Tidak sulit mencari Pelinggih Batu Kasur di Desa Selat. Lokasinya persis di pinggir jalan jalur Desa Selat-Wanagiri tepatnya di tikungan yang berjarak 1 km dari pusat desa dan berada di ketinggian 300 m dari permukaan laut. Jarak tempuh dari pusat kota menuju tempat tersebut adalah 15 km, dan memakan waktu kurang lebih 30 menit.
Keberadaan pelinggih ini ditandai dengan sebuah batu besar, berdiameter 2 meter. Batu tersebut diselimuti dengan kain poleng dan dipayungi oleh tedung warna putih kuning. Suasana sakral semakin dikuatkan dengan tumpukan canang-canang yang dihaturkan pemedek.
Ditambah, pelinggih ini berada di areal hutan Desa Selat yang masih asri, tentu saja kian menguatkan vibrasi spiritualnya. Tak jarang, pemedek kerap singgah bersembahyang ketika sedang melintas. Bahkan, saat purnama-tilem dan hari suci lainnya kerap didatangi oleh pemedek.
Wajar saja dinamakan pelinggih batu kasur. Pasalnya, pelinggih tersebut posisinya menyerupai tempat tidur atau kasur. Uniknya, tidak ada pelinggih pada umumnya. Tetapi hanya berbentuk bebaturan.
Masyarakat Desa Selat memiliki cerita rakyat yang diyakini sebagai mitologi secara turun temurun. Krama meyakini, Ida Bhatara Dalem Tamblingan berstana di atas batu ini, yang kemudian menjadi dikenal sebagai Kasur atau tempat peraduan.
Jro Mangku Ketut Jasi selaku Pemangku Pura Desa Selat menceritakan konon, Ida Bhatara Dalem Tamblingan bersabda dengan pengawalnya dan meminta agar tempat tidurnya dihormati sebagai tempat yang sakral.
Di tengah perjalannya, dikarenakan hari sudah mulai gelap Ida Bhatara Dalem Tamblingan bersama tiga pengawalnya yaitu I Bendesa, I Pasek , dan I Kubayan memilih untuk beristirahat di tempat tersebut.
Saat itu, kebetulan di tempat mereka beristirahat terdapat sebuah batu besar. Ida Bhatara Dalem Tamblingan memerintahkan I Bendesa untuk mengubah batu tersebut sebagai tempat tidur nya yang menyerupai kasur karena ialah yang paling sakti.
“Maka sampai saat ini diyakini sebagai batu yang sangat keramat. Disakralkan dan tidak boleh sembarangan orang menaikinya, karena memang menjadi tempat peraduan Ida Bhatara Dalem Tamblingan,” katanya.
Meski tidak memiliki struktur mandala layaknya pura, namun, ada sejumlah pantangan bagi pemedek yang hendak nangkil. Pemedek yang cuntaka baik karena sebel atau perempuan yang sedang datang bulan dilarang untuk melakukan sembahyang di tempat ini. Hal ini adalah bagian dari keyakinan dan adat yang dipegang kuat oleh penduduk setempat.
Sementara itu, pada hari raya seperti Galungan dan Kuningan, masyarakat Desa Selat kerap nangkil di pelinggih Batu Kasur untuk melakukan persembahyangan. Ini mencerminkan pentingnya Batu Kasur dalam perayaan keagamaan mereka.
Selain warga Selat, Orang luar juga diperbolehkan untuk menjadi pengunjung. Sarana yang dibawa juga cukup canang sari saat hari purnama dan tilem. Sedangkan saat hari raya keagamaan sarana yang dipersembahkan juga bisa menyesuaikan.
Posisi Pelinggih Batu Kursi yang di pinggir jalan kerap dilewati oleh para pengendara dari dan menuju Desa Selat. Tentu saja, jika melintasi di depan pelinggih ini disarankan untuk membunyikan klakson sebagai permohonan ijin melintas.
Jro Mangku Ketut Jasi menceritakan bahwa karena diyakini sebagai tempat peristirahatan Ida Bhatara Dalem Tamblingan, maka pemedek yang sedang melintas di depan pelinggih disarankan untuk mengojah (menyebutkan namanya) Ida Bhatara Dalem Tamblingan agar diberikan keselamatan saat melintas.
Ia menuturkan bahwa tempat dijaga oleh tiga makhluk sakral yaitu kera, harimau, dan ular. Keberadaan tiga makhluk astral tersebut memang sudah dibuktikan oleh masyarakat yang pernah melihat secara langsung.
“Ada keyakinan sebagai ancangan beliau adalah ular berkepala manusia. Dari pinggang ke bawah itu berwujud ular. Pinggang ke atas berwujud manusia. Tentu makhluk ini sebagai penjaga beliau,” imbuhnya.
Pria berusia 58 tahun ini menambahkan, karena kesidhian beliau, acapkali masyarakat setempat nangkil untuk memohon sesuatu. Seperti hasil panen yang bagus dan rejeki yang berlimpah. Tidak jarang masyarakat juga mesesangi agar terkabulkan.
“Ada yang memohon biar pohon cengkehnya bisa panen, memohon kesehatan, dan banyak lagi. Karena sudah terbukti, maka ada yang membayar kaul,” tutupnya. (dik)