Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, I Gusti Agung Istri Purwati, menjelaskan Purnama dan Tilem berganti tiap-tiap 15 hari sekali. Setelah Purnama disebut Pangelong. Dua hari sebelum Tilem disebut Tiga Welas dan sehari sebelum Tilem dinamai Prawani. Setelah Tilem disebut Pananggal, dua hari sebelum Purnama disebut Tiga Welas, dan sehari sebelum Purnama disebut Purwani.
Pada hari Purnama mayoga Sang Hyang Wulan (Candra) dan pada hari Tilem mayoga Sang Hyang Surya, jadi pada hari PurnamaTilem adalah hari-hari pasucian Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Wulan.
Bagi orang-orang berilmu pada hari itu patut menyucikan diri (mahening-hening) dan mengadakan pemujaan kepada Dewa-dewa dan Bhatara, dilakukan di Sanggah Pamerajan dengan sarana bunga-bunga harum, seperti burat wangi dan Canang Tadah Sukla.
Agung Istri menyebut Canang burat wangi dijadikan satu dengan lenge wangi. Burat wangi biasanya dicirikan dengan alasnya menggunakan Taledan. Kemudian ditambah dengan kojong-kojong yang berisi (raka) tebu, pisang, tape.
“Selain sarana raka seperti pisang, tenu, di Canang ini juga mengandung dari minyak bunga, daun, akar, batang yang berbau harum sehingga disebut burat wangi,” ujarnya.
Ia mengatakan, Burat wangi ada yang warnanya hitam. Biasanya terbuat dari akar daun, bunga, batang dari tumbuhan yang harum. Itu disangrai, dicampur dengan malem. Sehingga menjadi minyak burat wangi. Lalu ditaruh di canang.
Kemudian satunya lagi adalah lenge wangi. Lenge itu bisa diartikan sebagai biji-bijian. “Kalau di Bali itu kacang-kacanan seperti kacang komak, itu dioreng, lalu ditumbuk halus, dicampur dengan madu. Jadilah minyak lenge wangi,” paparnya.
Sarana tersebut kemudian dicampur pada sarana porosan, diisi boreh miik yang terbuat dari serbuk cendana yang dicampur minyak wangi. Semua dipakai untuk menghias sehingga menjadi indah dan wangi.
“Setelah itu ditambahkan dengan Bunga yang harum juga. Seperti bunga sandat, bunga cempaka, pokoknya yang berbau harum. Jadi bisa bunganya sembarang, untuk menghias asalkan memiliki aroma yang harum,” paparnya.
Dalam Lontar Sundarigama disebutkan, saat Purnama adalah beryoganya Bhatara Candra dan saat Tilem yang beryoga adalah Bhatrara Surya sehingga yang dipersembahkan adalah wewangian yang berbau harum.
Namun, tidak menutup kemungkinan sarana ini juga sangat bisa dipersembahkan pada hari-hari biasa, selama mampu menyiapkannya setiap hari. “Sarana burat wangi ini juga bisa untuk melengkapi banten suci, seperti banten saraswati,” paparnya.
Baca Juga: Bio Farma Pamerkan Keberhasilan Program Imunisasi Global di DCVMN AGM 2025
Secara makn filosofis, Canang Burat wangi dapat dimaknai sebagai sarana pengampunan. Termasuk juga difungsikan sebagai sarana penyupatan atau pengeruat. Bahkan, tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai sarana Penyucian
Selain Burat Wangi, ada pula sarana yang bisa dihaturkan saat Purnama Tilem. Yakni sarana Tadah Sukla. Tadah sukla berasal dari kata tadah yang berarti makanan dan sukla yang berarti suci. Jadi, tadah sukla diartikan sebagai persembahan makanan yang disucikan.
I Gusti Agung Istri Purwati menjelaskan Tadah Sukla itu trdiri dari kacang merah, kacang putih atau kacang komak, Ubi, Talas (keladi) dan pisang. Ubi, talas adalah simbol makanan pala bungkah karena berasal dari bawah tanah. Sedangkan Kacang-kacangan, pisang simbol dari pala gantung.
“Sarana yang digunakan dalam Tadah Sukla ini juga sebagai simbol dari Sang Hyang Tri Purusa yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menguasai Tri Bhuwana yakni alam Bhur, Bwah, Swah,” ungkapnya.
Baca Juga: Bio Farma Jadi Co-Host DCVMN AGM 2025, Dorong Kemandirian Vaksin Negara Berkembang
Tadah Sukla juga ditambahkan dengan sarana berupa bunga yang berbau harum. Dikatakan Agung Istri, baik Canang Burat Wangi maupun Tadah Sukla keduanya ini dapat dihaturkan secara bersamaan saat Purnama dan Tilem. “Burat Wangi dan Tadah Sukla semua terbuat dari yang harum,” imbuhnya.
Lanjutnya, selama ini, selain mengenal Tadah Sukla, ada pula Tadah Pawitra. Namun, sarana dari Tadah Pawitra itu umumnya berasal dari bahan yang masih mentah.
“Sedangankan Tadah Sukla itu yang sudah matang. Jadi ini semua dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi saat Purnama dan Tilem. Jika dipersembahkan setiap hari juga tidak masalah,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika