BALIEXPRESS.ID - Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Tabanan, I Made Danu Tirta, mengajak masyarakat khususnya umat Hindu untuk lebih bijak memahami peran pikiran dalam kehidupan. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pikiran manusia sesungguhnya berada dalam dua ruang besar, yakni keterikatan dan pengendalian.
Menurutnya, dua ruang tersebut tidak bisa dilepaskan dari konsep keseimbangan dalam ajaran Hindu, khususnya prinsip Rwa Bhineda yang menekankan adanya dua hal yang selalu berdampingan. Pikiran manusia, sejak lahir, telah membawa potensi untuk bergerak di antara dua sisi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa pikiran menjadi pembeda utama manusia dengan makhluk lainnya. Pikiran memiliki kemampuan untuk merekam, merencanakan, sekaligus menentukan arah hidup seseorang. Namun, arah tersebut sangat dipengaruhi oleh apakah pikiran berada dalam keterikatan atau dalam kendali.
“Ketika pikiran berada dalam salah satu ruang itu, maka akan terlihat jelas dari tutur kata dan perilaku seseorang,” ujar Danu Tirta. Sayangnya, tidak semua orang mampu menyadari posisi pikirannya sendiri karena lebih fokus pada hal-hal yang bersifat indrawi dan kasat mata.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Serahkan SK 25 Kepala Sekolah, Tekankan Integritas dan Peningkatan Mutu Pendidikan
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kesadaran sebagai kunci utama dalam mengelola pikiran. Kesadaran menjadi alat evaluasi internal yang mampu membantu seseorang memahami kondisi pikirannya secara jernih dan objektif.
Dengan kesadaran yang baik, seseorang akan mampu mengelola pikirannya secara lebih terarah. Bahkan ketika terjebak dalam pikiran negatif, langkah awal yang disarankan adalah menenangkan diri agar dapat kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Kondisi tenang, menurutnya, memberikan ruang bagi pikiran untuk menjadi lebih fleksibel, fokus, dan tidak reaktif. Dari sinilah seseorang bisa menentukan arah pikirannya, apakah akan tetap terikat atau beralih menuju pengendalian.
Dalam ajaran Hindu, hal ini juga ditegaskan dalam Sarasamuccaya khususnya Sloka 87 yang menyebutkan bahwa pikiran bersifat tidak menentu, penuh keinginan dan keraguan. Namun, orang yang mampu mengendalikan pikirannya akan mencapai kebahagiaan, baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya.
Danu Tirta menjelaskan bahwa pikiran yang terjebak dalam keterikatan cenderung melahirkan penderitaan. Keterikatan ini umumnya berkaitan dengan keinginan akan kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara atau maya.
Ketika pikiran dipenuhi oleh keinginan, manusia akan terus terdorong untuk mengejar berbagai hal tanpa henti. Hal ini membuat hidup terasa berat dan melelahkan karena tidak ada ruang untuk berhenti sejenak menikmati kehidupan.
Ia memberikan contoh sederhana, seperti keinginan memiliki mobil. Sebelum memiliki, seseorang akan bekerja keras tanpa henti. Namun setelah mendapatkannya, muncul rasa takut kehilangan, rusak, atau hal lain yang justru menambah beban pikiran.
“Ini menunjukkan adanya penderitaan yang berantai. Keinginan yang terpenuhi tidak selalu membawa ketenangan, justru bisa melahirkan kekhawatiran baru,” jelasnya.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa keinginan juga memiliki sisi positif.
Keinginan dapat mendorong seseorang untuk bekerja keras dan berkarma, yang merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.
Namun, ia mengingatkan bahwa keinginan yang berlebihan dan dibalut ambisi tanpa kendali justru akan menjadi sumber masalah. Terlebih jika seseorang tidak mampu merelakan apa yang dimilikinya.
Sebaliknya, kebahagiaan lebih mudah dicapai ketika pikiran berada dalam kendali. Pikiran yang terkendali akan menciptakan kehidupan yang lebih tenang dan seimbang.
Orang dengan pikiran terkendali, lanjutnya, tetap berusaha dalam hidup, namun dengan ritme yang lebih ringan dan tidak penuh tekanan. Mereka juga cenderung lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi.
Selain itu, setiap keinginan tidak langsung diwujudkan, melainkan dipertimbangkan terlebih dahulu melalui evaluasi dan analisis terhadap dampaknya. Hal ini membuat tindakan menjadi lebih bijak dan terarah.
Ketika seseorang mampu mengurangi keinginan yang berlebihan, maka sikap ikhlas akan tumbuh. Ia tidak lagi terbebani oleh hal-hal yang bersifat sementara, karena menyadari bahwa semuanya hanyalah bagian dari dinamika kehidupan.
Pengendalian pikiran juga erat kaitannya dengan kesederhanaan. Orang yang mampu mengendalikan pikirannya cenderung lebih selektif dalam menentukan tujuan hidup dan tidak memaksakan diri pada hal-hal yang tidak penting.
“Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, tetapi pilihan hidup untuk mencapai ketenangan,” tegas Danu Tirta.
Ia pun menyimpulkan bahwa keterikatan dan pengendalian merupakan dua hal yang bersifat relatif dan selalu berdampingan dalam kehidupan manusia. Keduanya memiliki konsekuensi masing-masing, tergantung bagaimana seseorang mengelola pikirannya.
Melalui pemahaman ini, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memanajemen pikiran agar dapat mencapai kehidupan yang harmonis, baik secara psikologis, sosial, maupun ekonomi. *