BALIEXPRESS.ID-Kawasan Danau Batur, yang terletak di Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki sebelas petirthan yang muaranya mengairi seluruh pelosok Bali. Tak hanya berfungsi mengairi persawahan, petirtaann ini juga memiliki fungsi dalam ritual umat Hindu di Bali.
Di tepi Danau Batur itu terdapat federasi enam desa yang disebut Desa Witang Danu. Keenam desa tersebut adalah Desa Sinarata, Desa Songan, Desa Abang, Desa Trunyan, Desa Buahan, dan Desa Kadisan. Sementara itu Desa Songan dan Desa Batur terletak di antara Gunung Batur
Sebagai danau yang terbesar di Bali, air Danau Batur tersebut dimanfaatkan untuk mengairi sawah di kawasan yang luas sekali. Kawasan tersebut meliputi Kabupaten Bangli, Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan Badung.
Atas dasar itu secara teologis dapat difahami bahwa Danau Batur itu sendiri lalu dipandang sebagai sthana Dewi Danu itu sendiri. Itu sebabnya tidaklah mengherankan bahwa di sekitar Danau Batur terdapat sekitar sebelas mata air yang menjadi sumber air beberapa sungai yang mengalir dan mengairi berbagai subak di segenap pelosok Pulau Bali.
Jero Gede Batur Duhuran menjelaskan Kesebelas mata air tersebut adalah Patirthan Talaga Waja ini menjadi sumber Sungai (tukad) Telagawaja, yang mengalir ke Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
“Selain itu, air dari patirthan ini biasa dipergunakan dalam upacara malaspas panyegjeg jagad oleh krama Desa Adat Abang dan berbagai jenis upacara di Pura Tuluk Biyu,” sebutnya.
Baca Juga: Putusan Sengketa Lahan Sesetan Dinilai Manipulatif, Kuasa Hukum Penyewa Ajukan Banding
Itu sebabnya maka Patirthan Talaga Waja ini juga seringkali disebut sebagai Patirthan Yeh Sah. Artinya, penggunaan air dari Patirthan Talaga Waja ini menyebabkan pelbagai upacara yang bersangkutan itu menjadi sah adanya.
Kemudian Patirthan Bantang Anyud yang terletak di dekat Patirthan Talaga Waja ini adalah hulu Sungai Pipis dan Sungai Bubuh, Kabupaten Klungkung. Selain itu mengingat bahwa air suci dari Patirthan Bantang Anyud biasa dipakai untuk lokasi pelbagai upacara Pura Tuluk Biyu, maka pura ini sering pula disebut sebagai Patirthan Pura Tuluk Biyu.
Di Kawasan Batur juga terdapat Patirthan Danu Gadang ini adalah hulu Sungai Pipis, yang memisahkan Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Gianyar. Sementara itu air dari patirthan ini juga sering dipakai untuk beberapa upacara di Pura Tuluk Biyu.
Selanjutnya Patirthan Danu Kuning ini merupakan hulu Sungai Yeh Wos Lanang dan Sungai Yeh Wos Wadon. Kedua sungai ini kemudian bertemu di Desa Adat Ubud
Patirthan Palisan yang terdapat di Desa Kadisan ini memiliki tiga mata air yang mengalir masuk ke Danau Beratan, dan melalui terowongan, juga masuk ke Danau Tamblingan. Pada gilirannya Danau Beratan ini menjadi hulu beberapa sungai di Kabupaten Badung dan Tabanan
Patirthan Rejeng Anyar ini adalah hulu dari beberapa sungai kecil yang mengalir ke Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.
Ada juga Patirthan Mas Mampeh ini adalah patirthan Ida Bhaṭara Sasuhunan Sakti Makalihan. Air suci dari Pura Mas Mampeh ini banyak dimohon untuk melindungi sawah dari hama tanaman.
Patirthan Mangening ini adalah tempat untuk memohon air suci untuk upacara di Pura Ulun Dana Batur. Patirthan Toya Bungkah ini adalah mataair panas, yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit, karena air di sini mengandung belerang.
Patirthan Pura Jati ini juga menjadi salah satu dari petirtan yang ada di Kawasan Batur. Petirtaan ini adalah tempat untuk memohon air suci. Hal ini mengingat bahwa Pura Jati ini adalah sthana dari Ida Bhaṭara Pujangga Lawih, Bhagawanta atau pendamping dan penasehat spiritual dari Bhaṭari Ulun Danu.
Patirthan Prapen ini adalah tempat untuk memohon tirtha prapen yang berupa tetesan air panas, bagi para pande, seperti halnya pandai besi, perajin mas, perajin perak, maupun perajin perunggu.
Baca Juga: FutureFest 2026 Jadi Ajang Temu Pencari Kerja dan Perusahaan
Danau Batur memiliki memiliki berbagai cerita rakyat Bali tentang asal-usul terbentuknya Danau Batur. Selain kisah Dewi Danu yang familiar, juga ada cerita rakyat yang erat hubungannya dengan Kebo Iwa.
Alkisah di Desa Blahbatuh ada sepasang suami-istri bernama ida Arya Karang Buncing yang kaya raya namun tidak berbahagia. Hal ini mengingat mereka tidak memiliki anak. Mereka tidak henti-hentinya berdoa kepada Ida Sanghyang Widhiwasa, khususnya di Pura Badugul Galuh.
Akhirnya doa mereka terkabul. Lahirlah seorang bayi laki-laki yang mereka beri nama Kebo Waruga. Keistimewaan si bayi ini adalah sangat besar nafsu makannya dan cepat sekali tumbuhnya.
Karena itu Kebo Waruga segera menjadi seorang yang bertubuh tinggi besar seperti seorang raksasa, namun baik hati. Karena itu dia dijuluki sebagai Kebo Iwa yang berarti paman kerbau.
Masalahnya Kebo Iwa ini mudah sekali marah, terutama apabila tidak mendapat makanan yang cukup. Celakanya apabila marah, dia akan merusak apa saja yang ada, temasuk rumah-rumah penduduk.
Hal ini menyebabkan penduduk merasa sangat prihatin. Meski demikian dia selalu pula bersedia menolong penduduk. Dia akan bersedia membuatkan sumur, membendung sungai, mengangkut batu-batu besar, memindahkan rumah, dan segala pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang besar lainnya. Namun dia selalu minta imbalan makanan dalam jumlah banyak.
Oleh karena itu penduduk lalu mengadakan kesepakatan untuk meminta tolong Kebo Iwa membuatkan sebuah sumur yang besar guna mengairi sawah mereka. Tentu saja dengan imbalan makanan dalam jumlah yang besar. Rupanya Kebo Iwa menyanggupinya.
Baca Juga: Kisah Sukses UMKM Binaan BRI Kediri, Jualan Ayam Potong Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah Setiap Bulan
Mulailah Kebo Iwa bekerja menggali tanah guna membuat sumur raksasa itu. Berhasillah kerja Kebo Iwa itu. Sumur mulai memancarkan air secara berlimpah-limpah. Satu saat Kebo Iwa kekelahan. Untuk itu dia meminta makan. Permintaan itu dipenuhi oleh penduduk desa. Namun setelah kekenyangan, tertidurlah Kebo Iwa di dalam sumur galiannya itu.
Pada saat itulah penduduk desa secara beramai-ramai melemparkan batu kapur ke dalam sumur. Akibatnya hidung Kebo Iwa tersumbat. Meskipun memiliki tenaga yang besar, namun Kebo Iwa pada akhirnya tidak mampu melawan lemparan batu kapur yang banyak sekali itu. Akhirnya Kebo Iwa mati tenggelam di dalam sumur raksasa buatannya itu.
Akan tetapi air tetap memancar dari lubang galian Kebo iwa itu. Air yang semakin banyak itu berubah menjadi Danau Batur, dan timbunan tanah bekas galian Kebo Iwa berubah pula menjadi Gunung Batur. (dik)
Editor : I Putu Mardika