Berbeda dari varian Tari Baris yang umumnya dikenal luas dengan karakter keprajuritan heroik dan ekspresi gagah berani, Baris Babuang menghadirkan nuansa ritualistik yang sarat makna simbolik.
Setiap gerak, busana, properti, hingga struktur pementasan menyatu dalam kerangka yadnya yang sakral. Tak heran, pada tahun 2019, tarian ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Pemangku Pura Kancing Gumi, Jero Mangku Putu Cinta, menjelaskan bahwa Tari Baris Babuang tidak pernah berdiri sendiri sebagai tontonan. “Tarian adalah tarian sakral, jadi bukan untuk hiburan, melainkan persembahan. Penari menari untuk ngayah,” ungkapnya.
Tari Baris Babuang secara proses pementasan terbagi menjadi dua bagian utama yang disebut paledan. Paledan merupakan tahapan pertunjukan dengan susunan gerak, iringan, dan makna khusus sesuai urutan upacara.
Paled pertama disebut Baris. Bagian ini melambangkan kesiapan lahir dan batin penari dalam mengiringi prosesi upacara. Simbol prajurit diwujudkan melalui tiga tahap gerak: pepeson, pengawak, dan pesiat.
Pepeson menjadi gerakan awal berupa sikap hormat sebagai simbol penyucian diri serta penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pengawak menjadi inti gerakan dengan variasi tegas tangan, kaki, dan tubuh, mencerminkan keteguhan hati dan kewaspadaan.
Sementara pesiat menjadi penutup dengan gerakan saling lanteg menggunakan tingkai blecong, sebagai simbol penyucian sekaligus pemulihan kesakralan kalangan.
Paled kedua menghadirkan dinamika berbeda. Dimulai dengan pepeson yang menggambarkan hadirnya energi bhuta kala melalui ekspresi garang dan gerak dinamis.
Pada bagian pengawak, formasi penari mengarah ke empat penjuru mata angin, bersamaan dengan pemangku mempersembahkan banten sebagai simbol penjagaan kesucian yadnya.
Baca Juga: Tahun Baru Imlek di Denpasar, Umat Hindu-Budha Ikuti Persembahyangan
Puncaknya adalah adegan ngerebut banten, melambangkan dinamika energi positif dan negatif sekaligus penyatuan kekuatan sakral. Tarian ditutup dengan ngeluar, saat penari keluar kalangan dengan sikap hormat dan tenang, menandai yadnya telah dipuput dengan selamat.
Kini Tari Baris Babuang ditarikan oleh delapan penari laki-laki yang terbagi dalam dua kelompok sesuai paledan. Dahulu, tarian ini hanya dibawakan oleh empat penari yang menuntaskan seluruh rangkaian tanpa pergantian.
Perubahan ini mencerminkan keberhasilan regenerasi di Desa Adat Batulantang. Jika dulu mencari penari laki-laki menjadi tantangan tersendiri, kini jumlah calon penari semakin banyak. Para penari dipilih dari kalangan remaja hingga dewasa yang telah menjalani prosesi pewintenan, memastikan mereka memenuhi syarat teknis sekaligus ritual.
Proses pembinaan dilakukan berkelanjutan melalui komunitas seni lokal. Pakem gerak, teknik tari, hingga pemahaman makna simbolik diajarkan secara disiplin agar keaslian tetap terjaga lintas generasi.
Baca Juga: Dukungan KMHDI, Wali Kota Denpasar Disebut Patut Diapresiasi, Buntut Polemik Penonaktifan BPJS PBI
Salah satu keunikan Baris Babuang terletak pada properti yang digunakan. Jika Tari Baris lain memakai keris atau tombak, Baris Babuang menggunakan tingkai blecong dari pohon bongkot (kecicang).
Meski terbuat dari bahan alami yang sederhana, tingkai blecong memiliki makna simbolik mendalam. Ia bukan senjata fisik, melainkan simbol kesiapan rohani dan perlindungan spiritual dalam menghadapi kekuatan negatif. Senjata dari daun ini sekaligus menegaskan harmoni manusia dengan alam.
Kekereb, kain penutup kepala bergambar bhuta kala, juga memiliki filosofi penting. Gambar tersebut bukan simbol kejahatan, melainkan representasi energi kosmis liar yang harus diseimbangkan. Dengan mengenakannya, penari memerankan diri sebagai penjinak dan pengendali energi tersebut.
Tak kalah unik adalah penggunaan pusuh biu atau jantung pisang yang diletakkan di mulut penari. Sarana ini melambangkan bhuta kala dan pengekangan sifat liar dalam diri manusia. Penempatan pusuh biu menjadi simbol proses penyucian dan harmonisasi kosmis.
“Dalam hal tata rias, Baris Babuang tampil sangat sederhana. Penari tidak menggunakan rias panggung modern. Wajah dibiarkan natural, hanya diberi gecek putih di kening sebagai simbol kesucian dan penanda sifat ritual,” imbuhnya.
Baca Juga: Reformasi Tata Kelola Bursa Efek Jadi Kunci Perkuat Kemandirian Ekonomi Indonesia
Tari Baris Babuang secara khusus dipentaskan dalam rangkaian upacara Piodalan di Pura Kancing Gumi. Pementasan berlangsung setiap Rabu Umanis Perangbakat dan menjadi bagian penting puncak puja wali.
Selain di Pura Kancing Gumi, tarian ini juga dipentaskan di beberapa pura lain di wilayah Desa Adat Batulantang. Kehadirannya menjadi simbol perlindungan niskala sekaligus wujud bhakti masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan roh leluhur.
Menurut Jero Mangku Putu Cinta, makna terdalam Tari Baris Babuang terletak pada tattwa bhakti.
“Baris Babuang adalah lambang kesiapan dan ketulusan hati ngayah. Penari bukan sekadar bergerak, tetapi menyatukan pikiran dan hati dengan tujuan upacara. Semua yang dilakukan adalah wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi,” tegasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika