Arkeolog Gusti Ngurah Tara Wiguna menjelaskan Situs Tamblingan telah dihuni dari masa prasejarah (bercocok tanam) berlanjut ke masa perundagian (tradisi megalitik), kemudian ke masa Hindu- Buddha (klasik abad IX M), terus ke masa kolonial Belanda.
Budaya yang berkembang pada masa prasejarah pemujaan terhadap nenek moyang dan kekuatan alam untuk memohon kesuburan, keselamatan, dengan media pemujaan tahta batu, menhir, dan dolmen, sampai saat sekarang masih dimanfaatkan dan dilestarikan
Dikatakan Ngurah Tara, Kawasan situs Tamblingan mencakup Desa Munduk, Desa Gobleg, Desa Gesing, dan Desa Uma Jero. Ke empat desa tersebut memiliki tinggalan arkeologi cukup padat yang tersebar di tengah-tengah hutan, di tepi danau, di sawah-sawah, di tengah-tengah perkebunan, di pura-pura, dan di tengah-tengah permukiman desa
Semua berawal dari penemuan selembar prasasti Tamblingan oleh seorang petani bernama Pan Niki pada tahun 1987. Dari hasil pembacaan dapat diungkapkan bahwa prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Bhatara Cri Parameswara pada tahun Caka 1306 (1384 M).
Prasasti itu ditujukan kepada keluarga pande besi Tamblingan agar kembali dari tempat pengungsian, dan kepada Arya Cengceng (Kenceng) diperintahkan agar segera kembali ke Lo Gajah (Goa Gajah),
Kemudian Balai Arkeologi Denpasar, mulai tahun 1988 telah mengadakan ekskavasi di tepi dan tengah hutan Danau Tamblingan, telah berhasil menemukan benda-benda arkeologi seperti kereweng hias terajala, manik-manik, fragmen beliung persegi (masa prasejarah).
Ada pula temuan palungan-palungan batu pendingin, batu ububan, batu landasan pukul, kerak-kerak logam, butiran-butiran logam, wadah lebur logam (kowi), alat kait besi, arang dan beberapa hasil produksi. Seperti pisau, keris, tombak, kereweng, keramik struktur bangunan, uang kepeng (masa klasik).
“Temuan tersebut sangat erat kaitannya dengan adanya sebuah kegiatan membuat logam atau keberadaan sebuah komunitas masa lampau yang memiliki profesi sebagai pande besi,” jelasnya.
Adanya temuan palungan-palungan batu pendingin, batu ububan, batu landasan pukul, kerak-kerak logam, butiran-butiran logam, wadah lebur logam (kowi), alat kait besi, arang dan beberapa hasil produksi seperti pisau, keris, tombak. Keyakinan adanya kegiatan pande besi di lokasi tersebut diperkuat dari pembacaan prasasti Tamblingan (1384 M), yang menyebutkan keberadaan pande besi di tepian Danau Tamblingan
Kemudian pada tahun 2002 di Pura Endek Tamblingan, ketika masyarakat melakukan gotong royong dalam rangka perluasan pura menemukan beberapa lembar prasasti tembaga yang tersimpan dalam guci.
Prasasti tersebut ditatah aksara Bali Kuna dan Jawa Kuna. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh tiga raja yaitu: Raja Ugrasena (844 Saka), Raja Udayana, Raja Suradipa (1014 Saka). “Peninggalan seperti menhir, dolmen, tahta batu, celak kontong lugeng luih, arca perwujudan leluhur, komponen bangunan, peti batu,” imbuhnya.
Dari berbagai riset yang di lakukan, di kawasan Tamblingan yang mencakup empat desa yaitu Desa Munduk, Desa Gobleg, Desa Gesing, dan Uma Jero ditemukan sejumlah peninggalan yang sebagai bukti peradaban.
Dikatakan Gusti Ngurah Tara Wiguna adapun peninggalan arkeologi yang ditemukan di ke empat desa tersebut salah satunya adalah Pura Penimbangan. Pura ini terletak di tepi selatan Danau Tamblingan dekat dengan Pura Gubug. saat mengadakan penelitian pura tersebut tenggelam karana air danau naik setinggi lima meter, untuk menuju ke pura naik pedau (jukung tradisional) terbuat dari kayu.
Di dalam pura terdapat sebuah batu datar yang sangat besar (jenis batuan andesit) dengan kuran 3,25 m, lebar 2.20 m. Batu tersebut adalah sebuah meja batu (dolmen) dari tradisi megalitik. Kepercayaan masyarakat fungsi sebagai meja sesaji untuk memohon keselamatan dan kesuburan.
Selanjutnya ada pula temuan di Pura Ulun Danu Tamblingan. Pura ini terletak di ulu (utara) Danau Tamblingan, untuk menuju ke pura tersebut naik pedau. Secara administrasi berada di Dusun Tamblingan, Desa Munduk.
Pura menghadap ke barat, di dalamnya terdapat pelinggih meru, sebagai media pemujaan dewa kesuburan. Tinggalan arkeologi yang ada, onggokan batu (jenis batuannya andesit), sebagai warisan dari tradisi megalitik, fungsinya sebagai media pemujaan terhadap kesuburan.
Kemudian tinggalan arkeologi juga ditemukan di Pura Dalem Tamblingan. Pura ini terletak di atas tebing timur laut Danau Tamblingan. Untuk menuju ke pura tersebut dapat ditempuh melalui tepian danau, selanjutnya naik melalui jalan setapak. Secara administrasi berada di Dusun Tamblingan, Desa Munduk.
