Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengendalikan Api dalam Diri, Jalan Sunyi Menuju Hidup Seimbang dan Bermakna

Putu Agus Adegrantika • Senin, 5 Januari 2026 | 19:05 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu Kemenag Tabanan, I Made Danu Tirta.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu Kemenag Tabanan, I Made Danu Tirta.

BALIEXPRESS. ID-  Di Dalam diri setiap manusia, ada api yang tak pernah padam. Api itu bernama nafsu. Ia bisa menghangatkan, tetapi juga dapat membakar. Pilihan ada pada manusia mengendalikannya atau justru terbakar olehnya.

Hal inilah yang menjadi refleksi mendalam Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, saat mengulas pentingnya pengendalian nafsu sebagai fondasi kehidupan yang berkualitas. Menurutnya, banyak kehancuran hidup bermula dari kegagalan manusia mengelola dorongan batinnya sendiri.

“Pengendalian nafsu bukan tentang mematikan keinginan, tetapi mengelolanya agar menjadi kekuatan konstruktif,” ujarnya, Senin (5/1).

Ia menjelaskan, nafsu ibarat api dengan dua wajah. Di satu sisi, api memberi panas yang merusak jika dibiarkan berkobar tanpa kendali melahirkan sikap egois, ambisi berlebihan, dan kehancuran diri. Namun di sisi lain, api yang terjaga justru menghadirkan kehangatan, menjaga stabilitas hidup, dan memelihara diri secara lahir maupun batin.

Pandangan tersebut sejalan dengan ajaran suci Hindu dalam Kitab Sarasamuccaya Sloka 78, yang menegaskan bahwa pengendalian hawa nafsu mendatangkan banyak pahala: panjang umur, perilaku baik, keteguhan spiritual, kemampuan, kemasyhuran, kebajikan (dharma), hingga kesejahteraan (artha).

Bagi I Made Danu Tirta, panjang umur atau dirgayusa bukan sekadar anugerah biologis, tetapi buah dari kesadaran hidup. Secara psikologis, orang yang mampu mengendalikan nafsu berarti telah menetapkan tujuan hidup yang konkret mulai dari pola makan, gaya hidup, hingga pengelolaan energi tubuh.

“Mengatur nafsu makan saja sudah berdampak besar pada kesehatan. Pola hidup yang tertib dan sadar memungkinkan seseorang hidup lebih sehat dan lebih lama,” jelas Danu.

Tak hanya berdampak pada tubuh, pengendalian nafsu juga membentuk karakter. Nafsu yang liar kerap tercermin dalam perilaku agresif, gelisah, tidak sabar, dan memaksakan kehendak. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan diri akan tampak tenang, ramah, sabar, dan mampu menerima keadaan dengan lapang dada.

Di sinilah nilai wiweka menjadi nyata kemampuan membedakan yang baik dan benar, serta menjauhi yang buruk dan keliru.

Lebih jauh, pengendalian nafsu bukan tindakan sesaat, melainkan lelaku hidup. Ia membentuk kebiasaan (habitus) yang terus terpelihara dalam relasi dengan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Nafsu dan tindakan, menurut Danu Tirta, saling mempengaruhi. Semakin sering seseorang melatih pengendalian diri, semakin kuat pula kendali itu tertanam.

Manfaat lain yang tak kalah penting adalah semakin terbukanya pemahaman terhadap dharma ajaran kebenaran dalam Hindu. Nafsu yang terkendali menjernihkan pikiran, seperti air keruh yang disaring perlahan. Dalam kejernihan itulah nilai-nilai kebenaran mudah dipahami dan dijadikan pedoman hidup.

Menariknya, pengendalian nafsu juga berdampak pada kesejahteraan. Kekayaan tidak hanya dimaknai sebagai materi, tetapi juga kekayaan sosial. Orang yang mampu mengarahkan nafsunya ke hal-hal positif akan lebih fokus bekerja, membangun usaha berdasarkan dharma, dan mengelola keuangan dengan bijak.

“Keramahan, etika, dan sikap welas asih yang lahir dari pengendalian diri memudahkan terbentuknya ikatan sosial. Jaringan pertemanan adalah kekayaan yang sering luput disadari,” tambahnya.

Pada akhirnya, pengendalian nafsu adalah manajemen wiweka yang menyentuh seluruh aspek kehidupan karakter, pola pikir, ideologi, materi, hingga relasi sosial. Sebuah jalan sunyi yang menuntut kesadaran, namun menjanjikan kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.

“Mari membangun kebiasaan mengendalikan nafsu, agar api dalam diri tetap menyala sebagai penerang, bukan pembakar,” pungkas Danu Tirta. *

Editor : Putu Agus Adegrantika