Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Perubahan Praktik Bebantenan: Bergeser Kemasan itu Wajar, Jangan Mengubah Esensi Spiritualnya

I Putu Mardika • Jumat, 20 Februari 2026 | 15:58 WIB

Banten yang dipersembahkan wajib dipahami maknanya, meskipun sering mengalami perubahan dari tata cara kemasannya
Banten yang dipersembahkan wajib dipahami maknanya, meskipun sering mengalami perubahan dari tata cara kemasannya
BALIEXPRESS.ID-Bali sejak lama dijuluki sebagai “Pulau Banten”, sebuah penanda budaya yang merujuk pada tingginya secara kuantitas praktik ritual umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam setiap rangkaian yadnya, kehadiran banten bukan sekadar pelengkap upacara, melainkan simbol bhakti dan medium komunikasi spiritual antara manusia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun, saban hari seiring perubahan orientasi yang kian instan, wajah bebantenan di Bali kini mengalami transformasi yang kian terasa.

Perubahan tersebut menjadi sorotan dalam kajian akademik yang membahas banten dalam perspektif perubahan sosial budaya. Fenomena membeli banten siap saji, penggunaan bahan impor, hingga kecenderungan menonjolkan kemewahan visual menjadi realitas baru dalam praktik ritual masyarakat Hindu Bali.

Transformasi ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan struktur pekerjaan, gaya hidup, serta penetrasi logika pasar dalam ruang-ruang keagamaan.

Dosen Upakara IAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Ag, menjelaskan bahwa perubahan dalam praktik bebantenan sesungguhnya adalah bagian dari dinamika kebudayaan. Namun, menurutnya, penting untuk membedakan antara perubahan pada aspek teknis dengan perubahan pada esensi spiritualnya.

“Secara teologis, makna banten sebagai sarana bhakti tidak pernah berubah. Yang berubah adalah cara penyajian, bahan, dan pola pengadaannya. Ini harus dipahami sebagai dinamika sosial, bukan serta-merta degradasi nilai,” ujarnya saat diwawancarai Bali Express.

Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Hindu Bali, banten merupakan simbol kosmologis yang sarat makna. Setiap unsur memiliki representasi filosofis, mulai dari unsur panca mahabhuta hingga simbol keseimbangan antara sekala dan niskala.

Karena itu, ketika bahan atau tampilannya berubah, yang perlu dijaga adalah pemahaman maknanya. “Kalau hanya bergeser pada kemasan, itu wajar. Tetapi jika maknanya tidak lagi dipahami, di situlah problem spiritual mulai muncul,” tegasnya.

Modernisasi, menurut Dr. Wayan Murniti, telah membawa perubahan signifikan dalam pola hidup masyarakat Bali. Jika dahulu pembuatan banten dilakukan secara kolektif melalui gotong royong di lingkungan keluarga atau desa adat, kini banyak umat memilih membeli banten karena keterbatasan waktu.

Ia memandang fenomena tersebut secara proporsional. “Kita tidak bisa menutup mata bahwa struktur sosial sudah berubah. Banyak umat bekerja dengan sistem waktu yang ketat. Membeli banten bukan berarti tidak bhakti, selama niat dan kesadaran spiritual tetap terjaga,” jelasnya.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa pergeseran ini berdampak pada melemahnya interaksi sosial berbasis ritual. Aktivitas metetandingan yang dahulu menjadi ruang transmisi pengetahuan antar generasi kini semakin jarang dilakukan.

“Di dalam proses membuat banten, ada transfer nilai, ada pendidikan karakter, ada pembelajaran simbolik. Jika semuanya diserahkan pada mekanisme pasar, maka dimensi edukatif itu bisa hilang,” katanya.

Fenomena lain yang mengemuka adalah kecenderungan menjadikan kemewahan banten sebagai simbol prestise sosial. Dalam sejumlah upacara, gebogan dengan buah impor dan jajanan modern tampil lebih dominan dibanding buah lokal dan jaje Bali tradisional. Dr. Wayan Murniti melihat kecenderungan ini sebagai dampak masuknya budaya konsumtif dalam praktik keagamaan.

“Dalam ajaran Hindu Bali dikenal tingkatan kanista, madya, dan utama. Artinya, yadnya itu fleksibel sesuai kemampuan. Jika muncul perlombaan kemewahan, maka spirit kesederhanaan dan ketulusan bisa tergeser,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kecantikan estetika memang penting dalam ritual, karena Hindu Bali tidak memisahkan unsur keindahan dari kesakralan. Namun estetika, menurutnya, tidak boleh melampaui substansi.

“Keindahan itu sarana untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk memamerkan kemampuan ekonomi. Kalau orientasinya bergeser menjadi ajang legitimasi sosial, maka makna bhakti bisa tereduksi,” ujarnya.

Terkait semakin jarangnya penggunaan buah lokal dan jajanan tradisional dalam banten, Dr. Wayan Murniti menyayangkan fenomena tersebut. Ia menilai bahwa produk lokal bukan hanya komponen ritual, tetapi juga representasi identitas budaya Bali.

“Buah lokal dan jaje Bali itu bagian dari kearifan agraris kita. Ketika digantikan oleh produk impor semata-mata karena alasan estetika atau tren, kita sedang kehilangan jejak identitas,” katanya.

Menurutnya, penggunaan bahan impor memang tidak secara teologis dilarang, selama memenuhi prinsip kesucian dan kepatutan. Namun ia mendorong adanya kesadaran kolektif untuk tetap memberdayakan potensi lokal.

“Ritual seharusnya juga menjadi ruang penguatan ekonomi lokal. Jika semua beralih pada produk luar, maka ada ketergantungan yang tidak sehat,” jelasnya.

Dalam pandangan akademiknya, perubahan bebantenan di Bali harus dibaca sebagai dialektika antara tradisi dan modernitas. Bali tidak mungkin kembali sepenuhnya pada pola lama, tetapi juga tidak boleh kehilangan fondasi filosofisnya.

“Kuncinya ada pada literasi keagamaan. Umat perlu memahami mengapa sebuah banten dibuat, apa makna setiap unsurnya. Jika pemahaman itu kuat, maka perubahan bentuk tidak akan menggoyahkan esensinya,” tegasnya.

Di tengah dinamika tersebut, Dr. Wayan Murniti mengajak umat Hindu Bali untuk melakukan refleksi spiritual. Baginya, yadnya adalah persembahan tulus tanpa pamrih, bukan beban sosial apalagi arena kompetisi simbolik.

“Bhakti itu soal kesadaran batin. Banten yang sederhana tetapi dibuat dengan penuh ketulusan nilainya jauh lebih tinggi dibanding yang mewah tetapi dilandasi gengsi,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#perubahan sosial #bali #Banten #Esensi #hindu