Baca Juga: Suryo HS Tanggung Biaya Pengobatan Korban Kecelakaan, Beri Beasiswa Deva hingga Kuliah
Pura yang menghadap ke barat ini, di dalamnya terdapat pelinggih Meru sebagai media pemujaan terhadap Dewa Siwa. Tinggalan arkeologi yang ditemukan di dalam pura ini adalah Celak kontong lugeng luih (simbol laki dan perempuan), dipahatkan pada bongkahan batu andesit. Kepercayaan masyarakat, celak kontong lugeng luih tersebut berfungsi untuk memohon kesuburan yaitu hujan dan keturunan.
“Onggokan batu andesit (tradisi megalitik), fungsinya sebagai media pemujaan kekuatan alam yang ada di kawasan Danau Tamblingan. Komponen bangunan, komponen tersebut bagian dari kamuncak (murda) bahan dari batu padas,” jelasnya.
Ada pula Arca perwujudan leluhur, disimpan pada sebuah gedong yang bernama Gedong Kerta Jati. Arca dalam kondisi sudah aus, bahan batu padas. Simbol media pemujaan roh leluhur yang dihormati. Kemudian terdapat Palungan batu pendingin (pande), tinggalan ini ditempatkan pada halaman pura sisi utara, bentuknya ada bulat, segi empat panjang dengan bebagai ukuran.
Temuan arekologi terdapat di Pura Pande. Pura ini terletak di tepi timur Danau Tamblingan menghadap ke barat, ketika mengadakan penelitian pura tersebut terendam air Danau Tamblingan yang naik sampai 5 meter. Secara administrasi berada di Dusun Tamblingan, Desa Munduk.
Pura ini baru dibangun oleh warga Pande yang mempercayai dirinya keturunan Pande Tamblingan. Dalam berbagai eksavasi yang dilakukan ditemukan sejumlah palungan batu pendingin, batu ububan, batu landasan pukul yang terkait dengan pande besi.
Baca Juga: Gerindra Bali Kerahkan 500 Kader Bersih-bersih Pantai Legian, Soroti Penanganan Sampah Musiman
Pura Embang, Pura ini terletak di tengah hutan lindung Tamblingan, secara administrasi berada di Dusun Tamblingan, Desa Munduk. Pura tersebut sangat sederhana tanpa tembok keliling, di dalam pura ini terdapat 3 buah pelinggih yang terbuat dari susunan batu pipih (live stone), saat sekarang dalam kondisi tidak beraturan.
Pura Endek terletak di lereng Gunung Lesong, di sebelah tenggara Danau Tamblingan.Di Pura ini terdapat Pelinggih Gedong prasasti. disebut gedong prasasti karena di tempat tersebut pernah disimpan prasasti tembaga sebanyak 15 lembar, yang dikeluarkan oleh raja Bali Kuna.
Termasuk ditemukan Palinggih Gedong dengan kontruksi kayu dengan 12 tiang, atap ijuk, warna serba merah. Pelinggih tersebut sebagai stana dewa kesuburan yang berkaitan dengan perdagangan atau perekonomian, yang dipuja oleh dua etnis yaitu Bali (Hindu), dan etnis Cina (Budha).
Di Pura Pengukusan. Yang terletak di sisi lereng utara Gunung Lesong juga trerdapat peninggalan. Disini terdapat dua buah bebaturan dari bahan live stone, yang berfungsi sebagai media pemujaan terhadap kekuatan alam. “Dapat diduga bahwa peninggalan tersebut adalah warisan dari tradisi megalitik yang pernah berkembang di kawasan Danau Tamblingan,” sebutnya.
Pura Pengukiran Pura ini terletak di sebelah barat dari Pura Pengukusan, jaraknya lebih kurang 500 meter dan untuk menuju ke pura tersebut dengan melewati hutan lindung dengan medan yang cukup berat, jalan menanjak naik dan licin.
Pura ini sangat sederhana tanpa tembok keliling, terdapat satu buah bebaturan dari batu live stone, tiga ongokan batu dari jenis batu andesit. Saat sekarang berfungsi sebagai media pemujaan terhadap dewa yang terkait dengan undagi bangunan, dan kekuatan alam yang ada dikawasan danau Tamblingan.
Baca Juga: Gerindra Bali Kerahkan 500 Kader Bersih-bersih Pantai Legian, Soroti Penanganan Sampah Musiman
Sedangkan Pura Puncak Gunung Lesong di kawasan ini juga difungsikan sebagai media pemujaan terhadap dewa gunung. Tinggalan arkeologi yang ada yaitu bongkahan batu andesit, ongokan batu, dan sebuah arca perwujudan leluhur
Pura Hyang Api Tanah Mal Pura ini terletak di tengah-tengah perkebunan penduduk pada lembah Gunung Lesong. Pura Hyang Api Tanah Mel ada disebut dalam prasasti Gobleg Pura Batur A dikeluarkan oleh raja Ugrasena yang memerintah di Bali tahun 837-858 Saka.
Tahta batu ini sebagai palingih utama, dan masyarakat mempercayai bahwa fungsi dari tahta batu tersebut sebagai media pemujaan kekuatan alam untuk memohon kesuburan.
Dari tinggalan sumberdaya arkeologi di kawasan situs Tamblingan, memberi bukti bahwa peradaban masyarakat Tamblingan sudah berlangsung sejak dari masa prasejarah (bercocok tanam) yang dibuktikan dengan temuan beliung persegi, berlanjut ke masa perundagian (tradisi megalitik) dibuktikan adanya temuan tahta batu, dolmen.
“Peninggalan tersebut sampai saat sekarang masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dimohonkan kesejahteraan, keselamatan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika