Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rejang Ayunan di Desa Adat Pupuan: Ditarikan Pria, Ada Bermain Ayunan

I Putu Mardika • Senin, 30 Maret 2026 | 16:43 WIB
Para penari Teri Rejang Ayunan di desa Adat Pupuan, Tabanan saat Sasih Kapat
Para penari Teri Rejang Ayunan di desa Adat Pupuan, Tabanan saat Sasih Kapat

BALIEXPRESS.ID-Tari Rejang pada umumnya dibawakan oleh sekelompok penari wanita sebagai simbol widyadari yang turun dari kahyangan. Tetapi, tari Rejang Ayunan di Desa Adat Pupuan, Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan berbeda dengan tari rejang lainya.

Pasalnya, tarian ini ditarikan oleh sekelompok penari pria baik anak-anak maupun remaja secara masal pada Upacara Pioadalan di Pura Puseh Desa Bale Agung, Desa Pupuan, Tabanan.

Tradisi Tari Rejang Ayunan dipentaskan saat purnama kapat. Menurut kepercayaan masyarakat Desa Pupuan, jika tarian ini tidak dipentaskan, maka akan terjadinya kegagalan panen, diserang oleh hama, dan wabah penyakit

Tokoh Adat Pupuan, I Putu Alit menjelaskan dari cerita para pendahulunya bahwa dahulu sekitar abad XI di desa Pupuan hanya terdiri dari dua puluh lima kepala keluarga. Kala itu, warga Desa Pupuan itu tidak seramai sekarang. Areal desa dikelilingi hutan belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon kayu yang besar dan tinggi-tinggi.

Mereka bersepakat untuk menebang pohon kayu tersebut, yang mana tanahnya nanti akan dijadikan sawah dan ladang. Di dalam mereka menebang cabang-cabang pohon kayu itu, dimana pohon kayu tersebut sangat besar dan tinggi-tinggi, sehingga mereka mempergunakan tali atau ranting-ranting pohon untuk naik ke cabang pohon yang akan ditebang.

Setelah selesai tanahnya diolah untuk ditanami bermacam-macam tanaman seperti padi, pohon kopi dan buah-buahan yang hasilnya pun cukup menggembirakan. Lama-kelamaan mereka mendirikan khayangan tiga, salah satu diantaranya yakni Pura Puseh Bale Agung yang didirikan sekitar tahun 1072 M. Setelah selesai diadakan upacara “Ngusaba Tegteg” atau “Ngenteg Linggih” di Pura Puseh Bale Agung.

Baca Juga: Bupati Kembang Hartawan Lepas 797 Santri, Program Santri Harmoni Jadi Langkah Nyata Pendidikan

Dalam upacara inilah untuk pertama kalinya dipentaskan Tari Rejang Ayunan, yang idenya diambil ketika mereka menerobos hutan tempo hari. “Tari Rejang Ayunan ditarikan oleh penari laki-laki yang berumur 14 tahun sampai yang belum  kawin atau truna,” jelasnya.

Dipilihnya laki-laki sebagai penari rejang bukan tanpa alasan. Pasalnya masyarakat setempat pada jaman dahulu berpandangan dan percaya bahwa hanya laki-lakilah yang pada umumnya mampu dan mempunyai kewajiban untuk menebang kayu maupun menebas hutan belantara.

Kaum laki-laki juga merukan pewaris yang dilakukan sampai sekarang. Tari Rejang tersebut dipentaskan pada puncak upacara piodalan di Pura Puseh Bale Agung.

Disinggung terkait dengan makna kata Ayunan diartikan sebagai perkakas yang bergantung untuk menidurkan anak. “Kalau dimaknai, Tari Rejang Ayunan merupakan tarian yang penarinya bermaian ayunan,” sebutnya.

Terbukti setelah para penari berkeliling sebanayak tiga kali putaran di Jaba Tengah mereka langsung menuju pohon cempaka yang ada di Jabaan untuk bermain ayunan pada salah satu ujung tali yang sudah disediakan sebelumnya dengan cara bergelantungan”Tarian ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Upacara Dewa Yadnya di Pura Puseh Bale Agung, karena tanpa tarian ini upacara dianggap  kurang sempurna,” paparnya.

Tari rejang Ayunan merupakan tarian sakral yang tergolong dalam Seni Tari Wali. Pasalnya,  Tari Rejang Ayunan tersebut tidak memakai lakon. Tarian ini berfungsi sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya, serta tidak pernah dipentaskan di luar dari upacara Dewa Yadnya di Pura Puseh Bale Agung desa Pupuan.

Baca Juga: Jejak Panjang Ki Barak Panji Sakti Hidup Kembali di Parade Budaya

Tari Rejang Ayunan yang dipentaskan pada saat puncak upacara Ngusaba Tegteg di Pura Puseh Bale Agung Desa Pupuan, memang mengalami sejarah perkembangan yang cukup panjang. Khusunya perkembangan dari sisi busana.

Putu Alit menjelaskan bahwa pada jaman dahulu dilihat dari segi tata busananya adalah penari Rejang bebas menggunakan pakaian yang berwarna-warni sesuai dengan kemampuan dari masing-masing penari.

Sehingga terlihat jelas perbedaan antara kaya dan miskin. Atas prakarsa tokoh masyarakat I Nengah Winata selaku Bendesa Adat pada jaman itu, maka pakaian penari Rejang tersebut di seragamkan yang tidak jauh berbeda dengan yang aslinya.

Perubahan itu baru dilaksanakan untuk pertama kali pada tanggal 13 Oktober  1984 yang lalu. Di dalam segi tata rias, dari dahulu hingga sekarang tetap utuh atau tidak mengalami perubahan. Penari Tari Rejang Ayunan tidak memakai alat-alat kosmetika seperti  bedak, lipstik, pensil alis-alis dan sebagainya.

Ia menambahkan, Tari Rejang Ayunan yang ada di Desa Pupuan belum pernah mengadakan perubahan selain dari segi tata busana. Baik dari segi komposisi maupun dari segi perbendaharaan gerak. Karena merupakan gerakan yang diterima sebagai warisan dari masa ke masa.

“Tari Rejang Ayunan ini sianggap sakral oleh masyarakat setempat, merupakan hal yang harus dipertahankan. Tari Rejang Ayunan mengalami perubahan hanya dari segi tata busana, itupun di sesuaikan dengan aslinya,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Tari Rejang #hindu #purnama kapat #desa pupuan #tabanan