BALIEXPRESS.ID-Meru menjadi salah satu ornament yang ditemukan di tempat suci dengan beragam tingkatan. Secara filosofis, meru merupakan simbol Andha Bhuana atau alam semesta dan tingkatannya lengkap dengan tingkatannya sebagai simbol lapisan alam.
Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan penyebutan kata meru terungkap dalam Lontar Andha Bhuana. Dalam lontar tersebut diuraikan bahwa arti simbolis atau filsafat Meru sebagai berikut:
“Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwibha andhabhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit”.
Terjemahannya: Oleh karena itu, Meru berasal dari kata, me, berarti meme atau ibu atau pradana tattwa, sedangkan ru, berarti guru berarti bapak atau purusa tattwa, sehingga penggabungannya dari Meru memiliki arti batur kelawasan petak (cikal bakal leluhur). Meru berarti lambang atau simbol andha bhuana (alam semesta), tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam, yaitu bhuana agung dan bhuana alit”.
Lanjutnya, Lontar Andha Bhuana bahwa Meru memiliki dua makna simbolis, yaitu Meru sebagai simbolisasi dari cikal-bakal leluhur dan simbolisasi atau perlambang dari alam semesta. Lebih lanjut diuraikan bahwa Meru mempunyai dua makna.
Baca Juga: Dinamika Bupati Badung Terbaru, Adi Arnawa–Gus Bota Sebut Tetap Solid
Pertama, Meru sebagai perlambang atau perwujudan dari Gunung Mahameru dan gunung adalah perlambang alam semesta sebagai stana para Dewata, Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau Papulaning Sarwa Dewata. Meru mempunyai makna simbolis dari gunung juga diuraikan dalam Lontar Tantu Pagelaran, Kekawin Dharma Sunia dan Usana Bali.
“Bila ditelisik, Meru sebagai Dewa Pratista itu berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pelinggih para Dewa. Meru sebagai Dewa Pratista terdapat dalam komplek Pura-Pura seperti Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Kahyangan Tiga,” jelasnya.
Makna selanjutnya bahwa Meru melambangkan Ibu dan Bapak sebagaimana diuraikan dalam Lontar Andha Bhuana. Ibu mengandung pengertian Ibu Pertiwi, yaitu unsure Pradana tattwa dan Bapak mengandung makna Aji Akasa, yaitu unsur purusa tattwa.
Manunggalnya pradhana dan purusa itulah merupakan kekuatan yang maha besar yang menjadi sumber segala yang ada di bumi. Inilah yang merupakan landasan Meru berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur di komplek Pura-Pura Pedarman Besakih.
Dalam hal ini, Meru sebagai Atma Pratista berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau sebagai stana Dewa pitara atau roh yang telah melalui proses upacara, ngaben, kemudian menyusul upacara memukur dan ngelinggihang Dewa Pitara. Setelah upacara tingkat terakhir inilah baru dibuatkan Meru Gedong Kemimitan.
Pria asal Bakbakan Gianyar ini menyebutkan, Meru memiliki makna sebagai perlambang Gunung Mahameru, perlambang Tuhan Yang Maha Esa (alam semesta) dan Ibu Bapak (purusa pradana) berfungsi sebagai tempat pemujaan atau stana para Dewa Dewi, Betara Batari, dan roh suci leluhur.
Baca Juga: Kapolda Bali Resmikan Gedung “Bhara Daksa”, Polres Gianyar Siap Tingkatkan Pelayanan Presisi
“Bangunan meru itu dalam berbagai refrensi pertamakali digagas oleh Mpu Kuturan Atas hasil pemikiran yang cemerlang dari beliaulah adanya pelinggih meru di tanah Bali. Menurut Lontar Tutur Kuturan adalah bentuk meru yang pertama kali dikenalkan oleh Ida Bhatara Mpu Kuturan di Bali, sekitar abad ke-11 adalah Meru tumpang 3,” sebutnya.
Bangunan itu adalah simbol ‘Ongkara’ karena simbol Ongkara sebagai Sanghyang Widhi mempunyai kemahakuasaan. Sebagai angka tiga dimaknai simbol dari uttpti atau kelahiran, stiti (kehidupan), dan pralina (kematian).
Dalam perjalanannya, Meru kemudian berkembang menjadi tumpang: 1,3, 5, 7, 9, 11 disebutkan dalam Lontar Dwijendra Tattwa sejak abad ke-14 di Bali. “Meru-meru itu digunakan pula sebagai niyasa atau simbol pelinggih Maha Rsi, Bhatara Kawitan, dan Roh-roh suci, dalam kaitan pemujaan leluhur, yakni Atma Tattwa dan Punarbhawa,” ungkapnya.
Pada bagian dasar bangunan meru (bebaturan) terdapat beberapa jenis ornamen, semacam kakarangan, papatran, figur naga, dan bedawang nala. Secara keseluruhan menggambarkan karakter tingkatan alam bawah (bhurloka).
Dikatakan Nyoman Ariyoga, ornamen bedawang nala yang terdapat di dasar meru lazimnya berwujud seekor kura-kura raksasa yang dibelit seekor atau dua ekor naga sebagai dasar penyangga bangunan meru secara keseluruhan.
Adapun bedawang nala yang berwujud kura-kura raksasa berapi di dasar bangunan merupakan simbolisasi konsep neraka, sesuatu yang lazimnya digambarkan sebagai tempat penuh api siksaan dan sangat mudah dicapai oleh jiwa manusia yang terjerat ikatan duniawi dalam hidupnya.
Baca Juga: Polsek Ubud Bersama Tim Gabungan Tertibkan Parkir Liar di Kawasan Monkey Forest dan Hanoman
Mengenai kura-kura raksasa bernama Bedawang ini juga memiliki kaitan yang kuat dengan kepercayaan masyarakat di Bali tentang proses terjadinya peristiwa gempa bumi. Dalam mitologi rakyat Bali, digambarkan bahwa seekor kura-kura raksasa menyangga Pulau Bali di atas punggungnya. Apabila sang kura-kura raksasa bergerak, akan terjadi gempa bumi di Pulau Bali yang disangganya
Untuk mencegah agar sang kura-kura raksasa tidak bergerak secara leluasa, ditugaskanlah Naga Basuki serta Naga Anantabhoga untuk membelit erat sang kura-kura. Kedua naga kosmik ini ditugaskan selalu mengawasi dan mencegah setiap pergerakan sang kura-kura penyangga pulau. Dalam kosmologi Hindu, Naga Basuki dan Naga Anantabhoga merupakan dua naga utama yang digambarkan hidup di alam bawah pada tingkatan sapta patala.
Di alam nyata, kura-kura berapi Bedawang Nala dinyatakan sebagai simbol magma di perut bumi yang aktivitas vulkanisnya dapat memicu terjadinya gempa bumi dan tsunami. Magma ini dibungkus oleh elemen tanah dan air yang ada di permukaan bumi.
Gambaran alam inilah yang kemudian disimbolkan sebagai ornamen Kura-kura Bedawang Nala (simbol elemen magma) yang dibelit erat Naga Anantabhoga (simbol elemen tanah) dan Naga Basuki (simbol elemen air).
“Konsepsi ornamen bedawang nala sebagai simbol magma penyebab fenomena alam gempa bumi ini sangat relevan dengan kondisi Pulau Bali sebagai sebuah pulau dalam gugus kepulauan yang cukup rawan mengalami gempa bumi dan peristiwa vulkanis lainnya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika