Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Diyakini Rekatkan Truna dan Daha di Tenganan, Tari Abuang Ditarikan saat Panglong Ping Lima dan Ping Nem

I Putu Mardika • Kamis, 22 Januari 2026 | 17:25 WIB

Tari Abuang di Tenganan Pegringsingan
Tari Abuang di Tenganan Pegringsingan
BALIEXPRESS.ID-Tari Abuang di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem menjadi salah satu tari sakral yang selalu ditarikan untuk mengiringi upacara keagaaman seperti piodalan ataupun tradisi khas di desa tersebut yaitu, Ngusaba. Para penari mengenakan pakaian khas yaitu kain tenun ikat gringsing.

Tarian ini biasanya ditarikan setiap panglong ping lima pada sasih kasa di malam harinya atau masyarakat adat disana menyebutnya dengan Abuang Peteng. Serta ditarikan saat Abuang Lemah yaitu hari yang jatuh pada hari panglong ping nem sasih kasa di siang harinya.

Tari Abuang diyakini sebagai tarian sakral dan merupakan salah satu tradisi warisan leluhur yang adiluhung. Tari Abuang ditarikan oleh sejumlah daha (gadis) dan truna (perjaka) dengan jumlah penari yang tidak menentu mewakili seluruh masyarakat Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan.

Dalam pementasannya, para penari mengenakan pakaian tradisional khas Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan yang disebut dengan kain gringsing. Tari Abuang dipentaskan pada panglong ping lima sasih kasa pada malam harinya disebut Abuang Peteng, dan panglong ping nem sasih kasa pada siang harinya disebut Abuang Lemah.

Tokoh Adat Tenganan Pegringsingan, Putu Suarjana menjelaskan Abuang merupakan tarian bentuk sesangi leluhur masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Abuang artinya tari sakral yang mana pelakunya menari dengan menuangkan air mata sebagai persembahan suci, biasanya diiringi seperangkat gamelan yang disebut Slonding.

Slonding merupakan salah satu gamelan yang langka dan sangat disakralkan. Penggunaan Slonding ini biasanya dipakai dalam upacara-upacara keagamaan yang tergolong besar seperti Ngenteg Linggih, Piodalan pada Pura Desa, Ngeroras/Maligya dan upacara besar lainnya.

Khusus bagi masyarakat di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan, Tari Abuang adalah tari sakral cinta kasih yang ditarikan oleh daha truna dengan mempersembahkan air mata sebagai persembahan suci kehadapan lda Sang Hyang Widhi Wasa sebagai identitas kekerabatan masyarakat dan kerap diiringi Gamelan Slonding.

Baca Juga: Bali Tetapkan Status Siaga Cuaca Ekstrem, Bantuan Logistik Disalurkan ke Daerah Terdampak

“Tari Abuang juga merekatkan hubungan harmonis daha truna dalam upaya menjaga kelestarian sistem perkawinan yang dianut oleh masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan,” katanya.

Tari Abuang juga disebut bersifat sakral karena sesuai dengan jenis tarinya yang dipentaskan mengacu pada konsep Tri Mandala yaitu Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. Tempat pementasan Tari Abuang di Desa Adat Tenganan Pegringsingan pada Madya Mandala tepatnya di Natar Bale Agung yang juga dikaitkan dengan pementasan Tari Rejang yang dilaksanakan di depan Patemu, yaitu Petemu Kaja, Petemu Tengah, dan Petemu Kelod.

“Pementasan Tari Abuang biasanya dilaksanakan di Pura dalam rangakain Aci Ngusabha Kasa, yang dipentaskan dua kali berturutturut yaitu pada panglong ping lima dan panglong ping enem dirangkaikan dengan Ngusabha Kasa sesuai dengan kalender yang berlaku di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan,” ungkapnya.

Busana yang dipergunakan dalam Tari Abuang baik daha maupun teruna ada perbedaan.. Penari deha menggunakan kamben (wastra) geringsing, saput (kampuh) untuk dada juga gerinsing, anteng geringsing, hiasan kepala dengan rambut dipusung dan menggunakan gelungan serta bunga emas.

Sedangkan penari truna menggunakan pakaian kamben (wastra), saput (kampuh) geringsing, destar dengan bunga emas, dan dipunggung terselip sebilah keris.

Baca Juga: BKPSDM Bali Tegaskan Sanksi Disiplin Terkait Dugaan ASN Menonton Bioskop Saat Jam Kerja

Sebelum Tari Abuang dipentaskan, diawali dengan sangkepan desa dan sangkepan truna. Sangkepan desa dilaksanakan di Bale Agung dan sangkepan truna dilaksanakan di Petemu. Setelah sangkepan selesai, dilanjutkan dengan pementasan Tari Rejang di Petemu Kaja dan Petemu Kelod, kemudian truna menuangkan petabuh berupa tuak dan barulah penabuh Slonding melaksanakan geguron.

“Geguron merupakan tabuh sakral yang mengiringi Tari Abuang. Dengan dimulainya tabuh geguron maka Tari Abuang langsung dipentaskan. Tari Abuang mengambil tempat pementasan di natar Bale Agung, ditarikan oleh truna dan deha Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan,” paparnya.

Para penari Tari Abuang ini bergerak mengikuti alunan dari tabuh geguron. Penari berdiri tegak dengan kedua tangan membentang lurus ke samping dengan gerakan tangan diayunkan ke depan dan ke belakang mengikuti irama tabuh geguron.

Gerakan tari ini melambangkan keseimbangan alam semesta, bertujuan memohon kepada lda Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa memberikan anugrah dan melimpahkan rahmatnya kepada masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Tari Abuang di Desa Adat Tenganan Pegringsingan merupakan sesangi leluhur yang sering difungsikan sebagai penolak bala. Setiap Piodalan, Tari Abuang dipentaskan adalah untuk mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu ketentraman dan kesejahteraan umat manusia.

Masyarakat percaya jika Tari Abuang ini menari di lebuh (depan pintu rumah) maka krama tidak akan diganggu oleh pengaruh negatif dari alam. Selain sebagai sarana untuk penolak bala, tarian ini juga dapat berfungsi sebagai penyucian atau ruwatan. Hal ini dilakukan karena diyakini Tari Abuang memiliki kekuatan untuk memberikan penyucian atau ruwatan kepada orang yang memohon keselamatan.

Baca Juga: Pembebasan Lahan Segera Dilakukan, Pemkab Badung Kebut Pembangunan JLS

Tokoh Adat Tenganan Pegringsingan, Putu Suarjana  Masyarakat senantiasa memohon keselamatan dan kesejahteraan dengan cara masesangi. Jika apa yang diharapkan berhasil maka orang tersebut akan nahur sesangi.

Dalam upacara nahur sesangi menghaturkan sesajen dalam bentuk banten pejati serta memohon penyucian atau ruwatan agar selamat dalam menempuh hari depan yang lebih cerah. Orang yang nahur sesangi juga mohon tirtha panglukatan dan pabersihan untuk menyucikan dirinya. Apabila ada orang sakit karena pengaruh negatif, maka sering dimohonkan kesembuhan dengan cara meruwat.

“Dengan demikian Tari Abuang di Desa Adat Tenganan Pegringsingan ini merupakan sarana untuk menyucikan diri dengan jalan meruwat untuk membersihkan segala kekotoran atau mala yang ada di dalam tubuh manusia dan juga di dunia ini sekala dan niskala,” singkatnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Manggis #Tari Abuang #truna #karangasem #Daha #Desa Tenganan