BALIEXPRESS.ID-Peranan perempuan Hindu dalam menjaga keberlangsungan yadnya sangatlah penting. Dalam perspektif budaya Bali, perempuan tidak sekadar pelengkap dalam ritual keagamaan, melainkan menjadi poros utama yang menggerakkan seluruh rangkaian upacara, dari tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Dosen Upakara Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Ag., menegaskan bahwa eksistensi perempuan dalam yadnya bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga simbolik dan teologis.
“Perempuan dalam tradisi Hindu Bali adalah ‘tiang yadnya’. Mereka bukan hanya pelaksana, tetapi penjaga nilai, penyalur makna, sekaligus penghubung antara sekala dan niskala,” ujarnya.
Keseharian masyarakat Bali, aktivitas yadnya hampir tidak pernah berhenti. Dari canang sari harian hingga upacara besar seperti piodalan, Galungan, dan Kuningan, perempuan selalu hadir sebagai aktor utama.
Mereka mempersiapkan banten, merangkai jejaitan, hingga memastikan seluruh elemen upacara berjalan sesuai tatanan adat dan agama. Dalam kajian akademik, perempuan Bali memikul apa yang disebut sebagai triple roles: peran domestik, ekonomi, dan religius.
Ketiga peran ini tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling terintegrasi dalam praktik kehidupan sehari-hari, sehingga menjadikan perempuan sebagai agen kultural yang sangat strategis dalam pelestarian tradisi.
Dr. Wayan Murniti menjelaskan bahwa dalam perspektif teologi Hindu, posisi perempuan setara dan saling melengkapi dengan laki-laki, sebagaimana tergambar dalam konsep Ardhanareswari, yaitu kesatuan purusa dan pradana.
Konsep ini menegaskan bahwa tanpa unsur feminin, penciptaan dan harmoni kosmis tidak akan tercapai. “Ini bukan sekadar simbol, tetapi landasan filosofis yang menempatkan perempuan sebagai kekuatan esensial dalam kehidupan, termasuk dalam yadnya,” jelasnya.
Baca Juga: Siswa Widyalaya Rsi Markandya Taro Digembleng Dasar-Dasar Yoga
Ia menambahkan bahwa dalam praktiknya di Bali, nilai ini terejawantahkan dalam dominasi peran perempuan dalam ritual keagamaan, tanpa mengurangi pentingnya peran laki-laki sebagai penopang struktural.
Lanjutnya, perempuan tidak hanya berfungsi sebagai pelaku ritual, tetapi juga sebagai pengikat solidaritas sosial. Dalam setiap persiapan upacara, perempuan berkumpul, bekerja bersama, dan membangun interaksi sosial yang intens.
Aktivitas seperti mejejaitan bukan hanya proses produksi sarana upacara, tetapi juga ruang komunikasi budaya, transfer pengetahuan, dan reproduksi nilai-nilai sosial. Dalam konteks ini, yadnya menjadi arena di mana perempuan memainkan peran sebagai mediator sosial yang memperkuat kohesi komunitas.
“Kalau kita lihat lebih dalam, yadnya itu bukan hanya persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan masyarakat. Dan di situ, perempuan adalah penggeraknya,” ungkap Dr. Murniti.
Ia menyoroti bahwa semangat ngayah yang melekat pada perempuan Bali menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Tanpa adanya partisipasi aktif perempuan, banyak ritual keagamaan akan kehilangan substansi dan kontinuitasnya.
Dalam dimensi normatif, ajaran Hindu memberikan legitimasi kuat terhadap penghormatan kepada perempuan, salah satunya termuat dalam Manawadharmasastra. Beberapa sloka menegaskan posisi perempuan sebagai pusat harmoni dalam keluarga dan masyarakat, di antaranya:
“Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah,
Yatraitastu na pujyante, sarvastatraphalah kriyah.”
(Manawadharmasastra III.56)
Artinya: Di mana perempuan dihormati, di sanalah para dewa merasa senang; tetapi di mana mereka tidak dihormati, semua upacara menjadi tidak berpahala.
“Socanti jamayo yatra, vinasyaty acutat kulam,
Na socanti tu yatraita, vardhate tad dhi sarvada.”
(Manawadharmasastra III.57)
Artinya: Keluarga di mana perempuan hidup dalam kesedihan akan cepat hancur; sebaliknya, keluarga di mana perempuan hidup bahagia akan selalu berkembang.
“Jamayo yani gehani, capanty aprati pujita,
Tani krityahata neva, vinasyanti samantatah.”
(Manawadharmasastra III.58)
Artinya: Rumah tangga di mana perempuan tidak dihormati akan hancur seperti terkena kutukan kekuatan gaib.
Menurut Dr. Murniti, sloka-sloka tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga reflektif terhadap praktik sosial di Bali. “Apa yang tertulis dalam sastra itu benar-benar hidup dalam tradisi. Perempuan dihormati bukan sekadar simbol, tetapi karena kontribusinya nyata dalam menjaga yadnya dan kehidupan sosial,” ujarnya.
Dalam dimensi edukatif, perempuan juga berperan sebagai agen transmisi budaya. Sejak usia dini, anak perempuan di Bali telah diperkenalkan dengan keterampilan membuat banten dan memahami makna simbolik dalam setiap elemen upacara.
Proses ini berlangsung secara informal dalam keluarga dan komunitas adat, menciptakan sistem pendidikan kultural yang berkelanjutan. “Ibu adalah guru pertama dalam tradisi Hindu Bali. Dari tangan mereka, generasi berikutnya belajar tentang yadnya, tentang dharma, dan tentang identitas,” kata Dr. Murniti.
Namun demikian, peran besar ini tidak lepas dari tantangan. Modernisasi, perubahan gaya hidup, serta meningkatnya tuntutan ekonomi seringkali membuat perempuan harus membagi waktu antara pekerjaan profesional dan kewajiban adat.
Dalam beberapa kasus, hal ini memunculkan beban ganda yang cukup berat. Meski demikian, menurut Dr. Murniti, perempuan Bali menunjukkan resiliensi yang luar biasa. “Mereka mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya. Ini yang membuat Bali tetap hidup sebagai ruang budaya yang dinamis,” tegasnya.
Baca Juga: Pemkab Badung Perketat Pengawasan Sampah Sektor Horeka, Target Kepatuhan 99 Persen
Dalam konteks Bali kontemporer, narasi tentang perempuan sebagai “tiang yadnya” menjadi semakin relevan. Di tengah arus globalisasi, perempuan Bali tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengadaptasinya agar tetap kontekstual. Mereka menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara nilai-nilai leluhur dan tuntutan zaman. Peran ini menjadikan perempuan bukan hanya pelaku budaya, tetapi juga arsitek keberlanjutan budaya Bali itu sendiri.
Murniti menegaskan bahwa penguatan peran perempuan dalam yadnya harus diiringi dengan penghargaan yang setara, baik dalam ranah domestik maupun publik.
“Kalau kita ingin menjaga Bali tetap ajeg, maka kita harus mulai dari menghargai perempuan. Karena di tangan merekalah yadnya itu hidup,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika