Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tradisi Muhu Muhu di Tenganan Pegringsingan, Simbol Penyucian Bhuana Alit-Bhuana Agung  

I Putu Mardika • Senin, 27 April 2026 | 17:35 WIB
Proses numbak muhu muhu di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem sebagai simbol menetralisir energy negatif yang diwujudkan dengan  medi-median saat Sasih kepitu
Proses numbak muhu muhu di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem sebagai simbol menetralisir energy negatif yang diwujudkan dengan medi-median saat Sasih kepitu

BALIEXPRESS.ID-Tradisi Muhu-Muhu menjadi salah satu ritual sakral yang dilaksankan krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Ritual ini  memiliki kemiripan dengan  upacara Tawur atau Pengrupukan yang dilaksanakan di Bali jelang Nyepi. Hanya saja, terdapat perbedaan yang mendalam dari segi waktu, tata cara, budaya, serta estetika di dalam prosesinya.

Tradisi Muhu-muhu dilaksanakan pada sasih kapitu yang disesuaikan dengan perhitungan kalender Desa Adat Tenganan Pagringsingan, yang tepat jatuh pada Kajeng Kliwon Wud. Tradisi ini dilakukan oleh Krama Desa Adat yang merupakan status dalam tatanan organisasi yang tertinggi yang dipimpin oleh enam Kelihan Adat.

Uniknya, Teruna dan Daha mendapatkan prioritas utama dalam menyaksikan tradisi tersebut, dengan tujuan dapat lebih mengartikan serta memaknai tradisi tersebut dengan mengaplikasikannya terhadap diri sendiri dan gumi (lingkungan) Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Tokoh Adat Tenganan Pegringsingan, Jro Putu Suarjana mengatakan pelaksanaan tradisi Muhu-muhu sesungguhnya adalah penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit (makro kosmos dan mikro kosmos). Persiapan awal dari tradisi Muhu-muhu diawali dengan berkumpulnya krama desa di wilayah desa bagian timur yang disebut oleh krama desa yakni di Pengemitan (wilayah sekitar dalem kangin/timur).

Baca Juga: Danrem 163/Wira Satya Sosialisasikan Percepatan KDKMP di Desa Pering

Segala bentuk keperluan yang akan digunakan untuk upacara muhu-muhu dilakukan di tempat tersebut. Namun, bahan-bahan yang diperlukan sebelumnya telah dipersiapkan di Bale Agung Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Sarana yang dipersiapkan sebut Suarjana diantaranya Carang Dapdap, Bakal, Base (daun sirih), Tebu Goak, Buah (pinang), Tiing (bambu), Tapis, Don Nyuh/Slepan, Sangket Kalak, Ubi Aung Buluh, Kuhud (kelapa muda), Bungsil Barak, Biu Kayu Mapusuh dan Sangketkalak.

Proses penggarapan bahan-bahan upakara, dimulai dari pembuatan perahu-perahuan yang merupakan salah satu bahan utama dalam upacara muhu-muhu. Proses pembuatan perahu-perahuan dilakukan oleh krama desa muani.

“Dimulai dengan perakitan batang kayu dadap yang telah dilengkapi dengan sasap serta daun apah, dengan yang panjang dibutuhkan 2 batang yang panjangnya sebagai alas sisi-sisinya, lalu disusun membuat bidang lebar dengan jumlah batang masing-masing 9 batang kiri dan ke kanan dengan disusun rapi,” jelas Suarjana.

Jika Krama desa muani telah selesai dengan proses pembuatan segala bentuk upakara untuk upacara muhu-muhu yang diperuntukkan untuk esok harinya, krama desa melakukan pertemuan singkat, yang disebut Sangkep (rapat). Sangkep yang dipimpin oleh Kelihan Adat Desa Tenganan Pegringsingan yang bertempat pada dalem kangin atau pengemitan disebut dengan sangkep kuud atau juga disebut dengan nyangkepin kuud.

Sesuai dengan namanya sangkep kuud atau Nyangkepin Kuud, dalam pelaksanaan rapat ini dilengkapi dengan Kuud (daging kelapa muda) yang disertai dengan isian gula bali (gula aren). Jumlah kuud yang digunakan enam sampai tujuh buah yang dikondisikan dengan jumlah peserta krama desa, yang diletakkan tepat di tengah-tengah kegiatan sangkep.

Nyangkepin Kuud merupakan bagian akhir dari persiapan terkait acara besok yang akan dilaksanakan oleh krama desa dalam upacara muhu-muhu dengan bagian di dalamnya tentang tradisi Muhu-muhu. Dengan diadakannya sangkep, maka akan mudah mendapatkan solusi yang terbaik untuk kepentingan.

Sasih kapitu hud pang solas tepat saat kajeng kliwon merupakan proses awal dari tradisi Muhu-muhu. Krama desa Adat Tenganan Pegringsingan laki-laki dan perempuan terlebih dahulu di saat pagi harinya melakukan sebuah ritual persembahan dengan melaksanakan Masanggah Duri.

Masanggah Duri merupakan proses mesanggah bagian akhir yang dilakukan krama desa, sama seperti halnya dengan masanggah jummu maupun masanggah tengah. Masanggah Duri merupakan yadnya yang dipersembahkan sesuai dengan aturan yang disepakati oleh Krama desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Pagi hari setelah upacara masanggah duri selesai dilaksanakan, krama desa adat Tenganan Pegringsingan mengadakan sebuah sangkep, untuk mematangkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Sangkepan di Bale Agung hanya diikuti oleh krama desa muani, dengan membagi diri menjadi dua bagian sesuai dengan aturan yang berlaku dalam tingkat organisasi desa.

Baca Juga: Bangunan Direnovasi, Polsek Blahbatuh Beroperasi Sementara di Kantor Desa Keramas

“Bagian yang duduk di sebelah kanan akan diberikan tugas menyelesaikan upacara di dalem kangin atau di pengemitan sementara bagian yang duduk sebelah barat tetap berada di Bale Agung untuk melaksanakan persiapan tradisi Muhu-muhu,” imbuh Kelian Suarjana

Prosesi di Bale Agung yakni krama desa melakukan persembahan dengan siap luh dan muani (ayam jantan dan betina), disembelih, dan darahnya disebar mengitari sanggah duri yang terdapat di Bale Agung sebagai simbol ngider buana. Tujuannya yakni sebagai penjaga kestabilan di alam ini, untuk kekuatan penegteg jagat atau kestabilan bhuana agung, alam ini dan juga bhuana alit dalam diri sendiri.

Saat Jegjeg ai atau tepat pada siang hari, mulailah upacara puncak dari tradisi Muhu-muhu. Sesuai dengan tugas masing-masing di krama desa muani yang telah dibagi menjadi dua kelompok, yakni krama desa yang duduk di bagian timur yang disebut dengan Ngencana pergi menuju dalem kangin sedangkan yang duduk di bagian barat tetap di Bale agung.

“Masing-masing dari dua kelompok ini memiliki pemimpin. Khusus untuk kelompok krama desa bagian barat dipimpin oleh Tamping takon Desa Adat Tenganan Pegringsingan sedangkan kelompok krama desa bagian timur dipimpin oleh Kelihan nomor 1 Desa Adat Tenganan Pegringsingan,” jelasnya. (dik)

Dimulai dari Utara Pura Sri Desa, dipimpn Tampingtakon

Tradisi Muhu-muhu mulai dilaksanakan dari tempat utara di depan Pura Sri Desa Adat Tenganan Pegringsingan atau yang disebut sebagai lawangan desa kaja (pintu masuk desa arah utara). Prosesi dipimpin oleh Tampingtakon dengan diiringi oleh krama desa luh.

Untuk memulai upacara muhumuhu, nedehang (menggiring) memedi (makhluk niskala), mulai dari bagian utara menuju selatan. Ini sesuai dengan konsep Jaga Satru yakni tentang sebuah benteng masuk desa, dengan tujuan memedi tersebut dapat digiring menuju tempat di mana seharusnya memedi itu berada.

Tampingtakon yang merupakan kelian adat nomor 2 desa adat Tenganan Pegringsingan, dalam proses menggiring memedi membawa sebuah tumbak sanga (tombak). Tombak ini yang digunakan sebagai senjata untuk menggiring memedi yang dipercayai oleh krama desa bersembunyi di lorong-lorong desa atau tempat saluran-saluran air yang melintasi desa.

Dikatakan Kelian Suarjana, Tumbak sanga merupakan pusaka yang dimiliki oleh Desa adat Tenganan Pegringsingan, yang ditempatkan di Bale Agung Tenganan Pegringsingan. Tumbak sanga ini dikeluarkan ataupun digunakan hanya saat upacara muhu-muhu yang didalamnya terdapat tradisi Muhu-muhu.

Pada saat dimulainya, Tampintakon menghujamkan tumbaknya di setiap lorong saat itu juga kul-kul (kentongan) Desa Adat Tenganan Pegringsingan dibunyikan secara bulus (tidak beraturan) oleh Teruna dan kul-kul yang ada di setiap rumah maupun bale patemu juga dibunyikan dengan cara yang sama.

“Ini menandakan telah dimulainya Tradisi Muhu-muhu dan Lemeh Desa atau desa sedang dalam keadaan leteh/cuntaka (kotor),” katanya.

Ia menambahkan, Leteh, cemer, atau kotor dimaknai sebagai situasi dan kondisi yang diduga atau dapat diduga tercemar sekala-niskala akibat energi negatif. Pembersihan area desa nantinya akan dilaksanakan oleh Krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang ditandai dengan Penyangkepan Mabiu dan krama desa melaksanakan prosesi Mabiu secara serentak.

Krama desa luh (wanita) mengikuti Tampingtakon sebagai pendamping dalam perjalanan dari utara menuju selatan. Terdapat salah satu krama desa luh yang membawa banten atau persembahan yadnya. Krama desa luh ini merupakan anggota krama desa luh tambalapu beten atau anggota terakhir yang masuk sebagai anggota resmi Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Banten yang dibawa oleh krama desa luh yakni Banten Pamuja Ngeluhuk Kapitu.

Tradisi Muhu-muhu yang dilaksanakan oleh krama desa, dalam prosesnya selain Tampingtakon numbak loronglorong atau saluran air di desa. Tampingtakon juga numbak Muhumuhu yang telah dibuat oleh beberapa krama desa atau warga Tenganan Pegringsingan dengan membuat simbol memedi yang dituangkan dalam bentuk kreativitas seni.

Muhu-muhu yang merupakan simbol memedi atau bhuta kala juga melambangkan kesadaran manusia akan kekuatan alam semesta. “Kekuatan itu dapat dibagi dua; pertama kekuatan Bhuana agung yang artinya kekuatan alam raya dan kedua adalah kekuatan Bhuana alit yang berarti kekuatan dalam diri manusia,” sebutnya. (dik)

Simbol Muhu-muhu Ditumbak Tiga Kali

Lawangan kelod (pintu selatan) merupakan akhir dari prosesi tradisi Muhu-muhu yang dilaksanakan oleh krama desa yang mendapat tugas menjalankan tradisi Muhu-muhu, yakni krama desa yang duduk sebelah barat. Tampingtakon mengatakan kepada memedi atau bhuta kala yang digiring menuju keluar desa secara bahasa samodana (mantra lokal).

Jro Putu Suarjana menjelaskan makna menggiring memedi dan sebangsanya agar memedi megedi ka delodpaluh. Simbolis dalam mengembalikan unsur niskala dalam tradisi Muhu-muhu yakni krama desa melempar batu dan tongkat pemukul dari anak-anak yang tadinya digunakan untuk menghancurkan Muhu-muhu tanpa tersisa di dalam Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

“Setelah melempar batu dan tongkat pemukul tersebut tradisi Muhumuhu dapat dikatakan akan berakhir untuk wilayah desa dari utara hingga ke selatan,” katanya.

Rangkaian akhir dari upacara muhu-muhu yang dilaksanakan di Dalem kangin yakni pelepasan perahu-perahuan menuju selatan yang dilakukan oleh Kelihan gumi 1, Prosesi Ngelebang (melepaskan) perahu-perahuan disimbolisasikan oleh Kelihan gumi 1 dengan menarik kayu sangket kalak dengan ngelebang perahu-perahuan munuju ke selatan.

Hal ini dipercayai oleh krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan sebagai pengantar terakhir yang diberikan krama desa terhadap toleransi kehidupan antara sekala dan niskala. Yang diperuntukkan terhadap medi-median serta wong jawi tuhun nyambah.

Prosesi akhir muhu-muhu yang terkait di dalam upacara tersebut dengan tradisi medi-median, tentang sebuah pola keseimbangan hidup baik di Bhuana agung maupun di Bhuana alit. Saat proses ngelebang perahu-perahuan telah berakhir, maka proses muhu muhu juga berakhir.

Sarana dan prasarana yang berhubungan dengan daging serta bahan-bahan yang dapat dikonsumsi kembali lalu dibagikan oleh Kelihan Adat kepada krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan selaku pemrakarsa dari upacara muhu-muhu di rumah Kelihan Adat No 1 untuk dimakan bersama.

Khusus untuk Banten Cobek yang dibawa ke rumah Kelihan Adat No 1 nantinya akan terdapat sebuah proses Ngeduluang Lancuh, yang dimaknai oleh krama desa yaitu Banten Cobek dilelang atau dijual kembali.

Dalam prosesi ngeduluang lancuh, krama desa berhak untuk melakukan atau ikut andil dalam pelelangan namun atas dasar penghormatan kepada yang dituakan. Kelihan desa mempersilakan Luanan untuk membelinya dengan membayarkan sejumlah nominal uang secara bebas atapun dengan ditukar dengan beras. Seperti yang telah berlalu saat sebelum-sebelumnya, yang mendapatkan Banten Cobek tersebut adalah Luanan 1.

“Ngeduluang lancuh sebagai sikap menghormati dengan memberikan kesempatan kepada yang lebih tua atau yang dituakan atas peran beliau (Luanan 1) terhadap suksesnya pelaksanaan tradisi muhu-muhu,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Muhu-Muhu #Sasih Kapitu #Bhuana Agung daan Bhuana Alit #Tenganan Pegringsingan