BALIEXPRESS. ID– Tradisi unik dan sarat makna kembali digelar di Pura Masceti yang berlokasi di Desa Sayan, Ubud pada Minggu (29/3). Tradisi yang dikenal sebagai “perang tipat” ini menjadi wujud rasa syukur krama subak atas hasil panen selama enam bulan terakhir.
Pura yang tergolong Pura Ulun Suwi ini diempon oleh 10 subak dari dua desa dinas serta empat desa adat di wilayah Ubud bagian barat. Ratusan krama subak dari Desa Sayan dan Desa Singakerta tampak antusias mengikuti rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Baca Juga: Kerusakan Sejumlah Instalasi, Jimbaran dan Tuban Kesulitan Air PDAM Badung
Pemangku pura, Jero Mangku Made Ngastra, menjelaskan bahwa perang tipat merupakan simbol ungkapan syukur atas hasil pertanian yang memuaskan. Selain itu, tradisi ini juga diyakini sebagai bentuk menjaga keseimbangan alam agar hasil panen ke depan tetap baik. “Ini sebagai bentuk syukur krama subak karena selama enam bulan terakhir,” ujarnya.
Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya tiga hari setelah nyineb piodalan, bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung. Sejak pagi hari, krama subak sudah menghaturkan pepranian berupa banten yang berisi tipat kelanan sebagai bagian dari persembahan.
Menariknya, hanya setengah dari jumlah tipat yang dihaturkan ke pura, sementara sisanya dibawa pulang. Tipat yang dihaturkan inilah kemudian digunakan sebagai “amunisi” dalam perang tipat yang berlangsung penuh keceriaan namun tetap sarat nilai spiritual.
Perang tipat digelar di jaba tengah dan jaba sisi pura usai persembahyangan dilaksanakan. Peserta yang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa terbagi dalam beberapa kelompok dan saling melempar tipat, diiringi tabuhan gamelan baleganjur yang menambah semarak suasana.
Meski terlihat seperti permainan, tradisi ini memiliki makna mendalam. Menurut Jero Mangku Ngastra, jika tidak dilaksanakan, masyarakat meyakini akan muncul hama dan berbagai gangguan pada persawahan. Keyakinan ini membuat tradisi tetap lestari meskipun jumlah peserta terkadang tidak sebanyak biasanya.
Selain perang tipat, krama subak juga melakukan ritual nunas ulam bawi yang nantinya dihaturkan di masing-masing palinggih di sawah mereka. "Ritual ini bertujuan memohon kesuburan tanaman padi agar tumbuh dengan baik dan terhindar dari berbagai halangan hingga masa panen, " imbuh Jro Mangku Made Ngastra.
Melalui tradisi ini, krama subak tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Harapannya, hasil pertanian ke depan semakin meningkat dan membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.*
Editor : Putu Agus Adegrantika