Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Mendalam Hari Suci Pagerwesi, Memagari Diri dengan Ilmu dan Spiritualitas

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 8 April 2026 | 15:26 WIB
TOKOH : Tokoh agama Hindu di Desa Sayan, Jro Mangku Ketut Gde Kesumawijaya.
TOKOH : Tokoh agama Hindu di Desa Sayan, Jro Mangku Ketut Gde Kesumawijaya.

BALIEXPRESS. ID- Umat Hindu memperingati Hari Suci Pagerwesi, hari raya yang datang setiap 210 hari sekali, tepat pada Rabu Kliwon Wuku Shinta dalam kalender Bali. Lebih dari sekadar perayaan, Pagerwesi menjadi momentum penting untuk memperkuat diri melalui ilmu pengetahuan dan spiritualitas.

Pemangku Pura Desa Adat Penestanan, Desa Sayan, Jro Mangku Ketut Gde Kesumawijaya, menjelaskan bahwa Pagerwesi memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi kehidupan umat Hindu. “Pagerwesi adalah simbol pagar besi yang kuat, yang berfungsi melindungi diri dari pengaruh negatif, baik secara lahir maupun batin,” ujarnya.

Perayaan Pagerwesi diawali dengan persembahyangan yang dilakukan secara khusyuk oleh umat Hindu, mulai dari lingkungan keluarga di sanggah atau mrajan, hingga ke pura-pura di desa seperti Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Berbagai bentuk persembahan seperti canang sari, sesajen, dan banten menjadi bagian dari wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Baca Juga: Dinilai Ciderai Demokrasi, Tokoh Lintas Profesi Kecam Ajakan Gulingkan Pemerintah Sah

Tak hanya di siang hari, suasana sakral juga berlanjut pada malam hari melalui praktik yoga dan samadhi. Kegiatan ini menjadi sarana introspeksi diri serta mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus memohon kekuatan agar mampu menyeimbangkan ilmu duniawi (aparavidya) dan spiritual (paravidya).

“Di beberapa wilayah Bali, Pagerwesi juga dirayakan dengan tradisi khas. Di Kabupaten Buleleng, misalnya, suasana perayaan berlangsung semarak layaknya Hari Raya Galungan, bahkan disertai tradisi munjung atau ziarah ke makam leluhur,” imbuhnya.

Menurut Ketut Kesumawijaya, Pagerwesi merupakan waktu untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, sumber segala ilmu pengetahuan.

“Hari suci ini juga menjadi pengingat agar ilmu yang telah diperoleh, khususnya sejak Hari Saraswati, tidak disalahgunakan. Ilmu pengetahuan diibaratkan sebagai pagar besi yang kokoh, yang mampu melindungi manusia dari kebodohan dan kesesatan,” tegasnya.

Selain itu, Pagerwesi mendorong umat untuk memperkuat sradha (iman) dan spiritualitas, serta meningkatkan kesadaran dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran dharma.

Dijelaskan secara etimologis, Pagerwesi berasal dari kata “pager” yang berarti pagar dan “wesi” yang berarti besi. Maknanya, manusia diharapkan mampu membangun benteng diri yang kuat.

Lebih jauh, Pagerwesi juga mengajarkan pentingnya pengendalian diri mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan keinginan negatif. Dengan ilmu dan spiritualitas yang kuat, seseorang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merugikan.

Hari ini juga menjadi waktu yang tepat untuk memohon kesucian hati dan kebijaksanaan, agar mampu membedakan antara yang baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari.

Pagerwesi sarat dengan nilai religius sebagai bentuk bhakti kepada Tuhan. Hal ini juga ditegaskan dalam ajaran suci Sarasamuscaya Sloka 111, yang mengingatkan umat untuk selalu menjauhi perbuatan buruk, meskipun terdapat keraguan tentang hasilnya.

Ajaran tersebut menegaskan bahwa menjalankan kebaikan dan menjauhi keburukan tidak akan pernah sia-sia, karena pada akhirnya setiap perbuatan akan membuahkan hasil.

Menutup penjelasannya, Ketut Kesumawijaya menekankan bahwa Pagerwesi bukan hanya ritual, tetapi momentum refleksi diri. “Melalui Pagerwesi, kita diingatkan untuk terus belajar, menjaga ilmu, dan memperkuat spiritualitas sebagai dasar menjalani kehidupan yang benar dan bermakna,” pungkasnya.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#umat hindu #pagerwesi