Namun di balik keramaian ritual tersebut, muncul satu pertanyaan jujur yang semakin sering dirasakan umat: mengapa setelah sembahyang, pikiran masih ribut, cemas, dan penuh overthinking?
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, menilai pertanyaan itu bukan bentuk kegagalan spiritual, melainkan tanda kesadaran batin yang justru sejalan dengan makna Buda Wage Merakih. Menurutnya, hari suci ini memiliki relevansi kuat dengan isu kesehatan mental umat Hindu di tengah tekanan kehidupan modern.
“Kalau setelah melaksanakan yadnya hati masih gelisah, itu bukan berarti sembahyangnya sia-sia. Justru di sanalah makna Buda Wage Merakih bekerja, mengajak kita jujur pada kondisi batin,” ujarnya.
Dalam tradisi Hindu Bali, Buda Wage Merakih memiliki dasar teologis yang kuat. Berdasarkan Lontar Sundarigama, hari suci ini dipersembahkan kepada Bhatari Manik Galih dalam payogan-Nya. Bhatari Manik Galih dipersonifikasikan sebagai energi yang menenangkan, membersihkan, dan melepaskan beban batin.
Lontar tersebut menyebutkan bahwa Buda Wage Merakih adalah waktu terbaik untuk membersihkan mala atau kekotoran batin, terutama pikiran yang dipenuhi iri, marah, dan kelelahan mental. Karena itu, esensi hari suci ini tidak berhenti pada tataran simbolik ritual.
Baca Juga: Angin Kencang Terjang Pantai Jimbaran, Sejumlah Cafe Rusak Parah
“Merakih itu bukan soal merapikan banten, tapi merapikan isi kepala,” jelas Irma. Secara etimologis, merakih berarti merajut ulang, bukan memulai hidup baru, melainkan menata ulang kehidupan yang sudah terlalu kusut oleh beban pikiran dan emosi yang tidak terselesaikan.
Irma menyoroti fenomena kehidupan umat Hindu saat ini yang sering kali paradoksal. Pura semakin ramai, upacara semakin megah, tetapi ketenangan batin justru terasa semakin langka. Ia menyebut kondisi ini sebagai “ritual ramai, jiwa sepi”.
“Di zaman digital, banten bisa mahal, tapi emosi sering murah. Doa panjang, tapi kesabaran justru menipis,” katanya. Menurutnya, kedekatan ritual dengan Tuhan tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan emosi dan kesehatan mental jika tidak disertai pengolahan batin yang jujur.
Dalam konteks ini, Buda Wage Merakih hadir sebagai pengingat halus bahwa yang perlu dibersihkan bukan hanya pelinggih, melainkan ego dan cara pandang hidup. Hal ini sejalan dengan ajaran Sarasamuccaya sloka 14 yang menegaskan bahwa dharma yang dijaga akan melindungi manusia. Artinya, bukan Tuhan yang jauh yang menentukan damai atau tidaknya hidup, melainkan sikap hidup manusia itu sendiri.
Irma juga menegaskan bahwa dalam ajaran Hindu, yadnya bukanlah transaksi spiritual. Hindu, menurutnya, tidak pernah menjanjikan bahwa sembahyang rajin akan membuat hidup selalu mulus. Yang dijanjikan adalah kekuatan batin untuk menghadapi hidup yang tidak selalu sesuai harapan.
Baca Juga: Hampir Sebulan Berlalu, Tersangka Diduga Otak Mafia Solar di Suwung Belum Ditahan Polda Bali
Hal ini ditegaskan dalam Bhagavadgita III.9, yang menyatakan bahwa perbuatan yang tidak dilakukan sebagai yadnya akan mengikat manusia pada penderitaan. Ritual yang dilakukan hanya sebagai formalitas, tanpa kesadaran, justru berpotensi melahirkan kelelahan spiritual.
“Yadnya itu latihan kejujuran pada diri sendiri. Bukan ‘aku sembahyang supaya hidupku tenang’, tapi ‘aku berani melihat dan menata diriku apa adanya’,” ujarnya.
Secara filosofis, Buda Wage Merakih juga memiliki makna mendalam dalam ilmu Wariga. Buda dengan urip 7 mengajarkan pengendalian Sapta Timira, tujuh kegelapan dalam diri manusia. Wage dengan urip 4 merepresentasikan Catur Purusa Artha, empat tujuan hidup menuju kebahagiaan. Sementara Merakih dengan urip 9 berkaitan dengan Nawa Wida Bhakti, konsep pelayanan dan pengabdian umat.
Ketiga unsur ini, menurut Irma, membentuk peta spiritual yang menuntun umat agar tidak hanya terlihat religius, tetapi benar-benar bertumbuh secara spiritual melalui sadhana kesadaran.
Baca Juga: Bunuh Remi Yuliana Putri Usai Diejek Mokondo, Galuh Dituntut 19,5 Tahun di PN Denpasar
Pada akhirnya, Buda Wage Merakih mengajarkan bahwa menyembuhkan diri adalah bagian dari menjaga kesucian hidup. Hari suci ini mengajak umat berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk pulih dengan sadar.
“Menenangkan pikiran adalah yadnya paling jujur yang bisa kita lakukan hari ini,” tutup Irma. Ia menegaskan, kesehatan mental dalam ajaran Hindu bukanlah lari dari luka, melainkan keberanian untuk duduk tenang bersama kesadaran.
Jika setelah sembahyang umat masih berproses, Irma menyebut bila hal itu bukan tanda gagal. “Justru itulah tanda manusia sedang belajar sadar dan dalam Hindu, kesadaran semacam itu adalah kemuliaan itu sendiri,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika