Praktisi usada Bali, Gede Sutana, mengatakan, dalam Lontar Taru Pramana secara mitologi tumbuh-tumbuhan itu dapat berbicara dan menceritakan khasiat dirinya. Setiap tumbuh-tumbuhan menyatakan dirinya dapat menyembuhkan suatu penyakit tertentu, baik pada daunnya bunganya, buahnya, kulitnya, akarnya, bahkan kayunya.
Hal itu dapat dibuktikan dalam kutipan berikut ini; “…Titiang wit dapdap tis wawu rawuh , babakan titiange dados anggen tamba bengka , rawuhing katumbah bolong 11 besik , uyah areng pinipis, pres saring , tahapakna…”.
“…Titiang wit kelor daging tis engket barak nyem , akah panes, dawun titiange dados anggen tamba sakit mata, rawuhing jeruk lengis , uyah areng saring degdegang, tutuh netrania…”.
Terjemahannya: “… Saya ini adalah akar dari pohon dapdap yang dapat menyejukkan, kulit saya dapat dipakai obat perut kembung, dicampur dengan ketumbar 11 biji dicampur dengan garam dilumatkan kemudian diperas airnya dijadikan jamu lalu diminum…”
“… Saya adalah pohon kelor, kulit saya sejuk (tis), getahnya merah yang juga dingin, akar saya panas, daun saya dapat dipakai obat sakit mata dicampur dengan jeruk nipis, dan garam kemudian dilumatkan dan ditambah air, kemudian didiamkan lalu disaring, kemudian dipakai untuk mengobati mata…”
Sutana yang juga akademisi IAHN Mpu Kuturan Singaraja ini menyebut, sungguh besar manfaat tumbuh-tumbuhan sebagai obat untuk kesehatan manusia yang tidak menimbulkan efek samping. Untuk itulah keberadaan lontar Taru Pramana perlu disebarluaskan dalam masyarakat sehingga keberadaan tumbuh-tumbuhan perlu dilestarikan.
“Minimal upaya pelestarian kita lakukan dengan cara menanam tumbuhtumbuhan itu minimal dalam pekarangan dalam rumah tangga. Dengan demikian akan dapat melestarikan lingkungan hidup,” ujarnya.
Dalam Taru Pramana semua tumbuh-tumbuhan menyatakan dirinya dapat dijadikan obat ketika ia dicampur dengan tumbuh-tumbuhan yang lainnya dengan presentase tertentu. Setiap campuran ada yang dihaluskan kemudian ditambah dengan air lalu diminum dipakaikan jamu.
Adapula dipakai untuk bedak ketika menyembuhkan kulit. Setiap tumbuh-tumbuhan yang diuraikan dalam Taru Pramana dapat menjadi obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit.
Mitologi tumbuh-tumbuhan yang dapat berbicara dalam lontar Taru Pramana berkat anugrah dewa dari kahyangan kepada seorang raja yang bernama Mpu Kuturan. Sehingga dapat berkomunikasi kepada semua tumbuh-tumbuhan tentang tujuan dan manfaatnya dalam pengobatan segala macam penyakit.
“Ini memberikan amanat kepada manusia bahwa semua mahluk hidup didunia ini termasuk tumbuh-tumbuhan bermanfaat untuk kehidupan. Oleh karena itu sangat diperlukan untuk penelitian tentang manfaat dan pengolahan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat,” paparnya.
Bawang putih atau Kesuna adalah salah satu tanaman yang berkhasiat obat yang disebutkan dalam Lontar Usada Taru Pramana. Kasuna (bawang putih) berfungsi untuk membantu dan mengobati beberapa penyakit, seperti Penyakit Beteg (beri-beri).
Caranya, daun, akar, getah kulit dan Kasuna jangu, mayeh cuka. Kemudian dapat diolah dengan cara dihaluskan, disaring, diminum atau bisa juga menggunakan bahan lain seperti kulit pada pohon Bila, Kasuna jangu, yeh cuka (air cuka) dapat diolah dan digunakan sebagai boreh.
Selain itu, Kesuna juga bisa mengobati Penyakit Puruh atau vertigo. Penyakit ini dapat diobati dengan bahan-bahan seperti daun pengeng-pengeng dan kasuna jangu. “Pengolahannya dengan cara diulig atau diratakan dengan halus, kemudian semua bahan lalu tempelkan pada dahi,” ungkapnya.
Penyakit Rangsek atau sesak nafas dapat diobati dengan bahan-bahan seperti Daun Kuanta, Kasuna jangu, temu tis kemudian diolah dengan cara dikunyah halus lalu semburkan pada dada yang sakit.
Selanjutnya, penyakit batuk juga dapat diobati dengan Daun Bunut Bulu, Kasuna jangu, kemudian pengolahannya dapat dikunyah halus lalu semburkan di dada.
Ia menambahkan, kesuna atau bawang putih dalam pengobatan berkhasiat sebagai antibakteri, antimikotik, dan antioksidan yang telah dibuktikan sengan baik melalui penelitian. “Jadi kesuna itu memiliki fungsi yang vital dalam pengobatan Usada Taru Pramana, sehingga sering digunakan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika