Keberadaan meru tingkat sebelas ini menandai posisi Bengkala sebagai salah satu pusat kebudayaan dan spiritual tertua di Buleleng, dengan sejarah yang terlacak hingga abad ke-12.
Jejak kuno tersebut diperkuat dengan penemuan Prasasti Paduka Maharaja Sri Jaya Pangus yang bertarikh 1103 Masehi, bertepatan dengan 22 Juli 1181.
Prasasti ini ditemukan pada 1971 dan menjadi bukti historis bahwa Bengkala telah menjadi bagian penting dari sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat Bali Kuno.
Temuan tersebut sekaligus menegaskan bahwa wilayah ini sejak lama memiliki struktur keagamaan yang mapan.
Prasasti itu tidak hanya mencatat eksistensi Desa Bengkala, tetapi juga mengungkap peristiwa penting berupa penetapan Meru Tumpang 11 di Pura Desa Bengkala. Sebuah penanda bahwa tempat ini telah menjadi pusat pemujaan, ritual, dan aktivitas masyarakat adat sejak ratusan tahun yang lalu.
Dalam kosmologi Hindu Bali, Meru Tumpang 11 dianggap sebagai representasi Gunung Mahameru, gunung tertinggi dan paling suci yang menjadi poros alam semesta. Meru tertinggi ini biasanya ditempatkan di pura-pura yang memegang peranan pusat dalam struktur desa adat.
Meru tumpeng solas ini melambangkan tingkatan alam tertinggi, lambang kesempurnaan, serta jalan spiritual menuju harmoni dengan alam semesta.
“Fungsinya tidak hanya sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur, tetapi juga sebagai simbol kesejahteraan, kedamaian, dan perlindungan bagi seluruh warga desa,” ungkap Gede Adryel yang merupakan warga Desa Bengkala.
Ia menambahkan menjelaskan bahwa meru tersebut menjadi fondasi spiritual bagi kehidupan masyarakat setempat.
“Meru tumpang sebelas dibangun sebagai tempat bersemayamnya para dewa-dewi serta roh leluhur suci yang dipuja dari segala penjuru. Bagi kami, meru ini adalah simbol Gunung Mahameru, lambang alam tertinggi untuk mencapai kedamaian dan kerahayuan,” ujarnya.
Menurut keyakinan masyarakat setempat, Meru Tumpang 11 dipandang sebagai manifestasi Tuhan sebagai Hyang Pencipta, atau Brahman, yang mengatur keseimbangan alam dan kehidupan manusia. Makna itu terlihat dalam berbagai simbol, ritual, dan tata cara pemujaan yang diwariskan turun-temurun.
Selain keunikan arsitektural dan spiritual, Desa Adat Bengkala juga dikenal memiliki identitas adat yang sangat kuat. Adat istiadat yang berlaku di desa ini berbeda dengan desa-desa adat lainnya, termasuk dalam hal interaksi sosial.
Keberadaan Meru Tumpang 11 yang sangat sakral menjadikan aturan adat terkait cara berkomunikasi dan berinteraksi menjadi sangat ketat. Bahkan, menurut tradisi adat setempat, seorang Brahmana atau Ksatriya yang datang dari luar Bengkala dapat mengalami kesulitan beradaptasi jika tidak mengikuti adat dan kebiasaan lokal.
Aturan-aturan tersebut mencerminkan betapa tinggi penghormatan masyarakat Bengkala terhadap kesakralan wilayahnya. Nilai-nilai adat tersebut kemudian dipertahankan sebagai identitas kolektif dan penjaga keharmonisan sosial desa.
Menariknya, tanggung jawab menjaga Meru Tumpang 11 tidak hanya dibebankan kepada krama desa wed, yaitu warga asli Desa Bengkala. Warga krama tamiu mipil, yakni pendatang atau warga tempekan yang telah diterima secara adat, memiliki tanggung jawab yang sama besar.
“Tanggung jawab merawat meru tidak hanya milik warga asli saja, tetapi juga krama desa tamiu yang sudah sah menjadi bagian desa adat. Semua berkewajiban menjalankan swadharma, baik dalam perawatan struktur meru maupun upacara-upacara besarnya,” jelasnya.
Konsep kebersamaan tersebut menjadi dasar kehidupan adat Bengkala, sekaligus memastikan pelestarian meru berlangsung lintas generasi.
Puncak ritual di Pura Desa Bengkala adalah Puja Wali (Odalan) yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali, tepat pada Purnama Sasih Kasa. Upacara ini menjadi momen spiritual tertinggi dan melibatkan seluruh masyarakat adat.
Sebelum puncak odalan, terdapat beberapa tahapan besar seperti Napak Pertiwi (Mecaru), Persiapan banten, Puja bhakti dan Ngaturang piuning sebagai permohonan izin kepada leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Upacara ini dipimpin oleh para pemangku yang memegang peran penting untuk memastikan seluruh rangkaian ritual berjalan sesuai pakem Dresta dan Dharma Sastra.
Selain ritual, meru juga menjalani proses perawatan fisik dan spiritual. Perbaikan struktur dilakukan sesuai aturan sastra agar tidak melanggar kesucian bangunan. Seluruh proses ini dianggap sebagai bentuk bakti masyarakat kepada Hyang Widhi dan leluhur.
Pura Desa Bengkala terletak di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 250 meter di atas permukaan laut. Lingkungannya sejuk dan dikelilingi panorama yang khas Buleleng Utara.
Letaknya sekitar 5 kilometer dari pusat Kecamatan Kubutambahan, menjadikannya mudah diakses namun tetap mempertahankan suasana rural yang hening dan sakral.
Meru Tumpang 11 di Pura Desa Bengkala bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga simbol keberlanjutan budaya Bali. Keyakinan masyarakat dalam menjaga dan merawat bangunan suci ini menunjukkan betapa kuatnya kesadaran mereka terhadap warisan leluhur.
“Bagi kami, meru ini bukan hanya bangunan suci, tapi sumber kehidupan. Selama meru ini dijaga, keseimbangan desa akan tetap terpelihara,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika