BALIEXPRESS.ID-Suasana sakral terlihat di kawasan Pura Desa Adat Buleleng pada Selasa sore (17/3). Di bawah sinar matahari yang mulai condong ke barat, puluhan krama Desa Adat Buleleng tampak menjalani salah satu tradisi tua yang tetap lestari hingga kini, yakni ritual Mapepada
Ritual ini bukan sekadar prosesi biasa. Mapepade merupakan tahapan penting dalam rangkaian upacara Tawur Kesanga, yang bertujuan untuk menyucikan hewan-hewan yang akan digunakan sebagai sarana pecaruan.
Tahun ini, sebanyak 17 ekor hewan mengikuti prosesi penyucian, mulai dari anak sapi (godel), kambing, babi, anjing, hingga unggas seperti ayam, itik, dan angsa.
Dengan mengenakan busana adat madya, krama satu per satu membawa hewan-hewan tersebut di halaman pura. Diiringi doa dan mantra suci, hewan-hewan itu diperciki tirta, sebagai simbol pembersihan lahir dan batin sebelum dipersembahkan dalam upacara.
Tradisi Mapepade sendiri telah berlangsung sejak tahun 1835, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Desa Adat Buleleng. Tahun ini, tanggung jawab sebagai ngewalung atau pelaksana upacara dipercayakan kepada Banjar Adat Kampung Anyar.
Prosesi dipimpin oleh sulinggih Ida Pandita Mpu Ratangkara Bayu Sagara Gni Ananda Wijaya Nantha dari Griya Taman Aswameda Asram Yeh Taluh. Dengan penuh ketenangan, beliau memimpin jalannya ritual, memastikan setiap tahapan berlangsung sesuai dengan tuntunan sastra.
Di sela-sela kegiatan, Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan bahwa Mapepade berlandaskan pada lontar Bama Kerti dan Ciwa Gama. Menurutnya, penyucian ini penting untuk menjaga kesucian sarana upacara sebelum digunakan dalam Tawur Kesanga.
“Tradisi ini bertujuan menyucikan hewan sebagai sarana upacara. Kami juga telah berkoordinasi dengan Banjar Adat Kampung Anyar yang bertugas menyiapkan banten pecaruan,” ujarnya.
Sutrisna menambahkan, Mapepada secara filosofi memiliki makna agar manusia bisa menghormati semua ciptaan Tuhan. Baik itu Beburon berkaki dua maupun berkaki empat. Sebab, secara esensi dari sebuah prosesi beragama itu adalah kesucian, dan menjaga kesakralan.
Menurutnya mepepada hanya akan dilakukan jika mennggunakan sarana hewan berkaki empat sebagai wewalungan. Sedangkan jika caru yang hanya menggunakan hewan berkaki dua, cukup dilakukan penyucian dengan tirta saja.
“Kalau sudah caru besar, minimal beburon yang akan dijadikan wewalungan biasanya berkaki empat. Kalau sudah menggunakan kaki empat, sudah pasti mapepada,” ungkapnya.
Penggunaan asu bang bungkem dalam ritual pecaruan bukanlah tanpa alasan. Sebab, asu bang bungkem. Di Bali meyakini, kalau ada anjing mulutnya merah, secara ciri-ciri memiliki kesetiaan, pengabdi, tidak banyak menggonggong tidak karuan, itu bisa dikatakan sebagai jenis anjing yang bermanfaat dan berguna.
Bahkan relative susah mencari asu bang bungkem. Sebab asu yang digunakan harus sudah dewasa, tidak pernah kawin, dan harus jantan. Karena kalau betina yang diambil, tentu akan berdampak terhadap keseimbangan ekologi.
Baca Juga: Buntut Video Esek-Esek Berjaket Ojol, Konten Kreator asal Prancis Callmeslo dan 2 WNA Lain Ditangkap
“Olahan caru dari daging asu bang bungkam hulunya disebut sanggah Durga. Kakinya sanggah durga itu satu dengan bentuk segi empat. Kalau binatang yang lain disebut sanggah tutuan, ini yang khusus,” jelasnya.
Dalam posisi letak arah mata angin, caru bang bungkem menempati posisi Kaja Kauh atau barat daya (selatan-barat). Sedangkan olahannya dalam caru daging asu bang bungkem dibagi menjadi 33 tanding.
Sutrisna menambahkan, jika wewalungan sudah disucikan mala perlu perlakukan secara khusus. “Harus ditempatkan pada tempat yang wajar. jangan dilempar, apalagi diinjak karena itu digunakan sebagai persembahan,” pungkasnya.
Usai prosesi di pura, hewan-hewan yang telah disucikan kemudian diarak menuju Catus Pata Desa Adat Buleleng, lokasi utama pelaksanaan Tawur Kesanga. Di tempat inilah, keesokan harinya, Rabu (18/3), upacara pecaruan akan digelar sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi 1948 Caka.
Tawur Kesanga sendiri akan dipuput oleh sejumlah sulinggih dari berbagai griya, menghadirkan kekuatan doa dari berbagai penjuru. Harapannya satu, yakni menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Acara mapepada diakhiri dengan serah terima wewalungan dari Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra kepada kelian desa adat Buleleng untuk selanjutnya diteruma oleh kelian banjar Kampung Anyar yang bertugas menyiapkan olahan daging untuk banten pecaruan. (dik)
Editor : I Putu Mardika