Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Istri Sasana ungkap Peran Perempuan: Jaga Martabat ibarat perempuan Kendran

I Putu Mardika • Rabu, 10 Desember 2025 | 02:18 WIB

 

Dosen Teologi Hindu, Yunitha Asri Diantari
Dosen Teologi Hindu, Yunitha Asri Diantari
BALIEXPRESS.ID-Seorang wanita tidak ada habisnya diulas dalam berbagai naskah lontar. Salah satunya adalah Lontar Istri Sasana. Isi teks ini juga sangat menarik. Secara umum isinya berkisar tentang perilaku yang wajib diketahui untuk dilakukan oleh seorang perempuan. Tidak itu saja, bahkan kaum laki-laki pun wajib memahaminya agar kelak tidak terjadi sesuatu yang kurang baik dalam menata rumah tangga.

Dosen Teologi Hindu, IAHN Mpu Kuturan, Ni Made Yunitha Asri Diantari menjelaskan kaum perempuan dalam Lontar Istri Sasana disebutkan agar berhati-hati menjaga diri, karena seorang perempuan sudah pasti disemayami Sanghyang Ratih.

Dalam Lontar Istri Sasana secara gambling disebutkan agar sang perempuan menjaga kesehatan fisik. Hal itu tertuang dalam kutipan: Krana jani patibratane jalanang, apang matoya sai, nyapuh dasa mala, mangun gunaning awak, purnama tilêm mabrêsih, mamatut payas, nrapang sarwa wêwangi.

Terjemahannya: ‘Itulah sebabnya sekarang berpantangan harus taat, agar selalu mandi, (untuk) menghilangkan dasa mala (sepuluh noda), (untuk) menghidupkan potensi diri, melakukan pembersihan setiap bulan purnama dan tilem (paro gelap), berhias, mengolesi dengan wewangian.

Jika dicerna, teks tersebut mengarahkan pentingnya bagi seorang wanita untuk melakukan sesuatu, apa yang boleh apa yang tidak boleh dilakukan. Sehingga betul-betul menjadi seorang perempuan yang berkepribadian, yang bermartabat ibarat keutamaan seorang perempuan di sorga (kendran).

Menjadi seorang perempuan sangat berat, diibaratkan sekuntum bunga yang sedang mekar dengan aroma wangi yang semerbak.

“Di sisi lain, seorang laki-laki diibaratkan sebagai seekor kumbang yang tiada henti mencari dan menikmati aroma harumnya kembang, terlebih lagi bunga yang baru mekar yang menawarkan kesegaran untuk menikmati manisnya madu,” kata Yunitha.

Menariknya, Lontar Istri Sasana juga menguraikan tata cara memilih waktu untuk menikah atau melakukan persenggamaan. Jika dilakukan pada bulan pertama (Kasa, sekitar bulan Juni-Juli) akibatnya anak akan mati, meninggal dalam kandungan karena keracunan plasenta.

Bila pernikahan dilakukan di bulan Karo (kedua, sekitar bulan Juli-Agustus) akibatnya miskin, banyak utang, tidak dipercaya orang, pakaian hanya yang melekat di badan.

Selanjutnya apabila menikah dilakukan di bulan Katiga (sekitar bulan Agustus-September) pahalanya cepat punya anak, mudah lahir laki-laki maupun perempuan. cukup sandang, pangan, dan papan.

Begitu pula jika perkawinan dilakukan di bulan Kapat (sekitar bulan September-Oktober) pahalanya menjadi orang kaya, menjadi pengusaha, banyak barang mewah, menguasai perdagangan.

Lalu apabila pernikahan dilakukan pada bulan Kalima (sekitar bulan Oktober-November) pahalanya sang istri penuh pengabdian, pintar mengatur rumah tangga, pandai melayani suami, tak ingin berpisah karena sangat cinta.

Jika pernikahan dilakukan di bulan Kannem (sekitar bulan November-Desember) akibatnya aura panas sang istri sangat dominan, seringkali menyebabkan kematian suaminya, bisa mati mendadak karena tidak mendapat pertolongan orang lain.

