BALIEXPRESS. ID- Suasana Balai Budaya Gianyar mendadak semarak saat siswa-siswi SD Jambe Agung, Batubulan, Sukawati, tampil dalam ajang Gianyar Student Creativities (GSC) 2026, Rabu (1/4) malam. Pementasan bertajuk “Bala Sampradaya Jiwanam” ini sukses mencuri perhatian penonton lewat garapan Tari Janger yang dipadukan dengan unsur Barong dan Rangda.
Diawal pementasan penonton disuguhkan adegan dolanan anak-anak yang menggambarkan dunia penuh keceriaan dan kepolosan. Gerak lincah dan ekspresi natural para siswa langsung menghidupkan suasana panggung, menghadirkan nuansa hangat yang mengundang senyum.
Alur cerita kemudian berkembang saat anak-anak mulai mengenal tradisi. Kehadiran Barong dan Rangda menjadi titik penting dalam garapan ini, memperkuat identitas budaya Batubulan sekaligus memberi dimensi dramatik yang lebih dalam.
Baca Juga: Cek Jalurnya! Polisi Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Pujawali di Pura Ulun Danu Batur
Perpaduan Tari Janger dengan elemen sakral tersebut tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga mengandung makna filosofis tentang keseimbangan hidup. Nilai kebersamaan dan harmoni ditampilkan dengan sederhana namun menyentuh melalui sudut pandang generasi muda.
Kepala SD Jambe Agung, Dewa Ayu Widiantari, mengungkapkan bahwa latihan dilakukan tanpa henti demi mencapai hasil terbaik. “Anak-anak latihan penuh dari 25 sampai 27 Maret, bahkan sampai hari H sebelum make up pun tetap latihan,” ujarnya.
Menariknya, seluruh proses garapan dilakukan secara mandiri. Mulai dari penari hingga penabuh merupakan siswa-siswi SD Jambe Agung, dengan dukungan gamelan milik sekolah yang dimanfaatkan secara optimal.
Para pembina pun berasal dari guru internal sekolah yang sehari-hari mengajar seni tari dan tabuh. Hal ini menunjukkan komitmen sekolah dalam mengembangkan potensi seni budaya secara berkelanjutan.
Dukungan juga datang dari berbagai pihak. Ketua Yayasan I Dewa Agung Bagus Eka Pemayun turut membantu penyediaan fasilitas, sementara orang tua siswa memberikan dukungan penuh selama proses latihan hingga pementasan.
Semangat kebersamaan semakin kuat dengan hadirnya dukungan dari Ketua K3S Sukawati, I Made Eka Sugiantara, beserta jajaran pendidikan lainnya yang turut memberi motivasi bagi para siswa.
Menurut Widiantari, pementasan ini memiliki makna lebih dari sekadar tampil di atas panggung. Proses latihan hingga pentas menjadi sarana pembelajaran berharga bagi siswa untuk mengenal budaya mereka sendiri.
“Ini bukan hanya pentas, tapi proses anak-anak mengenal dan merasakan budaya mereka sendiri,” tegasnya.
Melalui pementasan ini, SD Jambe Agung membuktikan bahwa tradisi tidak hanya diwariskan secara pasif, tetapi juga dapat dihidupkan kembali dengan kreativitas generasi muda.*
Editor : Putu Agus Adegrantika