BALIEXPRESS. ID- Dalam upaya memperkuat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali (Kanwil Kemenag Bali) melaksanakan kegiatan ngayah wewalen di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Jumat (1/5) malam. Kegiatan ngayah wewalen ini merupakan bentuk pengabdian tulus dalam tradisi Hindu Bali yang dilakukan secara gotong royong, sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pegawai Kanwil Kemenag Bali, Kantor Kemenag Tabanan, Klungkung dan Gianyar, turut ambil bagian dalam berbagai rangkaian kegiatan. Kepala Kanwil Kemenag Bali, I Gusti Made Sunartha, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya memperkuat sradha dan bhakti, tetapi juga menjadi momentum penting untuk membangun harmoni dan semangat kebersamaan di lingkungan kerja.
“Ngayah bukan sekadar kegiatan fisik, tetapi juga proses spiritual yang memperkuat nilai keikhlasan dan kebersamaan. Ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang terus kami dorong,” ujar Gusti Made Sunartha.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan ASN Kemenag dalam kegiatan adat dan keagamaan lokal merupakan bagian dari upaya menjaga kearifan lokal sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat.
Pura Samuan Tiga sendiri merupakan salah satu pura bersejarah di Bali yang memiliki nilai penting dalam perjalanan spiritual dan sejarah umat Hindu di pulau tersebut. Dengan dilaksanakannya ngayah wewalen ini, diharapkan dapat semakin memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga tradisi serta keharmonisan kehidupan beragama di Bali.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh rasa kebersamaan, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Bali.
Dalam rangkaian ngayah wewalen di Pura Samuan Tiga, berbagai tari dan pertunjukan sakral dipentaskan sebagai bagian dari upacara. Masing-masing memiliki makna spiritual yang mendalam, tidak sekadar sebagai seni pertunjukan, tetapi sebagai sarana persembahan suci (wali) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Diawali dengan Rejang Dewa, tari ini melambangkan penyambutan turunnya para dewa ke dunia (ngaturang bhakti). Dibawakan dengan gerakan sederhana dan penuh keikhlasan, Rejang Dewa menjadi simbol kesucian dan ketulusan hati umat dalam menyambut kehadiran energi ilahi.
Sementara di Penataran Pura, dipentaskan juga Wayang dengan jero dalang istri yang merupakan pegawai Kemenag. Dilanjutkan dengan Baris Gede, Baris Gede menggambarkan pasukan pengawal suci para dewa. Tarian ini sarat makna kepahlawanan, keberanian, serta kesiapsiagaan dalam menjaga kesucian pura dan jalannya upacara.
Kemudian Rejang Renteng, dibawakan secara berkelompok oleh perempuan dengan gerakan yang seragam, Rejang Renteng mencerminkan kebersamaan, harmoni, dan kekompakan umat dalam menjalankan yadnya (persembahan suci). Kemudian terdapat Rejang Sari menekankan keindahan dan keanggunan sebagai simbol persembahan terbaik kepada Tuhan. Tarian ini melambangkan rasa syukur serta ketulusan hati dalam berbhakti.
Baca Juga: Pasang Pipa di Laut, PDAM Badung Targetkan Rampung Akhir Mei
Diakhir pementasan dipertunjukan topeng dan topeng Sidakarya dalam konteks upacara memiliki fungsi sakral sebagai media penyampaian nilai-nilai moral, sejarah, dan ajaran dharma. Tokoh-tokoh dalam topeng merepresentasikan berbagai karakter kehidupan manusia. Topeng Sidakarya, merupakan bagian penutup yang sangat sakral dalam rangkaian upacara. Topeng Sidakarya melambangkan penyempurnaan yadnya. Kehadirannya diyakini memastikan bahwa seluruh rangkaian upacara telah berjalan dengan baik dan mendapat restu secara niskala (spiritual).
Keseluruhan rangkaian ini menunjukkan bahwa seni dalam tradisi Bali tidak terpisahkan dari nilai spiritual. Setiap gerakan, irama, dan karakter memiliki makna mendalam sebagai bentuk bhakti dan upaya menjaga keseimbangan antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual). *
Editor : Putu Agus Adegrantika