Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd menegaskan bahwa Galungan harus ditempatkan sebagai upaya memelihara Dharma, bukan sekadar kegiatan ritual yang dijalankan secara rutin.
Ia menyebutkan bahwa secara filosofis, Galungan merupakan pengejawantahan kemenangan Dharma atas Adharma, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai sastra Hindu.
Salah satu rujukan penting yang ia angkat berasal dari Bhagavadgita V.22: ye hi saḿsparśa-jā bhogā duḥkha-yonaya eva te… yang mengingatkan bahwa kenikmatan indria hanyalah sumber penderitaan, karena bersifat sementara dan tidak memberikan kebahagiaan sejati.
Irma menekankan bahwa ajaran tersebut memberi pesan bahwa kemenangan sejati dalam kehidupan bukanlah keberhasilan duniawi atau pencapaian materi, melainkan kemampuan manusia menguasai keinginan, mengendalikan amarah, meredakan kecemasan, serta menahan godaan-godaan luar yang terus hadir dalam kehidupan modern.
Pandangan ini selaras dengan Sarasamuscaya 25 yang menyebut Dharma sebagai unsur paling utama untuk menjadikan kehidupan manusia bernilai luhur.
Namun, Irma melihat bahwa tantangan Adharma di era digital tidak lagi hadir sebagai kejahatan besar atau tindakan destruktif, melainkan dalam bentuk-bentuk yang halus dan sering kali tak disadari.
“Sekarang Adharma muncul dalam bentuk kecanduan layar, rasa iri yang muncul ketika membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial, kemarahan akibat komentar negatif, hingga hilangnya kualitas sembahyang karena perhatian terbagi,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena semakin maraknya perilaku umat yang menjalankan ritual namun teralihkan oleh teknologi.
“Penjor dibuat lebih untuk foto, bukan penghormatan. Persembahyangan dilakukan sambil mengecek pesan pekerjaan. Banten dibeli bukan karena efisiensi, tetapi karena waktu habis untuk dunia digital,” jelas Irma.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan betapa dunia digital mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan manusia.
Pandangan Irma diperkuat oleh Bhagavadgita III.39 yang menyebut bahwa keinginan yang tak pernah puas menjadi musuh abadi manusia, karena menutupi pengetahuan sejati. Dalam konteks kekinian, keinginan itu menjelma dalam bentuk notifikasi tanpa henti, kebiasaan scrolling tanpa arah, pencarian validasi di media sosial, dan ketergantungan pada dunia virtual.
Dengan demikian, Galungan hadir sebagai momentum untuk membersihkan batin, menata kembali kesadaran, dan mengembalikan manusia pada pusat spiritualnya.
Irma menjelaskan bahwa ajaran Tattwa Jnana telah lama menggambarkan kehidupan sebagai maya—ilusi yang mengikat kesadaran manusia.
Dunia digital mempertebal ilusi itu dengan menghadirkan avatar, filter kecantikan, citra diri buatan, serta konsumsi informasi yang tidak terkendali. “Galungan mengajak umat kembali pada svarupa, jati diri terdalam, untuk mengenali esensi diri di balik lapisan-lapisan maya digital,” tambahnya.
Dalam proses menyambut Galungan, umat Hindu melalui tahapan ritual yang berkaitan dengan penyucian diri dan lingkungan, seperti Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, penyekeban, penyajaan, penambahan, persiapan banten, pemasangan penjor, malukat, mebakti, hingga puncak Galungan dan Manis Galungan menuju Kuningan.
Seluruh rangkaian itu sesungguhnya merupakan proses nyomya—upaya menundukkan energi negatif dalam diri. Namun, Irma menilai bahwa sebagian umat kini lebih fokus pada pelaksanaan ritual daripada penghayatan makna spiritualnya.
Ia mengingatkan pesan dalam Sarasamuscaya 478 yang menegaskan bahwa Dharma tumbuh dalam keheningan. Karena itu, di tengah kebisingan digital, umat perlu menciptakan ruang hening, ruang jeda batin, agar nilai spiritual Galungan dapat dihayati secara utuh.
“Hening adalah kunci agar Dharma bisa tumbuh dalam diri. Tanpa keheningan, ritual menjadi rutinitas,” tegasnya.
Untuk mengembalikan kemenangan Dharma di tengah hiruk-pikuk zaman, Irma menawarkan beberapa langkah sederhana namun bermakna. Pertama, meluangkan setidaknya tiga menit untuk memejamkan mata dan mengatur napas sebelum melaksanakan aktivitas spiritual.
Kedua, menonaktifkan notifikasi gawai saat membuat banten, memasang penjor, atau melakukan persembahyangan agar umat dapat hadir sepenuhnya tanpa gangguan. Ketiga, mengubah orientasi dari memamerkan ritual ke media sosial menjadi berbagi nilai dan pendidikan Dharma kepada generasi muda.
Ia juga mengutip ajaran Bhagavadgita XVII.16 mengenai tapa batin yang berisi kesederhanaan, keheningan, dan pengendalian diri, sebagai nilai-nilai penting yang perlu diperkuat di era digital. “Ritual boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi kesadaran spiritual tidak boleh diperkecil nilainya,” kata Irma.
Dalam perspektif mitologi, Galungan dikenal sebagai kemenangan Dewa Indra atas Raja Mayadenawa. Namun, dalam realitas kehidupan modern, Galungan merepresentasikan kemenangan manusia atas emosi dan ego, kemarahan yang berhasil dikendalikan, kecanduan digital yang mampu ditundukkan, serta kemampuan memilih cinta dan kebijaksanaan di atas gengsi. “Itulah hakikat Galungan: kemenangan batin, bukan kemenangan luar,” tegas Irma.
Pesan tersebut diperkuat oleh Sarasamuscaya 2 yang mengingatkan bahwa hanya manusia yang mampu mengubah perbuatan buruk menjadi baik. Karena itu, siapa pun yang memelihara Dharma sesungguhnya sedang memelihara dunia.
Irma menegaskan bahwa digitalisasi adalah bagian dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari. Tantangannya bukan pada menolak teknologi, tetapi bagaimana menguasai diri agar teknologi tidak menguasai batin.
“Galungan adalah pengingat bahwa kemenangan Dharma bukan peristiwa ritual, melainkan transformasi kesadaran,” ujarnya.
Ketika manusia mampu hadir penuh, jujur pada diri, menguasai indria, dan berjalan di jalan Dharma, maka nilai Galungan menjadi nyata meskipun dunia terus bergerak dalam arus digital.
“Galungan adalah napas yang menyatukan manusia dengan leluhur, tradisi dengan masa depan, serta Dharma dengan teknologi zaman,” tutup Irma. (dik)
Editor : I Putu Mardika