BALIEXPRESS.ID-Bebai adalah sejenis penyakit non medis yang dilakukan oleh orang yang berniat jahat. Upaya mengirimkan penyakit bebai bisa dilakukan jika seseorang memiliki dendam dengan tujuan untuk menyakiti secara niskala.
Babahi dalam kamus Bahasa Bali adalah merupakan roh jahat yang menyebabkan penyakit seperti orang gila, hal ini dikarenakan penderita yang terkena babahi tidak sadarkan diri.
Orang yang terkena Babahi, tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya dan penyakit dalam tubuhnya tersebut akan memberikan respon yang negatif sehingga penderita akan mengalami ketakutan berlebih, dada terasa berdebar lebih cepat disebabkan dalam tubuh individu terdapat kekuatan gaib.
Babahi akan mudah menyerang remaja yang dalam kondisi kotor badan (haid), remaja yang akil balig, mereka yang suka melamun, anak yang manja dan pada saat memasuki perkawinan, serta di saat mengalami depresi.
Orang yang terkena babahi atau babainan, biasanya karena hasil pekerjaan orang yang merasa tidak suka atau sakit hati dengan keluarga korban. Mereka akan memasang baik mencari atau dengan membeli.
Baca Juga: Tak Cukup Aparat Formal, Bali Perlu Revitalisasi Jaga Baya dan Peran Pecalang
Pelaku akan memasang pada lebuh atau pekarangan korban, ada juga dengan cara dikirimkan mempergunakan guna–guna serta mantra tertentu.
Praktisi atau penekun Lontar, Ida Bagus Gede Arsana dari Geriya Arsa Mayun Buduk, dalam YouTube Yudha Triguna Channel menjelaskan Babahi merupakan penyakit yang diakibatkan oleh pengaruh dari faktor non medis atau niskala.
Sedangkan bebainan kondisi dimana sakit seseorang yang diakibatkan faktor tersebut seperti disebutkan dalam Lontar Sesapa Bebai
Kondisi ini membuat orang yang terkena pengaruh bebai menjadi frustasi dan putus asa. Karena kalau pengobatan medis sering tidak sembuh.
Terkadang kalau mencari alternatif sembuh hanya beberapa Kliwon atau sekitar 5-10 hari. Kemudian bisa kambuh lagi.
Gejala yang ditimbulkan oleh bebaian ini adalah merasa senssitifitas emosi yang tinggi. Merasa vibrasi getaran kalau menguap akan terkontaminasi. Seperti kalau ada orang teriak dia akan ikut teriak
“Termasuk memiliki rasa tidak nyaman, tekanan kejiwaan. Menjelang kajeng kliwon, merasa tidak nyaman, ingin menangis dan berpotensi menyakit diri sendiri. Karena merasa ada kekuatan gaib yang tidak bisa dilihat yang ada di dalam tubuhnya. Sehingga silit mengendalikan diri,” ungkapnya.
Di dalam Lontar Bebai disebutkan beberapa jenis bebai. Sehingga susah untuk mengobatinya. Bebai itu memiliki pasukan Mas Rajeg Bumi yang memiliki pasukan 30 jenis Babahi. Seperti Jaya Satru, Belog, Bongol, dan lainnya
“Tergantung dimana letak Babahi di dalam tubuh yang sakit. Disana disebutkan, kalau di kepala mengalami bebai, maka sakitnya akan seperti ditusuk-tusuk, ngomongnya, ngawur, seperti orang gila,” jelasnya.
Baca Juga: Peradilan Militer Dinilai Mampu Jamin Keadilan Kasus Air Keras, Pemerintah Tekankan Transparansi
Apabila penyakit Babahi turun di leher, maka orang tersebut akan pingsan, lemas, dan tidak ingat dengan diri. Kalau Babahi mengenai di pangkal lidah atau di mulut, maka akan sering keserungan, berbicara ngawur dan kedewan-dewan.
Apabila Babahi berada pada persendian, pagelangan, maka tubuh akan merasa ngilu, kaku dan kejang-kejang. Ini berbeda dengan sakit karena kolesterol dan letak sakitnya beda.
“Kalau Babahi biasnaya tidak sadarkan diri, mual-mual, dan sakitnya seperti berjalan. Akan dirasakan orang bebainan. Sehingga disebut sakit niskala,” sebutnya.
Karena sakit berpindah- pindah, sehingga sulit untuk diobati, berganti-ganti dengan tiga puluh pasukan. Sehingga sering membohongi. Inilah akibatnya karena perkataan orang yang mengalami sakit Babahi itu susah dipercaya.
Ia menambahkan, misal saat diobati, sering bilang akan keluar, begitu yang mengobati pergi, maka akan sering muncul lagi.
Sering juga menunjuk orang, menantang, maka sering membuat orang menjadi tidak kondusif, sehingga jangan pernah mempercayai bebai, karena sering menipu dan berbohong.
“Karena Babahi itu bisa diperjualbelikan oleh orang-orang yang berniat jahat, karena bertujuan untuk sakit-sakit tertentu. Itulah dapat menyerang secara fisik dan psikis,” paparnya. (dik)
Gunakan Sirih sebagai Obat
Jika mengalami ciri-ciri terkena Babahi, maka harus dilakukan penanganan secara non medis. Sebab, penyakit ini tidak bisa ditangani dengan pendekatan medis.
Lalu, apa yang harus dilakukan ketika ada yang memiliki ciri-ciri terkena Babahi? Siapa saja yang berpotensi terkena Babahi?
Bahwa Babahi akan menyerang orang yang suka melamun, jarang sembahyang, kemudian orang yang sedang menyelenggarakan pawiwahan. Menurutnya, orang yang suka stress juga akan berpotensi terkena bebai karena diakibatkan oleh kekosongan pikiran.
Baca Juga: Program MBG Jadi Investasi Strategis, Pemerintah Fokus Bangun Kualitas SDM Indonesia
“Orang yang melaksanakan perkawinan, di saat metanjung sambuk, ada unsur kala. Maka orang yang berniat tidak baik karena dulu merasa sakit hati atau dendam, Nah disanalah kesempatan untuk memasang bebainan,” paparnya.
Menurutnya, kalau ada orang yang terkena Babahi, di awal bisa disembur dengan sirih, pinang, kapur yang dikunyah lalu disebur pada orang yang kena Babahi di sekujur tubuh, sehingga segera sadar.
Kemudian bagi yang paham mantra bisa merapalkan mantra saat mengunyah. Kalau tidak hafal, bisa dengan mesaha. Selain itu bisa memohon kepada Bhatara Dalem, karena sumber sakit itu dari madyaning dalem, agar dinetralisir.
Menurut Kitab Ayurveda, sakit adalah akibat tergangunya keseimbangan Tri Dosha dalam tubuh, sehingga tubuh tidak dapat melakukan tugasnya, Tri Dosha terdiri atas Vāyu (Vāta), Pitta, dan Kapha yang di identikan dengan elemen Vāta (Udara), Pitta (Api) dan Kapha (Air), oleh karena itu cara pengobatannya juga memakai sarana (Usadha Babahi) Udara seperti dengan cara ditiup (Usadha Punggung Tiwas) baik pada ubun- ubun atau tubuh si sakit dengan merafal mantra tertentu berulang-ulang.
Kemudian sarana Api yaitu dengan cara sisakit di asapi baik dengan dupa atau ramuan tertentu yang di bakar (tabunan) kemudian dudus penderita untuk mengeluarkan penyakitnya, dan yang terakhir mempergunakan sarana Air yaitu dengan cara diruat atau di lukat.
Air yang dipakai untuk meruat atau melukat di ambil pada pertemuan sungai (campuhan) dan mata air (kelebutan/mumbul) dengan cara tidak berpakian dan tidak membayangi air tersebut.
Ketiga unsur ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dalam tubuh, agar supaya badan bisa berfungsi dengan baik dan unsur sakit akan hilang, selain beberapa sesajen sebagai upah untuk mengeluarkan babahi tersebut pada si penderita.
Menurut Usadha Babahi dan Usadha Buduh, Sedah (Base) Jambe, Apuh dipakai sebagai sembar (anggen simbuh) di kiri kanan sisakit dan badan yang lainya.
Selain itu ada beberapa cara tindakan untuk mencegah agar terhindar dari babainan yaitu dangan cara menghindari bengong dan melamun, rajin sembahyang dan hindari cemer di area suci seperti Penunggu karang, Area Sanggah Merajan dan hindari stress, jangan menutup diri serta terbuka dengan orang tua. (dik)
Editor : I Putu Mardika