Pernikahan yang dilakukan di bulan Kapitu (sekitar bulan Desember-Januari) pahalanya sangat disukai warga sekitar, handai taulan, tidak pernah kehilangan, setiap yang dicari pasti didapatkan, jika berjualan pasti mendapat untung.

Kemudian apabila pernikahan dilakukan di bulan Kaulu (Kedelapan, sekitar bulan Januari-Februari) akibatnya beruju kematian, kematian pada seluruh anggota keluarga, jika tidak mati bisa menjadi gila, membakar rumah, menimpa enam larangan (sad tatayi).

Jika pernikahan dilakukan di bulan Kasanga (Kesembilan, sekitar bulan Februari-Maret) akibatnya seperti orang gila, sering kali menjadi kambing hitam (dituduh), didenda, sakit menahun, tidak pernah sehat bahkan hampir-hampir mati, kurus karena penderita koh (batuk-batuk), badan kurus kering.

Pernikahan yang dilaksanakan bulan Kadasa (Kesepuluh, sekitar bulan Maret-April) pahalanya sangat baik, selamat, semua orang mencintai dan menyayangi, raja memberi kekayaan, pendeta dengan senang hati memberi pelajaran, nasihat yang baik-baik, semuanya didapatkan.

Jika pernikahan dilakukan di bulan Jyesta (sekitar bulan April-Mei) pahalanya menjadi orang kaya, kekayaan datangnya tidak disangka-sangka entah dari mana asalnya, setiap hari bisa berfoya-foya, setiap yang dikerjakan berhasil, sangat disegani, hidup bahagia.

Selanjutnya apabila pernikahan dilakukan pada bulan Asadha (sekitar bulan Mei-Juni) akan berdampak pada kesulitan hidup, banyak kerjaan tapi tidak menghasilkan, kelaparan setiap hari, tidak sempat mengurus diri, sibuk kesana kemari tidak karuan, selain itu sibuk berobat kesana kemari.

“Ini yang diungkapkan di dalam lontar Istri Sasana. Namun, kini bisa dilihat ada berbagai perubahan juga dalam pelaksanaan waktu perkawinan. Tetapi sesuai dengan desa kala patra,” imbuhnya. 

Lontar Istri Sasana juga banyak mengulas tentang kata kangkang. Kata kangkang berarti hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang perempuan. Kangkang dalam pemahaman masyarakat sehari-hari adalah hasrat ingin menguasai, mau menang sendiri, kaku, keras, egois, dan sejenisnya.

Ni Made Yunitha Asri Diantari menyebutkan seorang istri harus menghargai sang suami ataupun sebaliknya. Jika diibaratkan sepasang sapi ketika membajak, harus saling menghargai dan bekerja sama yang baik karena satu beban dan harus dipikul berdua, segala perilaku harus seirama.

“Melangkah bersama itu diibaratkan seperti yoga dengan satu tujuan. Beban harus dipikul bersama-sama untuk mendapatkan manfaat bersama, harapannya untuk mendapatkan keharmonisan” ungkap Yunitha.

Lontar Istri Sasana juga mengajarkan agar seorang istri harus hati-hati berkata-kata kepada suam. Dimana, seorang istri dilarang untuk bersikap emosional, ringan tangan, pemarah dan sejenisnya.

Dalam kutipan lontar disebutkan: Ada kangkang badohos kêrêng macara, mamugpug sai-sai, jêmbung piring pinggan, gêmpung tuling caratan, pane paso gêntong jasi, tunggal pêkênan, tuara suud mamêli”.

Artinya: ‘Ada yang disebut kangkang badohos suka membuat masalah (emosional), setiap hari menghancurkan (sesuatu), cawan piring mangkok, kendi, tempayan, setiap hari pasaran selalu membeli’.

“Untuk itu, seorang istri diajarkan lebih bersabar dan tidak suka mencari masalah. Sehingga sangat jelas ajaran dalam Lontar Istri Sasana ada hal-hal baik yang boleh dilakukan dan buruk yang tidak boleh dilakukan oleh seorang perempuan,” singkatnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#teks #wanita #Lontar Istri Sasana #hindu #perempuan #suami