Di sanalah Blayag yang merupakan makanan tradisional khas Desa Penglatan terus hidup, tak sekadar sebagai sajian kuliner, tetapi sebagai kisah panjang tentang tradisi, ketekunan, dan perjuangan hidup.
Blayag atau belayag adalah makanan tradisional berbahan dasar ketupat lonjong yang dibungkus daun janur. Namun jangan keliru, blayag bukan sekadar ketupat biasa. Di atas potongan ketupat itu, tersaji sahur atau kelapa parut yang digoreng bersama bumbu khas disandingkan dengan sambal goreng, kedele atau kacang kedelai, daging ayam, serta aneka sayuran.
Seluruhnya kemudian disiram kuah kental berwarna kuning yang menjadi ciri utama blayag Penglatan. Kuah inilah yang membuat blayag begitu melekat di lidah: gurih, lembut, dan kaya rempah.
Bagi masyarakat Penglatan, yang berjarak sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Singaraja, blayag bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ia adalah warisan turun-temurun yang diracik dengan kesabaran dan ketelatenan.
Tak semua orang bisa membuat blayag dengan rasa yang pas. Masyarakat meyakini bahwa blayag Penglatan memiliki keunikan tersendiri, baik dari bumbu maupun proses pengolahannya, yang tidak ditemui di daerah lain di Buleleng.
“Di Buleleng memang banyak penjual blayag, tapi blayag dari Desa Penglatan itu beda. Rasa bumbunya lebih kuat dan menyatu,” ujar Melda, warga setempat. Kunci utamanya, menurut para peracik blayag, terletak pada kelengkapan rempah dan pemilihan bahan.
Ayam kampung menjadi pilihan utama karena teksturnya lebih legit dan mampu menyerap bumbu dengan sempurna. Kedelai yang digunakan pun menambah nilai gizi, menjadikan blayag tak hanya lezat, tetapi juga mengenyangkan dan bernutrisi.
Di antara deretan penjual blayag di Penglatan, nama Nyoman Sumarni menjadi salah satu yang paling dikenal. Selama 35 tahun, perempuan sederhana ini konsisten menekuni satu rutinitas: memasak dan menjual blayag. Setiap sore, sejak pukul empat hingga enam, warung kecilnya menjadi tempat singgah warga dan para pelintas jalan yang rindu rasa blayag autentik.
Berawal dari kecintaannya memasak dan kebutuhan menyekolahkan anak-anak, Sumarni memberanikan diri membuka usaha blayag. Waktu berjalan, pelanggan datang silih berganti, namun satu hal tak pernah berubah: cita rasa.
“Yang paling penting itu bumbunya harus lengkap supaya meresap ke daging ayam,” tuturnya. Ia mengaku selama puluhan tahun berjualan, hampir tak pernah menerima komplain soal rasa. Baginya, menjaga kualitas adalah bentuk tanggung jawab kepada pelanggan.
Blayag racikan Sumarni disajikan dengan pelengkap yang menggugah selera: ayam suwir, urap sayur, kuah kacang goreng, sambal, hingga kerupuk ceker yang renyah. Selain blayag, warungnya juga menyediakan tempe, telur, dan abon dengan harga terjangkau, mulai dari tiga ribu hingga sepuluh ribu rupiah per porsi. Kesederhanaan itulah yang justru membuat warung ini terasa hangat dan membumi.
Puja, salah satu pelanggan setia, mengaku selalu puas setiap kali singgah. “Makanannya enak, kerupuknya gurih, porsinya cukup. Dari segi harga juga worth it,” ujarnya. Ia menilai lokasi warung yang berada di pinggir jalan raya membuatnya mudah dijangkau.
“Blayagnya beda dengan yang lain, terutama rasanya. Saya paling suka kalau dimakan dengan kerupuk ceker,” tambahnya.
Meski resep blayag yang digunakan Sumarni pada dasarnya sama dengan penjual lain, sentuhan tangan dan pengalaman membuat rasanya memiliki karakter tersendiri. Inilah yang membuat pelanggan tetap setia.
Pada masa jayanya, Sumarni kerap menerima pesanan besar, mulai dari acara adat hingga hotel. Namun kini, seiring usia dan kondisi fisik, ia memilih menolak pesanan dalam jumlah besar dan fokus melayani pembeli harian.
Di balik kepulan asap dapur dan hiruk-pikuk sore hari, tersimpan kisah perjuangan yang lebih dalam. Selama lebih dari tiga dekade, hasil penjualan blayag menjadi tumpuan utama Sumarni untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Pang ade usaha, panak mekejang masuk sekolah, (biar ada usaha untuk biayai anak sekolah)” ujarnya lirih sambil tersenyum. Dari warung kecil itulah, anak-anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga sarjana, bahkan kini sebagian telah berkeluarga.
Meski tujuan awalnya telah tercapai, Sumarni memilih tetap berjualan. Bukan semata soal ekonomi, melainkan rasa bahagia ketika melihat pelanggan menikmati masakan buatannya. Blayag baginya telah menjadi bagian dari hidup, ruang untuk berbagi rasa dan cerita.
Kisah Nyoman Sumarni adalah potret nyata bagaimana kuliner tradisional tak hanya menyimpan kelezatan, tetapi juga nilai-nilai ketekunan, tanggung jawab, dan cinta seorang ibu. Blayag Desa Penglatan, dengan segala kesederhanaannya, membuktikan bahwa makanan lokal bisa menjadi penopang hidup sekaligus penjaga identitas budaya.
Dalam setiap suapan blayag, terselip sejarah, doa, dan harapan yang terus hidup dari generasi ke generasi. (dik)
Editor : I Putu Mardika