BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Pagerwesi yang diperingati umat Hindu pada Rabu (8/4/2026) kembali hadir sebagai momentum sakral untuk memperkuat benteng diri (pagering awak) dari berbagai pengaruh negatif, baik yang bersifat sekala maupun niskala. Di tengah derasnya arus transformasi digital dan perkembangan Artificial Intelligence (AI), Pagerwesi tidak lagi hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai refleksi filosofis untuk menjaga integritas kesadaran manusia.
Secara konseptual, Pagerwesi berasal dari kata pager yang berarti pagar atau pelindung, dan wesi yang berarti besi, sebuah metafora tentang kekuatan kokoh yang melindungi manusia dari kerapuhan moral dan intelektual.
Dalam Lontar Sundarigama ditegaskan bahwa Pagerwesi merupakan hari untuk “nguatang pagering idep ring sarira”, yakni mempertebal benteng pikiran sebagai pusat pengendalian diri. Sementara dalam Lontar Siwagama, Pagerwesi juga dimaknai sebagai momentum pemujaan terhadap Sang Hyang Pramesti Guru sebagai sumber jnana (pengetahuan suci) yang membimbing manusia menuju kebijaksanaan sejati.
Ritual Pagerwesi dilaksanakan setiap 210 hari, tepatnya pada Budha Kliwon Wuku Sinta dalam sistem kalender Pawukon Bali. Rangkaian perayaan ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan puncak dari siklus Galungan dan Kuningan, yang menandai kemenangan dharma melawan adharma.
Dengan demikian, Pagerwesi menjadi fase kontemplatif, di mana manusia tidak hanya merayakan kemenangan, tetapi juga memperkuat fondasi spiritual agar kemenangan tersebut tetap terjaga.
Dosen IAHN Mpu Kuturan, I Kadek Abdiyasa, M.Pd menjelaskan bahwa dalam perspektif filsafat Hindu, Pagerwesi berhubungan erat dengan konsep Tri Kaya Parisudha—penyucian pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika). Menurutnya, penguatan pikiran menjadi kunci utama dalam membangun “pager” yang kokoh.
Baca Juga: Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT): Ilusi Kompetensi dan Makna Pagerwesi
“Dalam lontar disebutkan bahwa pikiran adalah sumber dari segala tindakan. Jika pikiran tidak dijaga, maka manusia akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh eksternal. Pagerwesi mengajarkan pentingnya disiplin batin sebagai fondasi kehidupan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam konteks kekinian, tantangan terhadap “pager” manusia tidak hanya datang dari lingkungan sosial, tetapi juga dari ruang digital yang semakin kompleks. Artificial Intelligence, sebagai salah satu produk revolusi teknologi, telah mengubah cara manusia mengakses informasi, berkomunikasi, bahkan membentuk realitas sosial.
Data global menunjukkan bahwa penggunaan AI meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir, mencakup sektor pendidikan, ekonomi, media, hingga keagamaan. Algoritma berbasis AI kini mampu menghasilkan teks, gambar, dan bahkan simulasi realitas yang sulit dibedakan dari produk manusia.
Fenomena ini, di satu sisi, membuka peluang besar bagi pengembangan pengetahuan (jnana), namun di sisi lain juga menghadirkan risiko serius berupa disinformasi, manipulasi realitas, dan krisis otentisitas.
“Artificial Intelligence adalah manifestasi kecerdasan buatan, tetapi ia tidak memiliki kesadaran moral. Di sinilah pentingnya Pagerwesi sebagai pengingat bahwa manusia harus tetap menjadi subjek yang sadar, bukan objek yang dikendalikan oleh teknologi,” tegas Abdiyasa.
Ia menekankan bahwa dalam kerangka epistemologi Hindu, pengetahuan tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga spiritual. Konsep jnana dalam Hindu mengandung dimensi kesadaran yang melampaui sekadar informasi. Oleh karena itu, penggunaan AI harus dilandasi oleh nilai-nilai dharma, agar tidak terjebak pada sekadar akumulasi data tanpa makna.
Baca Juga: Atasi Masalah Air Kuta Selatan, PDAM Badung Pastikan Jaringan Pipa Segera Rampung
Dalam praktik sosial, perayaan Pagerwesi di Bali diisi dengan persembahyangan di merajan (pura keluarga) dan pura-pura kahyangan jagat. Umat memohon perlindungan dan tuntunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru. Banten yang dihaturkan umumnya berupa pejati, daksina, dan sesayut pagerwesi sebagai simbol permohonan kekuatan batin.
Ia menambahkan, ritual ini mencerminkan upaya masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan antara dimensi sekala dan niskala. Dalam konteks modern, keseimbangan ini dapat dimaknai sebagai harmoni antara manusia, teknologi, dan nilai-nilai spiritual. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan teknologi justru berpotensi menciptakan disorientasi eksistensial.
Lebih jauh, Abdiyasa melihat bahwa Pagerwesi memiliki relevansi strategis dalam membangun literasi digital berbasis budaya. Ia mengusulkan agar nilai-nilai lokal seperti dharma, satya (kebenaran), dan ahimsa (tanpa kekerasan) diintegrasikan dalam pendidikan teknologi, sehingga generasi muda tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara etis.
“Jika AI adalah representasi kecerdasan eksternal, maka Pagerwesi adalah penguatan kecerdasan internal. Keduanya harus berjalan beriringan. Tanpa itu, manusia akan kehilangan arah di tengah kemajuan yang begitu cepat,” jelasnya.
Dalam perspektif komunikasi budaya, Pagerwesi juga dapat dilihat sebagai bentuk symbolic communication yang merepresentasikan nilai-nilai kolektif masyarakat Bali. Simbol “pager” menjadi metafora tentang batas bukan untuk membatasi kreativitas, tetapi untuk menjaga integritas. Di era AI, batas ini menjadi semakin penting, terutama dalam menghadapi banjir informasi yang tidak selalu terverifikasi.
Dengan demikian, Hari Raya Pagerwesi tidak hanya relevan sebagai tradisi religius, tetapi juga sebagai kerangka etis dalam menghadapi tantangan global. Ia mengingatkan bahwa di balik kecanggihan teknologi, manusia tetap membutuhkan fondasi spiritual yang kuat untuk menjaga keseimbangan hidup.
“Pagerwesi adalah refleksi bahwa benteng terkuat bukanlah pada sistem atau teknologi, melainkan pada kesadaran diri yang dilandasi nilai-nilai dharma. Di era Artificial Intelligence, justru kebijaksanaan manusia yang menjadi penentu arah peradaban,” tutup Abdiyasa. (dik)
Editor : I Putu Mardika