan Kashaya (sepet). Keenam rasa ini disebut Sad Rasa.
Gede Sutana mengatakan perpaduan kashaya, tikta dan madhura akan menyebabkan kondisi pitta dan kapha menurun. Dalam berbagai penelitian juga disebutkan bahwa perpaduan sambiloto, brotowali dan pegagan yang dikonsumsi dapat menurunkan kadar gula darah. “Dengan lancarnya metabolisme pada pencernaan menunjukkan unsur vatta meningkat,” paparnya.
Sambiloto dan brotowali mempunyai rasa Tikta sedangkan pegagan mempunyai rasa Madhura. Beberapa tanaman yang digunakan sebagai bahan obat untuk penyakit kencing manis atau penyakit madhumeha dianjurkan dalam pengobatan tradisional oleh beberapa penyehat tradisional (balian usada) ini lebih banyak mempunyai efek diuretic, memperlancar kencing, di samping efek hipoglikemia.
Baca Juga: Menuju 100 Persen Terekam, Buleleng Ngebut Tuntaskan Perekaman KTP-el Pemula
Dalam Ayurweda dijelaskan bahwa jenis ramuan obat yang mempunyai tikta rasa atau rasa pahit berkhasiat tis (dingin), dapat dipergunakan untuk orang yang menderita sakit panas, gangguan pencernaan. Selain rasa juga terdapat guna (sifat, kualitas) di dalam ramuan atau yang dikandung oleh suatu ramuan.
Ramuan obat dari sambiloto, brotowali, pegagan dikatakan mengandung rukhsha guna karena bersifat kenyal, tidak lembut, tidak berminyak dan kering. Bahan ramuan ini didominasi oleh tiga unsur bhuta.
Yakni unsur perthivi (bumi, tanah), teja (panas), vayu (udara). Ramuan ini bermanfaat untuk meningkatkan unsur tri-dosha vatta (udara) dan agni (enzim). Tetapi menurunkan unsur kapha (air) dan pitta (api, panas) menyebabkan metabolisme menjadi lancar
Lanjutnya, ada sejumlah tata cara pemanfaatan tanaman tersebut secara ayurweda. Diantaranya Churna atau berbentuk bubuk dimana tanaman obat dikeringkan terlebih dahulu kemudian diblender di ayak untuk memisahkan bagian tanaman yang masih kasar untuk diblender kembali.
Kemudian dikemas ke dalam kapsul. Tujuannya untuk memudahkan mengkonsumsi, apalagi tanaman berasa pahit. Selanjutnya ramuan juga bisa dibuat Kvatha yakni berbentuk cairan yang diminum berupa jamu, loloh.
Baca Juga: Menteri Hukum Umumkan Protokol Jakarta di IDC 2025, Perkuat Perlindungan Hak Cipta atas Berita
Ada pula berupa Paniya (jamu encer), dimana saat pengerjaannya selain menggunakan tanaman yang segar, yang membedakan adalah dalam pemberian takaran ainya. Pemberian atau pembagian obat tergantung atas aksi obat terhadap unsur tridosha (vata, pitta, kapha) dan jaringan dhatu.
“Tanaman obat juga dibisa dijadikan dalam bentuk steam atau mandi uap, selain itu juga bisa dijadikan bentuk teh dimana selain dikonsumsi sebagai teh herbal juga bisa digunakan untuk merendam atau membasuh luka akibat diabetes,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika