Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Sarana Ritual dalam Hindu: Kayu Sisih untuk Menetralkan hal Negatif, Kayu Tulak Menolak Energi Buruk

I Putu Mardika • Minggu, 3 Mei 2026 | 14:16 WIB
Daun Kayu Sisih yang diyakini mampu menetralkan energi negatif dan digunakan sebagai sarana ritual
Daun Kayu Sisih yang diyakini mampu menetralkan energi negatif dan digunakan sebagai sarana ritual

BALIEXPRESS.ID-Makna penggunaan upakara yajña dalam ritual Hindu di Bali tidak hanya sekadar pelengkap upacara, tetapi mengandung arti yang sangat dalam. Upakara atau banten menjadi sarana utama umat Hindu untuk menunjukkan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dosen Upakara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, menjelaskan bahwa setiap banten yang dibuat sebenarnya adalah simbol yang menyampaikan pesan spiritual.

“Upakara yajña itu adalah simbol komunikasi. Ia bukan hanya benda mati, tetapi mengandung pesan bhakti dan rasa syukur umat kepada Tuhan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam kehidupan beragama Hindu, simbol memiliki peran penting karena membantu manusia yang memiliki keterbatasan untuk memahami hal-hal yang bersifat suci dan tidak terlihat.

Melalui upakara, umat bisa lebih mudah memusatkan pikiran saat sembahyang. Hal ini juga sejalan dengan kajian ilmiah yang menyebutkan bahwa penggunaan upakara dalam ritual merupakan bentuk komunikasi simbolik antara manusia dengan Tuhan, sebagai wujud rasa terima kasih dan bhakti.

Baca Juga: Pasang Pipa di Laut, PDAM Badung Targetkan Rampung Akhir Mei

Dalam ajaran Hindu, makna kesederhanaan dalam persembahan juga dijelaskan dalam kitab suci Bhagavadgītā. Pada Sloka IX.26 disebutkan:

patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ
yo me bhaktyā prayacchati,
tad ahaṁ bhakti-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ.

Artinya, siapa pun yang dengan tulus mempersembahkan daun, bunga, buah, atau air, akan diterima oleh Tuhan sebagai persembahan suci. Sloka ini menegaskan bahwa yang terpenting dalam yajña adalah ketulusan hati, bukan kemewahan banten.

Menurut Dr. Wayan Murniti, setiap bagian dalam upakara memiliki makna tersendiri. Misalnya, dalam prinsip nama, ada beberapa bahan yang digunakan dengan arti khusus. Daun Kayu Sisih bermakna untuk menyisihkan atau membersihkan hal-hal negatif.

“Daun Kayu Tulak digunakan sebagai simbol penolak energi buruk. Pangulapan memiliki arti memanggil atau mengundang kehadiran Ida Bhatara,” ungkapnya.

Pangambean melambangkan penyambutan terhadap kehadiran tersebut, sedangkan Panyeneng menjadi simbol tempat berstana atau bersemayamnya Ida Bhatara dalam upacara.

“Simbol-simbol ini menunjukkan bahwa dalam upacara ada proses, mulai dari memanggil, menyambut, sampai menghadirkan Tuhan dalam kesadaran umat,” jelasnya.

Baca Juga: Perkuat Ekosistem Keagenan, BRILink Agen Siap Panen Hadiah Emas Lewat Program Spesial

Selain itu, ada juga prinsip rupa atau bentuk. Dalam prinsip ini, bentuk dan warna banten memiliki arti tertentu. Contohnya porosan yang terdiri dari daun sirih, pinang, dan kapur yang melambangkan Tri Murti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Tumpeng yang berbentuk kerucut melambangkan gunung sebagai sumber kehidupan.

Canang sari dengan bunga berwarna-warni melambangkan kehadiran Tuhan di berbagai arah mata angin.

“Melalui bentuk dan warna ini, umat bisa memahami makna tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata,” kata Dr. Wayan Murniti.

Ia juga menegaskan bahwa keseimbangan dalam membuat banten sangat penting. Dalam konsep Tri Angga, banten harus memiliki susunan yang seimbang antara bagian atas, tengah, dan bawah. Hal ini mencerminkan keseimbangan hidup manusia. Jika tidak seimbang, maka maknanya juga tidak sempurna.

Lebih jauh, penggunaan upakara tidak hanya berkaitan dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam. Semua bahan banten berasal dari alam, seperti tumbuhan, buah, dan unsur lainnya. Ini menunjukkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Namun, Dr. Wayan Murniti mengingatkan bahwa saat ini banyak umat yang hanya fokus pada bentuk banten tanpa memahami maknanya. Ia menilai hal ini bisa mengurangi nilai spiritual dari upacara itu sendiri.

Baca Juga: Tiga WNA Tiongkok Gagal Kabur di Bandara Ngurah Rai, Diduga Pelaku Pencurian di Rumah Mewah

“Kalau hanya membuat tanpa memahami arti, maka upacara menjadi rutinitas saja. Yang penting adalah memahami maknanya agar bhakti itu benar-benar terasa,” tegasnya.

Ia berharap generasi muda Hindu bisa belajar lebih dalam tentang makna simbolik upakara, sehingga tradisi ini tetap hidup dan tidak kehilangan nilai. Menurutnya, memahami simbol dalam banten akan membuat umat lebih sadar akan tujuan dari setiap yajña yang dilakukan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#yadnya #Banten #upakara #hindu