Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

ST Bina Warga Banjar Mas Angkat Filosofi “Nyulub” dalam Ogoh-Ogoh, Simbol Introspeksi dan Penyucian Diri

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 18 Maret 2026 | 20:18 WIB
OGOH-OGOH : Ogoh-ogoh ST Bina Warga Banjar Mas Sayan Ubud. 
OGOH-OGOH : Ogoh-ogoh ST Bina Warga Banjar Mas Sayan Ubud. 

BALIEXPRESS.ID - Semangat kreativitas generasi muda Banjar Mas, Desa Sayan, Ubud, kembali menyala menjelang Hari Raya Nyepi. Sekaa Teruna (ST) Bina Warga tahun ini menghadirkan ogoh-ogoh bertema “Nyulub”, sebuah konsep yang tidak hanya artistik, tetapi juga sarat makna spiritual khas Bali. Tema ini dipilih sebagai refleksi mendalam atas perjalanan batin manusia dalam menghadapi berbagai sifat negatif dalam dirinya.

Ketua ST Bina Warga, Wayan Valentino, mengungkapkan bahwa pemilihan tema “Nyulub” berangkat dari keinginan untuk menghadirkan karya yang tidak sekadar menarik secara visual, tetapi juga mampu memberikan pesan moral dan spiritual kepada masyarakat. Ia menilai ogoh-ogoh bukan hanya simbol Bhuta Kala, tetapi juga media edukasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks spiritual Bali, “Nyulub” memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar tindakan fisik. Istilah ini merujuk pada proses “menyelam” ke dalam diri sendiri atau introspeksi batin. "Melalui proses ini, seseorang diharapkan mampu melebur sifat-sifat buruk menjadi energi yang lebih positif dan suci, sejalan dengan konsep nyomia dalam ajaran Hindu Bali, " paparnya, Rabu (18/3). 

Baca Juga: Safari Ogoh-Ogoh di Serangan, Warga dan BTID Kolaborasi Jaga Tradisi Nyepi

Lebih jauh, filosofi Nyulub juga berkaitan dengan proses transformasi diri atau yang dikenal dengan istilah “nalin wujud”. Ini menggambarkan bagaimana energi spiritual dapat bertransformasi dan menyatu dalam diri manusia. Dalam praktiknya, hal ini erat kaitannya dengan kemampuan mengendalikan Panca Maha Bhuta, yakni lima unsur pembentuk alam semesta dan tubuh manusia.

Ogoh-ogoh yang dibuat oleh ST Bina Warga pun dirancang untuk merepresentasikan proses tersebut. Visualisasi sosok Bhuta Kala digambarkan tidak hanya sebagai simbol kekuatan negatif, tetapi juga sebagai representasi energi yang dapat ditransformasikan menjadi kekuatan positif melalui kesadaran dan pengendalian diri.

Tak hanya itu, dalam ajaran spiritual Bali, Nyulub juga memiliki aturan dan etika tertentu. Ada pantangan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilalui atau “disulubin”. "Misalnya, larangan melintas di bawah jemuran atau benda yang dianggap kotor secara niskala, karena dipercaya dapat mengurangi kekuatan spiritual seseorang, " imbuh Valen. 

Wayan Valentino menambahkan bahwa nilai-nilai ini penting untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda. Menurutnya, di tengah arus modernisasi, pemahaman terhadap etika dan filosofi spiritual lokal harus tetap dijaga agar tidak tergerus zaman. Ogoh-ogoh menjadi salah satu media efektif untuk menyampaikan pesan tersebut.

Selain sebagai simbol penyucian, Nyulub juga dimaknai sebagai wujud kerendahan hati. "Filosofi ini diibaratkan seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk. Dalam praktik keagamaan, sikap merunduk atau Nyulub mencerminkan ketundukan manusia di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta keharmonisan dengan alam semesta, " tegasnya. 

Proses pembuatan ogoh-ogoh ini pun melibatkan seluruh anggota ST Bina Warga dengan penuh gotong royong. Tidak hanya mengandalkan kreativitas seni, mereka juga melakukan pendalaman makna agar karya yang dihasilkan benar-benar merepresentasikan nilai yang diusung. Hal ini menjadikan ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni, melainkan juga sarana pembelajaran spiritual.

Melalui tema “Nyulub”, ST Bina Warga Banjar Mas berharap masyarakat tidak hanya menikmati keindahan ogoh-ogoh secara kasat mata, tetapi juga mampu menangkap pesan mendalam di baliknya. Bahwa dalam kehidupan, setiap manusia perlu melakukan introspeksi, melebur ego, dan menjaga keseimbangan antara diri, alam, dan Tuhan sebagai inti dari kehidupan spiritual Bali.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#seni budaya