Usaba Sambah adalah upacara yang dilakukan pada bulan kelima menurut kalender setempat atau sekitar sasih karo menurut kalender bali atau sekitar bulan Juli. Acara usaba sambah pelaksanaannya dipusatkan di Pura Bale Agung, di banjar kaja dan banjar kelod.
Salah satu tujuan utama pelaksanaan upacara usaba sambah adalah untuk melestarikan tradisi yang terus berlangsung sampai saat ini yaitu tradisi meteruna dan medaha, menyerupai upacara menek kelih.
Meteruna adalah prosesi acara akil balik (menginjak remaja) bagi pria (teruna anyar). Sehingga nantinya dapat bergabung ke dalam komunitas pemuda yang ada (sekaa teruna). Sedangkan medaha sebutan untuk remaja putri untuk prosesi yang sama.
Prosesi Meteruna dan Medaha inilah yang merupakan prosesi pokok (utama) selama rangkaian usaba sambah, sedangkan acara nulak damar adalah prosesi awal dari rangkaian usaba sambah.
Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, Wayan Tisna mengatakan nulak damar, terdiri dari kata nulak dan kata damar.
Kata nulak berasal dari kata tulak yang yang berarti olah atau putar. Kata Damar berarti Lampu, Cahaya atau Penerang. Jadi kata Nulak Damar bermakna mengolah kesadaran, dari gelap mendapat terang sehingga mendapatkan pencerahan dalam makna spiritual.
Sesuai namanya, nulak damar mempergunakan damar yakni sarana yang terbuat dari kapas/linting berupa lentera minyak kelapa yang menyerupai api pedipaan homa yadnya. Pedipaan ditempatkan dalam tempayan kecil terbuat dari tanah liat dan tempat damarnya dinamakan penyembean.
Baca Juga: PHDI Kota Denpasar Tolak Wacana Pemindahan Hari Raya Nyepi
“Damar ini sebagai sarana pokok dengan beberapa sarana pelengkap berupa kain gringsing, cengceng ukuran kecil, bebantenan (sesaji) dan perlengkapan sarana lainnya yang diambil dari hasil alam disekitarnya dan sarana utama dalam upacara ini berupa api,” katanya.
Sarana pokok lainnya mempergunakan Ayunan atau jantera, secara fisik ayunan berbentuk tanda tambah. Ayunan merupakan simbolisasi dari Tapak Dara.
Damar dengan kelengkapan sarana bebantenan yang lainnya diletakan di salah satu tempat duduk ayunan tersebut. Kemudian ayunan mulai digerakan perlahan memutar searah jarum jam sebanyak tiga kali putaran dan kearah sebaliknya sebanyak tiga kali putaran.
Dikatakan Wayan Tisna, ada sejumlah tahapan yang dilakukan mulai dari persiapan, prosesi puncak dan pasca ritual nulak damar. Prosesi diawali dengan ritual mepemali sebagai tanda awal dimulainya aci sasih kelima yaitu tepatnya 14 hari sebelum puncak upacara nulak damar.
Ini dilakukan di masing-masing banjar, baik banjar kaje maupun banjar kelod. Upacara selanjutnya adalah ngelanlan, nyujukang pemidang, tempatnya di masing-masing banjar, waktunya di pagi hari, sedangkan sorenya dilanjutkan dengan acara ngiderang base, bertempat di pura puseh, acara ini dilaksanakan 5 hari sebelum puncak upacara nulak damar.
Pada hari ini warga banjar dan sekaa teruna masing-masing membawa alat-alat untuk perlengkapan sarana pemasangan ayunan dan sarana payas ayunan. Pada keesokan harinya setelah upacara ngelanlan, dilaksanakan upacara memiut.
“Memiut bertujuan untuk melakukan persembahyangan keliling, bermakna mohon ijin kepada para dewa agar mendapatkan keselamatan dalam rangka mulainya upacara usaba sambah. Upacara memiut dilakukan 4 hari sebelum puncak upacara nulak damar,” paparnya.
Dua hari setelah upacara memiut, dilaksanakan acara nyujukang ayunan atau pemasangan ayunan. Di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad memiliki 2 unit ayunan desa, yang dipasang di masing-masing banjar, yaitu di pasang di depan bale banjar kelod dan di depan bale banjar kaja. Proses pemasangan ayunan dilaksanakan 2 hari sebelum pelaksanaan puncak upacara nulak damar.
Pada saat acara nyujukang ayunan, melibatkan kelompok masyarakat seperti Anggota Teruna, banjar kaje dan banjar kelod. Di banjar kaje dipasang ayunan desa yang berisikan delapan tempat duduk, yaitu masing-masing posisi terdiri dari dua tempat duduk yakni dua diatas, dua dibawah, dua didepan dan dua dibelakang. Sedangkan di banjar kelod di pasang ayunan yang memiliki empat tempat duduk.
Perbedaan jumlah tempat duduk ayunan dengan alasan bahwa daha dari banjar kelod yang komunitasnya lebih besar akan mayunan ngajanang atau naik ayunan di banjar kaje. Sedangkan daha dari banjar kaje yang jumlah anggotanya lebih sedikit akan mayunan ngelodang atau naik ayunan di banjar kelod.
Baca Juga: Bank BPD Bali Imbau Masyarakat Waspadai Modus Penipuan Digital Berkedok Undian hingga Video AI
“Setelah pelaksanaan acara nyujukang ayunan selesai, anggota teruna sangkep untuk menerima pembagian prani dari warga banjar. Prani adalah salah satu jenis jajanan khas Tenganan Dauh Tukad,” ungkapnya.
Puncak upacara nulak damar dilaksanakan dua hari setelah acara nyujukang ayunan. Prosesinya dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu di rumah subak banjar, di ayunan desa dan di masing-masing banjar disebut juga upacara penulakan damar, diawali dengan persiapan sarana bebantenan.
Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, Wayan Tisna menambahkan, pada saat puncak upacara nulak damar, dimulai setelah selesainya pesangkepan (rapat) anggota teruna di bale agung, persis setelah matahari terbenam. Setelah semua proses persiapan lengkap dan semua peserta upacara kumpul di dekat ayunan yaitu di depan Bale Banjar kaje dan Bale Banjar kelod.
Banten penulakan damar yang ada di banjar dibawa ketempat ayunan desa oleh teruna, ditaruh di bawah/di tanah, di depan ayunan dengan dialasi tikar dari pandan. Dilanjutkan dengan mesegeh, metabuh arak berem. Kemudian ngaturang sarana bebantenan yang dipimpin oleh salah seorang Keliang Teruna yang disebut Keliang Tumpeng.
Keliang Tumpeng berperan sebagai Mangku ayunan. Doa-doa yang diucapkan masih bersifat rahasia dalam bentuk sehe atau sesontengan. Sehe adalah bentuk Doa dengan ucapan-ucapan sederhana tetapi dilakukan dengan kidmat penuh penghayatan.
Baca Juga: Siap Starter Lawan Arema, Rahmat Arjuna Berambisi Buka Keran Gol di Stadion Dipta
“Di akhir doa ditandai dengan menarik tipat lepas lanang-wadon oleh Mangku ayunan dengan menyampaikan ucapan; matiang lubake idupang siape, artinya ‘bunuh musangnya hidupkan ayamnya” sebutnya.
Usai berdoa, sarana penulakan damar di tempatkan di salah satu tempat duduk ayunan tersebut. Kemudian beberapa anggota teruna anyar naik ketiang ayunan, dan ayunan yang sudah di isi sarana bebantenan mulai digerakan perlahan memutar searah jarum jam sebanyak tiga kali putaran, dan kearah sebaliknya juga sebanyak tiga kali putaran.
Persembahan pada saat puncak upacara nulak damar ditujukan kepada Ida Batara ring Gunung Agung, yang bermakna mohon keselamatan dan sinar sucinya dalam rangka pelaksanaan usaba sambah.
Lebih jauh dijelaskan Wayan Tisna bahwa upacara nulak damar mengandung filosofi yang tinggi. Sebab, sesuai putaran nulak damar bahwa manusia hidup seperti roda berputar bisa diatas dan bisa dibawah. “Maka jalani hidup dengan penuh ikhlas, berbuat baik, jangan takabur atau sombong, karena kita nyungsung dewa ayunan,” paparnya.
Makna kata matiang lubake idupang siape menyebutkan bahwa lubake atau musang adalah binatang malam yang hidup dalam kegelapan. Sedangkan siape atau ayam binatang yang hidupnya disiang hari.
Baca Juga: Bali United vs Arema FC: Misi Serdadu Tridatu Tutup Putaran Pertama dengan Kemenangan
Artinya membunuh atau menghilangkan kegelapan untuk mendapatkan pencerahan dalam kehidupan. “Ini artinya membunuh karakter yang jahat atau tidak baik, dan bangkitkan karakter kepribadian yang baik dalam diri,” katanya lagi
Tahap terakhir puncak upacara nulak damar dilanjutkan di masing-masing banjar dan bale agung dalam suasana pesangkepan adat. Pesangkepan anggota teruna bertempat di Pura bale agung, banjar kaje bertempat di bale banjar kaje dan anggota banjar kelod bertempat di bale banjar kelod. (dik)
Editor : I Putu Mardika