Keberadaan keduanya bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan instrumen teologis yang diyakini menentukan perjalanan Jiwatman menuju alam pitra dan akhirnya mencapai moksa.
Cendikiawan Hindu, Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana dalam Yudha Triguna Channel menjelaskan secara ideal, beberapa jenis toya wajib disiapkan dalam upacara pengabenan. Pertama, Toya Ening atau Toya Empul, yakni air jernih yang diperoleh langsung dari sumber mata air sebagai lambang kemurnian.
Kedua, Kumkuman, campuran air dengan bunga-bunga harum yang berfungsi sebagai penyegar dan penyuci. Selanjutnya, Temuku Aya atau Toya Panembak, dan Toya Panembak Banjar yang disiapkan oleh banjar adat melalui Kelian Adat.
“Empat jenis air ini menjadi dasar pelaksanaan upacara, terutama pada tahap-tahap awal penyucian jasad dan simbolisnya,” ungkapnya.
Selain toya, tirta menempati posisi sentral. Tirta yang dipersiapkan dalam pengabenan meliputi Tirta Pengelukatan atau Tirtha Payuk Panglukatan, sebagai sarana pembersihan awal; Tirta Pembersihan atau Tirtha Siwambha; Tirtha Widdhi, juga dikenal sebagai Tirtha Wangsuhpada atau Banyun Cokor; serta Tirta Kekuluh.
Baca Juga: Astra Motor Bali Edukasi Safety Riding Indonesia Youth Road Safety Warriors 2025 di Poltrada Bali
Tirta-tirta lainnya termasuk Tirta Merajan (Kemimitan) dan Tirta Pura Swagina, seperti Tirta dari Pura Bale Banjar, Melanting, Taman, dan Subak.
Salah satu tirta yang paling menentukan adalah Tirta Pengentas, yaitu tirta khusus untuk membebaskan Jiwatman dari keterikatan duniawi. Tirta pengentas mencakup tiga jenis: Tirta Pengentas Pakingsan (Pendem), Tirta Pengentas Pamuput, dan Tirta Pengentas Dalem.
“Ketiganya digunakan pada tahap berbeda dalam rangkaian pengabenan, namun fungsi utamanya serupa: membebaskan, melepas, dan mengantar Jiwatman menuju alam pitra,” paparnya.
Secara etimologis, tirta berarti air suci, sedangkan pengentas berasal dari kata entas yang berarti melepaskan. Tirta pengentas dimaknai sebagai air suci untuk melepaskan atma dari belenggu material.
Konsep ini disebutkan dalam berbagai sumber pustaka suci Hindu. Dalam Rg-Veda dan Yajur-Veda, air (apah) dipandang sebagai elemen suci, pembawa kehidupan, sekaligus penyuci yang menghapus kotoran lahir dan batin.
Dalam Lontar Yama Purwana Tattwa disebutkan: “Sang atma wus pejah saking sarira, tan wenang ngalantur ring swarga yening tan kasucian antuk tirta pangentas.” Artinya, atma yang telah berpisah dari jasad tidak dapat menuju surga bila belum disucikan dengan tirta pangentas.
Baca Juga: Nyonya Rasniathi Adi Arnawa Terima Studi Tiru Dekranasda Bolaang Mongondow
Sementara itu Lontar Siwa Tattwa menegaskan: “Sang Hyang Siwa linggih ring tirta, sira ta pinaka pangentas papa, sira ta ngentasang atma ring sarira sekala.” Artinya, Sang Hyang Siwa berstana dalam air suci dan bertindak sebagai pengentas dosa penyebab keterikatan duniawi.
Dalam Lontar Sang Hyang Aji Pangentas, ditegaskan pula bahwa tirta pengentas harus bersumber dari lingga Siwa agar sah sebagai sarana pelepasan, sebab lingga adalah sumber amerta atau kehidupan abadi. Pandita atau Sulinggih yang membuat tirta ini harus melalui tahapan penyucian diri Mapulang Lingga atau Paripurna Diksa.
Pembuatan tirta pengentas melalui proses yang kompleks dengan sarana khusus. Di antaranya Priyuk berdiameter 10–20 cm yang ditulisi dasa aksara sebagai wadah utama; Payuk Pere yang ditulisi aksara dasa bayu; serta berbagai pripih seperti cendana, emas, perak, tembaga, dan besi.
“Bahan lainnya termasuk mirah (pudi), potongan tebu, potongan kayu gaharu, jepun, nagasari, serta sembilan atau dua belas jenis bulih padi,” ungkapnya.
Tak hanya itu, terdapat pula daun dapdap, bija ratus dari berbagai buah kering, kalpika, karowista, serta kelepikan bunga jepun putih. Dalam beberapa upacara, ditambahkan pula kitir Ulantaga, merujuk pada ajaran dalam Lontar Aji Pangentas yang menyebut Sang Hyang Ula Antaga sebagai pengentas roh yang berputar dalam samsara.
“Ula” melambangkan roh yang terus berputar, sementara “Antaga” melambangkan kekuatan Siwa yang mengakhiri putaran itu.
Selain sebagai sarana pembersihan, tirta pengentas membuka jalan Jiwatman memasuki Pitara Lokha, sebelum menuju tahapan berikutnya melalui upacara nyekah atau mamukur. Tahap ini menjadi momentum penting dalam keyakinan Hindu Bali, yakni upaya memurnikan dan membebaskan atma untuk mencapai moksa dan bersatu dengan Brahman.
Baca Juga: Bupati Satria Hadiri SMV Business Forum 2025, Dorong Potensi Daerah dan Investasi Hijau
Keberadaan toya dan tirta dalam upacara pengabenan memperlihatkan bagaimana ajaran-ajaran dalam lontar, Veda, dan tradisi lokal menyatu dalam praktik ritual yang hidup hingga kini.
“Upacara kematian dalam perspektif Hindu Bali bukan hanya proses perpisahan, melainkan perjalanan spiritual yang dipersiapkan dengan menjaga kesucian, ketelitian, dan penghormatan penuh terhadap leluhur dan sumber-sumber suci,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika