BALIEXPRESS. ID- Desa Adat Sayan, Ubud, akan menggelar upacara sakral nedunang pajenengan atau kulkul di Pura Desa sebagai bagian dari rangkaian ritual adat yang sarat makna spiritual. Prosesi ini akan dilaksanakan pada Anggara, Pahing, Watugunung, Selasa (31/3) ini menjadi momentum penting bagi krama desa dalam memperkuat ikatan niskala sekaligus menjaga warisan leluhur yang terus hidup di tengah masyarakat.
Krama desa dipastikan dengan penuh rasa bhakti mengikuti prosesi nedunan atau menurunkan pajenengan berupa kulkul yang sebelumnya kelinggihan di Bale Kulkul. Upacara ini diawali dengan rangkaian penedunan dan tapakan linggih, dilanjutkan dengan persembahan ayaban dapetan sebagai bentuk ungkapan syukur dan penghormatan kepada Ida Sesuhunan.
Baca Juga: Kerusakan Sejumlah Instalasi, Jimbaran dan Tuban Kesulitan Air PDAM Badung
Bandesa Adat Sayan, Ubud, Anak Agung Rai Sugiartha, Minggu (29/3) menjelaskan bahwa upacara ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan simbol harmonisasi antara sekala dan niskala. “Nedunang pajenengan ini menjadi wujud nyata sraddha bhakti krama desa dalam menjaga kesucian pura sekaligus memohon keselamatan dan kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Prosesi yang akan dipuput oleh Jro Mangku Desa ini juga melibatkan berbagai unsur desa adat, mulai dari penglingsir, pemangku Kahyangan Tiga, prajuru desa, prajuru banjar, hingga pecalang dan pakis. Kebersamaan tersebut mencerminkan kuatnya sistem gotong royong yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakat adat Bali.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut keesokan harinya, Rabu (1/4), dengan prosesi mendak pajenengan di Singapadu. Direncanakan mulai pukul 14.00 wita, krama kembali berkumpul untuk menjemput pajenengan yang sebelumnya diundagi. Upacara ini dilengkapi dengan jauman ageng serta pejati tiga soroh, yang dipuput langsung oleh undagi sebagai simbol kesempurnaan yadnya.
Menariknya, prosesi mendak ini tidak hanya berlangsung di satu titik, tetapi dilanjutkan dengan iring-iringan ngelantur ngider desa. "Pajenengan yang disuwarang diarak mengelilingi wilayah desa, melewati sejumlah banjar seperti Ambengan, Sindu, Baung, Kutuh, hingga Pande dan Mas. Di setiap titik, krama melakukan persembahyangan sebagai bentuk penyucian wilayah secara spiritual, " imbuhnya.
Suara kulkul yang menggema sepanjang perjalanan nantinya menjadi penanda sakral sekaligus panggilan spiritual bagi warga desa. Bahkan, setiap banjar mendapat kesempatan nyambehang tampalan kulkul, yang diyakini sebagai simbol perlindungan dan penyucian lingkungan setempat.
Dengan pengawalan pecalang serta dukungan sarana transportasi diharapkan prosesi berjalan tertib dan lancar. Keterlibatan generasi muda melalui sekaa gong dan yowana juga menambah semarak sekaligus memastikan keberlanjutan tradisi ini tetap terjaga.
Melalui pelaksanaan nedunang dan mendak pajenengan ini, Desa Adat Sayan tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya di tengah dinamika zaman. Seperti yang ditegaskan Anak Agung Rai Sugiartha, ritual ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan hidup masyarakat Bali selalu berpijak pada keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. *
Editor : Putu Agus Adegrantika