Keberadaan pura ini persis di tengah perkebunan. Posisinya agak masuk ke dalam dari pusat desa. Suasana yang asri kian membuat para pemedek yang nangkil ke pura ini semakin merasakan vibrasi kesucian dan ketenangan spiritual.
Pura Purohita berada di pinggir sungai, sehingga membuat suasana di area pura menjadi sangat hening dan sejuk sehingga cocok menjadi tempat untuk melakukan meditasi atau yoga semadhi. Lokasi Pura Purohita ini sendiri diyakini sebagai salah satu tempat beryoga atau bermeditasinya para Purohita atau Pendeta dahulu kala.
Saat kaki melangkahkan kaki ke areal pura, pemedek akan disuguhkan dengan pelinggih Lingga yang cukup tingginya hampir menyentuh angka enam meter. Ya, pelinggih inilah yang menjadi ikon bagi Pura Purohita ini.
Secara struktur mandala, Pura Purohita termasuk ke dalam pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu jaba pisan yang berisikan bale wantilan, pewaregan, jineng dan Genah Pengelukatan. Di jeroan terdapat Lingga Siwa, patung Dewi Kwan Im, Patung Lembu Nandini, arca-arca, palinggih dan gedong.
Baca Juga: DPRD Bali Sahkan Raperda Penambahan Penyertaan Modal Daerah untuk Perseroda Pusat Kebudayaan Bali
Terdapat pula bangunan suci yang tersebar di beberapa sudut area pura yang memiliki arca atau Pratima yang berbeda-beda.
Kalau ditelisik lebih mendalam bangunan suci di area Pura Purohita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, seperti Bebaturan, Padmasana, Gedong, dan Lingga.
Bebaturan merupakan bangunan suci berupa tumpukan batu yang sangat sederhana. Tidak terdapat motif ukiran, geometri ataupun ornament ukiran.
Walau memiliki penampakan sederhana, namun bebaturan memiliki fungsi serupa dengan bangunan suci Hindu lainnya. Kesedehanan bentuk ini tidak pula mengurangi nilai simbolik dalam bebaturan.
Sebagai bangunan suci, bebaturan memiliki fungi yang sama dengan bangunan suci Hindu lainnya. Bahkan bebaturan di Pura Purohita dikatakan sebagai cikal bakal keberadaan Pura Purohita serta merupakan pusat pelaksanaan ritual saat hari-hari yang dianggap suci.
Posisi tugu di area Pura Purohita berada pada sudut pojok dekat dengan pancoran astha gangga sebagai tempat pengelukatan.
Baca Juga: Ary Kencana: Sosok Penyanyi Bali Idealis, Tetap Eksis dengan Lagu Lawas
Gedong di Pura Purohita selain memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan juga digunakan untuk menyimpan pralingga Ida Bhatara yang dipuja di Pura tersebut.
Pralingga atau arca yang sebelumnya ada dan ditemukan disekitar bebaturan ditempatkan disini untuk memudahkan dalam melakukan perawatan.
Mangku Gede Pura Purohita, Wayan Wirka mengatakan, Pura Purohita ini dibangun pada tahun 2011 silam. Pemedek pun yang nangkil tak hanya cukup sekali. Bahkan, ada diantara mereka yang nangkil berkali-kali.
“Di area jeroan pura terdapat 2 buah lingga. Satu lingga lainnya beukuran sangat yaitu 5,92 meter dengan keliling lingkaran mencapai 8,70 meter sehingga Pada tanggal 10 april 2015 Museum Rekor Indonesia (MURI) menobatkan lingga ini sebagai lingga siwa tertinggi di dunia,” jelasnya.
Pelinggih Lingga Siwa ini diyakini memiliki kekuatan misterius yang mampu membantu dalam melakukan konsentrasi pikiran. Dengan melihat lingga simbol dari Dewa Siwa akan membantu pikiran akan mencapai satu titik penyatuan.
Upacara piodalan di Pura Purohita jatuh pada Saniscara Paing Wuku Ukir namun pelaksanaan piodalan hanya diambil sekali dalam setahun. Dalam piodalan di tengah tahun hanya matur piuning saja.
Baca Juga: Dua Kali Gauli Gadis 15 Tahun di Denpasar, Pemuda Banyuwangi Dituntut 12 Tahun Penjara
Ia menyebut sebelum Pandemi banyak pemedek yang datang dan terlibat dalam persiapan piodalan, namun saat pandemi piodalan dilakukan terbatas dalam jumlah orang. Piodalan dipusatkan di area utama mandala Pura Purohita dengan menurunkan semua Pratima sebelumnya.
Selain terdapat beberapa palinggih, arca, pratima maupun Lingga Siwa yang sangat besar, di pura ini juga terdapat patung Dewi Kwan Im di sebelah Lingga Siwa. Disini juga terdapat beberapa gedong sebagai tempat pemujaan terhadap leluhur.
Pemedek yang nangkil ke Pura Purohita juga kerap melakukan penyucian atau melukat. Prosesi pelukatan atau penyucian yang dilakukan oleh pemedek juga akan dipandu oleh pemangku di Pura Purohita.
Mangku Gede Pura Purohita, Wayan Wirka menjelaskan saat memasuki Pura Purohita, para pemedek akan mendapatkan informasi tentang tata cara dan tahapan-tahapan persembahyangan maupun proses melukat, pelinggih-pelinggih yang ada di kawasan pura, serta manfaat dari pemujaan yang dilakukan.
Baca Juga: Kotak Amal Viral, Dinsos Badung Bantah Lakukan Pengumpulan Dana
Proses penyucian dapat dilakukan di Pancoran Panglukatan Sapta Gangga. Pancoran ini begitu unik karena sumber mata air dari pancoran ini berasal dari pertemuan delapan sumber mata air murni yang diyakini bertuah kepada umat memperoleh kesucian, kesehatan, keharmonisan, dan kebahagiaan.
Uniknya, delapan pancuran yang posisinya melingkar sebut Mangku Gede Wayan Wirka masing-masing memiliki rasa yang berbeda bila dirasakan secara saksama. Tiap pancuran ada yang airnya terasa manis, pahit, sepet, dan lainnya. “Kejadian semacam ini tidak semua orang dapat merasakan dan mengalaminya,” sebutnya.
Selain dijadikan sebagai tempat untuk melakukan penyucikan diri (melukat) dan melakukan persembahyangan, juga sebagai tempat memohon kesejahteraan dan kemakmuran. Hal ini dibuktikan dengan disthanakannya pelinggih Ratu Subandar, sehingga tidak salah bila Pura Purohita ini sendiri dikenal sebagai Pura Siwa Budha.
Pratima Ratu Subandar ini Disthanakan di atas pelinggih berbentuk perahu dengan ornament atau hiasan dengan corak budaya Cina Thionghoa.
Baca Juga: Mangku Luwes Dituntut 20 Tahun Penjara: Terdapat Lima Hal Memberatkan, Tidak Ada Meringankan
Pratima Ratu Subandar diwujudkan dalam wujud patung Budha yang sedang tertawa sebagai simbol kebahagiaan dan sebagaimana yang pada umumnya diketahui Ratu Subandar merupakan salah satu wujud manifestasi Tuhan yang diyakini memberikan anugerah kemakmuran, kesejahteraan, rezeki dan kebahagiaan lainnya.
“Para pemedek yang tangkil dihadapan pelinggih Ratu Subandar khusus untuk memohon rejeki (nunas amerta), memohon kemakmuran dan kesejahteraan. Pelinggih ini sendiri disthanakan di dekat Telaga Segara Urip,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika