Salah satu sumber mata air yang ada di Pancasari adalah Muara Puncak Sangkur. Sumber mata air ini bisa diakses melalui jalur Bali Handara. Untuk menjangkaunya bisa diakses dengan sepeda motor. Namun, karena kondisi terjal bisa diakses dengan jalan kaki. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit dari jalan raya.
Suasana yang asri dan dipenuhi dengan pepohonan membuat sumber mata air dari Muara Puncak Sangkur ini sangat terjaga. Airnya juga begitu jernih. Ada lima titik mata air yang bisa digunakan sebagai sarana untuk melukat.
Jro Mangku Nyoman Pening mengatakan, posisi Desa Pancasari yang di hulunya Buleleng dan perbukitan membuat banyak ditemukan sumber mata air. Oleh masyarakat, sumber mata air ini juga digunakan untuk minum dan mengairi lahan pertanian. Selain itu, masyarakat meyakini sumber mata air bertuah untuk melukat dan menghilangkan beragam penyakit.
Dikatakan Nyoman Pening dulu sebelum Desa Pancasari dihuni peduduk, sejumlah masyarakat berusaha mencari sumber air sekitar tahun 1908. Sebab, kalau memungkinkan ada sumber air, maka bisa dihuni oleh masyarakat. Inilah menjadi cikal bakal yang melakukan penelusuran terkait sumber air.
“Awalnya datang dengan 4 kepala keluarga untuk mengecek keberadaan di areal Benyah dan Banjar Lalanglinggah. Saat itu dipimpin oleh Dane Gusti Agung Ketut Jen. Beliau sebagai pemimpin pertama dan dikuti oleh tiga orang. Diantaranya Wayan Sudarma, I Gusti Ketut Suteja dan I Gusti Made Murka,” jelasnya.
Setelah menjalani penelusuran yang cukup melelahkan, akhirnya empat orang tersebut berhasil menemukan mata air di Madyaning Pucak Mangu. Lambat laun, akhirnya dibuatlah perkumpulan untuk mengurusi jalur air..
Karena sudah ditemukan mata air, masyarakat terus berdatangan. Jumlahnya semakin bertambah yakni sebanyak 12 orang. Mereka membentuk perkumpulan seperti adanya kelian sekeha yeh, Kemudian membuat sekeha subak abian di kawasan Benyah
Setelah menemukan titik sumber air, barulah dipasang pipa bambu sepanjng dua kilometer. Air tersebut dipakai memenuhi kebutuhan masyarakat di Pancasari. Karena sumber air sudah ada, barulah membangun Desa Pancasari, yang diawali dengan membentuk subak abian untuk mengairi tanaman.
“Kurang lebih tahun 1916, setelah air bisa dinikmati, barulah dibangun pura subak. Dipimpin oleh Ida I Gusti Agung Ketut Jen. Ini cikal bakalnya,” paparnya.
Lalu apa keunikan dari sumber air di Muara Pucak Sangkur ini? Dikatakan Jro Mangku Nyoman Pening, saat ini ada lima titik mata air yang digunakan sebagai penglukatan. Bahkan, mata air ini juga kerap dijadikan untuk pengobatan dari berbagai penyakit agar bisa sembuh.
“Inilah keunikan dari mata air Madyaning Pucak Mangu. Sampai sekarang sudah ada yang kesini untuk melukat dan untuk berobat. Beragam testimoni muncul dari masyarakat yang berobat. Dulu kondisinya saat datang banyak yang sakit, dan sekarang sudah sembuh seperti sedikala,” katanya lagi
Banten yang harus dihaturkan diantaranya pekeling peras pejati, penglukatan. Di areal penglukatan ini diyakini berstana adalah Dewa Bagus Dewi Gangga dan Ida Bhatara Wisnu. Disinilah tempat untuk melukat
“Mata air ini sumbernya dari beberapa titik. Kalau yang datangnya mata air dari timur, ini sumbernya dari pucak tirta Mampeh. Dan ada juga dari puncak tirta mangu. Kalau melukat disarankan di bawah pelinggih. Biar tidak mengganggu, karena airnya diminum oleh msyarakat,” paaparnya.
Tempat melukat lainnya di Desa Pancasari adalah Pura Taman Beji atau disebut dengan Tirta Yeh Masem. Pura ini terletak sekitar 2 kilometer daru kantor Perbekel Desa Pancasari. Uniknya, saat air di Pura Titra Yeh Masem diminum rasanya memang masam. Namun, jika dibawa pulang, rasa masam dipastikan akan hilang.
Jro Mangku Wayan Laba, mengatakan keberadaan perayahangan Pura Taman Beji lebih akrab disebut dengan Petirtaan Yeh Masem. Ia pun belum mengetahui secara pasti bagaimana sejarah pura tersebut, namun seingatnya pura itu sudah ada.
“Sebelum direhab, memang hanya ada satu pelinggih Dewa Ayu dan kayu beringin besar. Setelah itu direhab pada tahun 2001 kebetulan ada donator dari krama desa,” kata Jro Mangku Wayan Laba.
Ia menjelaskan pujawali di Pura Taman Beji ini dilakukan bertepatan pada Purnama Kelima. Seingatnya, pujawali di pura ini rutin dilaksanakan. Namun, dulu juga pernah tidak dilaksanakan pujawali, karena air naik sampai ke jeroan.
Lalu kenapa disebut Tirta Yeh Masem? Mangku Wayan Laba menyebut penamaan Tirta Yeh Masem tidak lepas karena air itu jika dikecap maka rasanya masam. Akan tetapi, apabila air tersebut dibawa pulang, maka rasa asam dipastikan hilang. “Inilah uniknya, dan saya tidak tahu apa alasannya sata dibawa pulang rasa asamnya sudah hilang?
Pria yang sudah ngayah sejak tahun 2018 ini mengatakan pura ini memang utamanya dijadikan sebagai tempat untuk menyucikan pratima dan pralingga saat ada pujawali di Pura Kahyangan Tiga di Pancasari.
Tidak menutup kemungkinan pula ada juga ada krama yang datang untuk nangkil dari berbagai wilayah. Seperti Denpasar, Singaraja. Konon, mereka ada yang mendapat pawisik untuk nunas penglukatan di pura ini.
“Banyak yang sudah mendapatkan manfaatnya. Kalau ada pemedek yang nangkil saya hanya ngaturang uninga saja. Katanya banyak pemedek yang mendapat petunjuk melukat di sini. Ada yang mebebawosan di sini. Dan disampaikan apa masalanya, sampai sudah sembuh seperti sedikala,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika