Di Bali pada umumnya Padmasana berbentuk tahta batu segi empat. Di bagian puncaknya (sari) merupakan tahta (singgasana) tanpa atap yang menghadap ke depan. Padmasana diyakini sebagai lambang makrokosmos (alam semesta) yang pada prinsipnya adalah pengejawantahan bhuana agung (alam raya) sebagai sarana menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Siwa Adtya
Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Kadek Abdhi Yasa mengatakan, tatacara mendirikan palinggih Padmasana merujuk pada Lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Bhumi.
Disebutkan atribut yang melengkapi palinggih Padmasana itu adalah Bedawang Nala (simbol magma bumi) yang dililit naga Ananta Bhoga (simbol bumi) dan naga Basuki (sebagai simbol air). Pada bagian belakang Padmasana terdapat relief Garuda (simbol pembebasan), dan Angsa (sebagai simbol kebijaksanaan serta kesucian). Apabila ditemukan ada arca pada puncak palinggih Padmasana,
Bentuk palinggih Padmasana dapat dibagi atas tiga bagian yaitu Tepas atau bagian dasar, Batur atau bagian madya/badan, dan Sari bagian puncak. Pada bagian tepas, dasar palinggih Padmasana didukung oleh Bedawang Nala yang dibelit oleh Naga yang jumlahnya bisa satu atau dua ekor masing-masing sebagai simbol Hyang Basuki dan Hyang Anantaboga.
Pada bagian batur badan atau bagian madya palinggih Padmasana terdapat pepalihan atau tingkat. Jumlahnya selalu ganjil yakni 5, 7, dan 9 serta dilengkapi dengan hiasan Garuda dan Angsa di atasnya juga terdapat arca Astadikpalaka yang letaknya disesuaikan dengan pangider-ider.
Sedangkan pada bagian sari;pucak/puncak palinggih Padmasana berbentuk Singgasana yang terdiri atas ulon, tebing, dan badan dara. Posisi yang di ulon dapat diisi pahatan yang berwujud Hyang Acintya.
Menurut lontar Catur Wariga Winasasari, palinggih Padmasana dapat disebutkan berdasarkan letaknya. Untuk Padmakencana terletak di timur menghadap ke arah barat. Sedangkan Padmasana terletak di selatan menghadap ke arah utara.
Khusus Padmasari terletak di barat menghadap ke arah timur, Padmasana Lingga terletak di utara menghadap ke arah selatan, Padma Asta Sedana terletak di tenggara menghadap ke arah barat laut. Padmanoja terletak di barat daya menghadap ke arah timur laut. Padmakaro terletak di barat laut menghadap ke arah tenggara.
“Padmasaji terletak di timur laut menghadap ke arah baratdaya. Padmakurung terletak di tengah marong tiga menghadap ke arah lawangan (pintu ke luar),” sebutnya.
Bentuk palinggih Padmasana apabila ditinjau dari rong dan pepalihannya atau ruang dan undag, maka jenis Padmasana ada beragam. Diantaranya ada marong tiga (tiga ruang), rong kalih (dua ruang) dan rong siki (satu ruang).
Kadek Abdhi Yasa menambahkan, Padmasana Anglayang, marong tiga (tiga ruang), menggunakan Bedawang Nala dengan palih pitu (tujuh tingkat). Padma Agung, marong kalih (dua ruang), menggunakan Bedawang Nala dengan palih lima (lima tingkat).
Padmasana, marong siki (satu ruang), menggunakan Bedawang Nala dengan palih lima(lima tingkat). Padmasari, marong siki (satu ruang) dengan palih tiga (tiga tingkat) yaitu palih taman(bawah), palih sancak (tengah), dan palih sari (atas), tidak menggunakan Bedawang Nala.
Selanjutnya untuk pelinggih jenis Padma Capah memiliki spesifikasi marong siki (satu ruang) dengan palih kalih (dua tingkat) yaitu palih taman (bawah) dan palih capah (atas), tidak menggunakan Bedawang Nala.
Dikatakan Abdhi Yasa, ukuran besar dan kecil serta tinggi dan rendahnya palinggih Padmasana baik yang terdapat di Pura-Pura maupun di parahyangan merajan/sanggah, tempat ibadah di lingkunghan keluarga, seperti griya, puri, jero, paumahan belum ada ketentuan yang pasti.
Fungsi palinggih Padmasana berbeda menurut tempatnya. Misalnya, Padmasana yang terletak di timur sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Iswara. Padmasana yang terletak di selatan sebagai linggih sekaligus tempat untuk memuja Ida Sang Hyang Brahma.
Padmasana yang terletak di barat sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Mahadewa, Padmasana yang terletak di utara sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Wisnu.
Padmasana yang terletak di timur laut sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Siwa Raditya, Padmasana yang terletak di tenggara sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Mahesora/Maheswara.
Padmasana yang terletak di barat daya sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Rudra dan Padmasana yang terletak di barat laut sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Sang Hyang Sangkara.
Sedangkan Padmasana yang terletak di tengah-tengah disebut Padma Kurung memakai rong tiga/telu / terdiri atas tiga ruang) di puncaknya sebagai linggih sekaligus tempat umat memuja Ida Bhatara Samodaya.
“Kalau mengacu pada lontar Wariga Catur Winasasari, maka Padmasana berdasarkan jenis dan lokasinya ditentukan menurut pangider-ider sehingga terdapat sembilan jenis Padmasana,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika