Berdasarkan surat resmi Pemaksan Ulun Kulkul yang ditandatangani di Besakih pada 7 Januari 2026, rangkaian Usabha Pitra diawali dengan Petabuhan Usabha Pitra yang dilaksanakan pada Redite Kliwon Medangkungan, 18 Januari 2026 pukul 15.00 Wita bertempat di Pura Ulun Kulkul, dipuput oleh Sulinggih. Pada hari yang sama, dilanjutkan dengan upacara Nedunang Pralingga Ida Bhatara pukul 17.00 Wita di Pura Merajan Selonding, dipuput oleh Pemangku.
Rangkaian upacara kemudian berlanjut pada Soma Umanis Medangkungan, 19 Januari 2026, dengan pelaksanaan Katuran Ayaban pukul 10.00 Wita di Pura Dalem Puri, dipuput oleh Pemangku.
Upacara Katuran Ayaban ini menjadi bagian penting dari rangkaian Usabha Pitra, yang secara berurutan dilaksanakan selama beberapa hari berturut-turut.
Katuran Ayaban kembali dilaksanakan pada Anggara Paing Medangkungan, 20 Januari 2026, Buda Pon Medangkungan, 21 Januari 2026, Wraspati Wage Medangkungan, 22 Januari 2026, Sukra Kliwon Medangkungan, 23 Januari 2026, hingga Saniscara Umanis Medangkungan, 24 Januari 2026, seluruhnya pada pukul 10.00 Wita dan bertempat di Pura Dalem Puri, dipuput oleh Pemangku.
Rangkaian ini mencerminkan kesinambungan yadnya yang dilaksanakan dengan penuh ketekunan, ketertiban waktu, serta kepatuhan pada wariga dan pawukon.
Puncak rangkaian Eed Usabha Pitra akan dilaksanakan pada Redite Paing Matal, 25 Januari 2026. Pada hari tersebut, digelar Puncak Usabha Pitra pukul 10.00 Wita di Pura Dalem Puri, yang akan dipuput oleh Sulinggih.
Puncak upacara ini menjadi momentum spiritual utama sebagai persembahan tertinggi kepada roh leluhur, sekaligus penguatan nilai bakti umat kepada pitra.
Masih pada hari yang sama, rangkaian dilanjutkan dengan upacara Pecayan pukul 11.00 Wita di Pura Ulun Kulkul, dipuput oleh Pemangku. Pecayan menjadi simbol penyelarasan dan peneguhan kembali hubungan niskala setelah puncak yadnya dilaksanakan.
Rangkaian Usabha Pitra kemudian ditutup pada Soma Pon Matal, 26 Januari 2026, dengan pelaksanaan Penganyar pukul 10.00 Wita di Pura Dalem Puri, serta Penyineban pukul 16.00 Wita di Pura Merajan Selonding, keduanya dipuput oleh Pemangku.
Penyineban menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara secara niskala dan sekala, sekaligus mengembalikan kesucian dan keseimbangan alam ritual ke dalam tatanan kehidupan sehari-hari.
Gusti Anglurah Mangku Kebayan Alitan, 40 menjelaskan Ngusbha Lina atau Ngusbha Pitra merupakan ritual rutin yang dilaksanakan setiap setahun sekali pada sasih Kepitu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal baik sudah diaben maupun belum diaben.
“Dulu disebut juga usabha Pitra. Ini adalah rangkaian umat Hindu menghaturkan sesodaan kepada leluhurnya. Karena ini Daleming jagat atau huluning Pura Dalem. Saat Usabha Pitra di Tilem Kepitu, semua Sang Pitra, Dewa Pitara ngayah di Pura Dalem ini. Sehinga pratisentananya menghaturkan sesodaan kepada leluhurnya yang ngayah,” katanya.
Ia menambahkan, persembahan juga bisa dilakukan kepada leluhur yang sudah kepamitang dan kependak. Karena leluhur tersebut diyakini juga menghaturkan ngayah di Pura Dalem Puri.
Dijelaskan Gusti Anglurah pura ini diibaratkan Uluning Pura Dalem yang berstana di Pura ini adalah Siwa Warocana meraga Hyang Ibu Pertiwi atau Durga Dewi. Karena ini adalah huluning Dalem, maka di pura ini juga merupakan stana Dewa Siwa.
Di areal utama mandala pelinggih Gedong, di bagian madya Mandala ada pelinggih Titi Ugal Agil, pelinggih tiing petung, Pelinggih titi gonggang, kawah jambangan dan Pelinggih Prajapati. Sedangkan di areal Nista Mandala ada juga Pelnggih Tegal Penangsaran serta taru curiga.
Penamaan pelinggih ini persis seperti nama tempat hukuman para roh di neraka. “Kalau ada roh yang mengalami hukuman, missal seperti kayu curiga konon diyakini pohon yang berdaun keris, yang siap menusuk para roh di neraka, mungkin karena semasa hidupnya kurang baik,” imbuhnya.
Krama yang nangkil selama rangkaian ngusabha pitra dari berbagai pelosok Bali tidak lupa membawa sesodaan. Sarana ini menjadi persembahan penting untuk diberikan kepada para leluhur yang telah tiada (meninggal).
Dijelaskan Gusti Anglurah Mangku Kebayan Alitan, para pemedek bebas memilih titik lokasi di areal Pura Dalem Puri untuk menghaturkan sesodaan atau sesajen kepada para leluhurnya saat Ngusabha Pitra.
Setelah menghaturkan sesajen, tidak jarang para pemedek melakukan acara makan Bersama di areal pura. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur bahwa para pratisentananya (keturunannya) masih ingat dengan leluhurnya.
Bahkan, ia menyebut tidak jarang jika pemedek yang nangkil selalu mengupayakan titik lokasi yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, sudah menjadi tradisi mereka memilih titik lokasi tersebut, dengan pertimbangan agar para leluhur mereka tidak bingung mencarinya.
“Kalau ngusabha pitra, dimanapun boleh digunakan untuk titik melakukan persembahan banten sesodaan, baik yang sudah diaben maupun yang belum. Tetapi kalau tidak saat ngusbah pitra, maka yang belum diaben wajib di bagian jaba dibuatkan sarana persembahahan,” katanya.
Hal ini tentu beralasan. Ia menganalogikan, saat ngusabha pitra pintu sekala niskala sudah dibuka sepenuhnya untuk para pitara baik yang sudah bersih (diaben) maupun belum diaben sehingga sepenuhnya bisa masuk.
“Tidak jarang, setelah sembahyang di Pura Dalem Puri, pemedek juga sekalian nangkil ke Pura Besakih, dan Pura Pedarman. Karena memang jaraknya berdekatan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika