Penegasan tersebut disampaikan Sugi Lanus saat membuka dan membandingkan langsung lontar Sundarigama koleksi negara di Museum Lontar Gedong Kirtya, Singaraja pada Sabtu (10/1) siang.
Di hadapan koleksi lontar tua itu, ia memaparkan secara rinci prosesi ritual Nyepi berdasarkan teks lontar, sekaligus meluruskan kesalahan tafsir yang berkembang akibat terjemahan dan kutipan lontar yang tidak utuh.
“Kita sekarang berada di depan lontar Sundarigama Gedong Kirtya. Nyepi yang berjalan selama ini sudah sesuai dengan lontar. Polemik muncul karena yang beredar di masyarakat tidak menyertakan foto lontar dan kutipan langsung dari naskah aslinya,” tegas Sugi Lanus.
Ia menjelaskan, lontar Sundarigama yang tersimpan di Gedong Kirtya memiliki kesesuaian isi dengan naskah di Fakultas Sastra serta Pusat Dokumentasi (Pusdok) Bali. Namun, pada salah satu versi lontar di Pusdok ditemukan dua kesalahan loncatan halaman yang berdampak serius terhadap pemahaman runtutan upacara Nyepi.
Baca Juga: KUR BRI Jadi Penyelamat, Usaha Angkringan Ini Bangkit dan Bertumbuh
Kesalahan paling mendasar, menurut Sugi Lanus, terjadi pada bagian purwani, yakni sehari sebelum tilem. Dalam sejumlah terjemahan dan kutipan yang beredar, purwani disebut langsung berlanjut ke Nyepi.
Padahal, dalam lontar Sundarigama, purwani merupakan tahap gawe akene bhuta yadnya, yakni menyiapkan caru sebagai sarana harmonisasi dengan unsur bhuta kala, bukan tahap penyepian.
“Dalam lontar jelas dibedakan antara gawe akene dan gelar akene. Ini yang diloncati. Loncatan ini sangat fatal karena mengubah makna ritual,” ujarnya.
Akibat kekeliruan tersebut, muncul pemahaman bahwa setelah purwani, keesokan harinya langsung dilakukan amati geni saat tilem. Padahal, lontar Sundarigama menjelaskan bahwa pada hari tilem justru dilaksanakan rangkaian penyucian pratima, lingga, dan sentana Sang Hyang Tiga Wisesa.
Pada tahap ini, pratima para dewa diiring krama desa menuju segara, dipersembahkan upacara kepada Sang Hyang Baruna sebagai prosesi penyucian jagat. Setelah prosesi di laut selesai, pratima kembali ke pura dan disambut dengan banten penyambutan. Barulah pada sore hari, caru yang telah disiapkan sejak purwani dipuput.
Baca Juga: Swasembada Energi Indonesia 2025: Strategi Prabowo-Gibran Wujudkan Ketahanan Nasional
“Malam harinya umat melaksanakan ngerupuk di pekarangan masing-masing untuk nyomia bhuta kala dengan sarana obor, masui, serta mantra penolak bala. Rangkaian dilanjutkan dengan byakala dan prayascita,” jelasnya.
Sugi Lanus menegaskan, Nyepi baru dilaksanakan keesokan harinya, setelah tilem, yakni pada penanggal apisan sasih Kedasa. Pada hari inilah umat menjalani penyepian dengan memadamkan api dan menghentikan seluruh aktivitas duniawi sebagai laku tapa, yoga, dan semadi.
“Nyepi itu kewajibannya ada di penanggal apisan sasih Kedasa, bukan di hari tilem. Setelah itu barulah umat menyambut piodalan dan rangkaian Dewa Yadnya di sasih Kedasa,” katanya.
Ia menambahkan, tatanan ritual ini sejalan dengan praktik keagamaan desa-desa tua di Bali Utara. Salah satunya Desa Adat Beratan Samayaji yang tercatat dalam lontar Sima Desa Tua Beratan Samayaji sekitar tahun 1800. Dalam lontar tersebut disebutkan bahwa Tawur dilaksanakan saat tilem, sedangkan Nyepi jatuh setelahnya.
Sugi Lanus juga mengungkapkan adanya lontar lain yang redaksinya hampir identik dengan Sundarigama, yakni lontar Gama Tiga, yang berfungsi sebagai pedoman ritual.
Perbandingan lintas sumber menunjukkan konsistensi teks, baik yang tersimpan di Gedong Kirtya, Denpasar, maupun lontar yang ditulis oleh warga Karangasem.
“Pedoman Nyepi itu bersumber dari lontar yang disimpan di tiga institusi negara. Bukan dari terbitan rumah-rumah, apalagi kutipan daring tanpa rujukan naskah,” tegasnya.
Baca Juga: Penanganan Bencana di Aceh Maksimal, Masyarakat Tegas Tolak Narasi Separatisme
Gedong Kirtya sendiri, lanjut dia, telah mendata lontar-lontar Sundarigama yang tersimpan di rumah-rumah warga, termasuk koleksi Jro Mangku Dalang Made Klupa di Buleleng, lontar di Denpasar, hingga salinan milik almarhum I Made Kawi. Seluruhnya menunjukkan kesamaan isi dan bukan hasil ketikan baru.
Sebagai bentuk tanggung jawab akademik sekaligus pengabdian kepada umat, Sugi Lanus berencana menyusun brosur pedoman pelaksanaan Tawur Kesanga dan Nyepi berdasarkan lontar Sundarigama yang utuh dan otentik.
“Ini momentum literasi lontar. Kita kembali ke sumber, ke pemargi leluhur. Semoga Nyepi dijalankan sesuai Sundarigama yang utuh, seperti yang telah diwariskan selama ini,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika