Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penyuluh Agama Latih Anak- Anak di Banjar Apuh Sebatu Lewat Penguatan Tradisi dan Budaya

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 17 Mei 2026 | 19:49 WIB
PRAKTEK : Praktek pembuatan klakat dan tipat di Banjar Apuh, Desa Sebatu, Tegallalang. 
PRAKTEK : Praktek pembuatan klakat dan tipat di Banjar Apuh, Desa Sebatu, Tegallalang. 
BALIEXPRESS.ID - Semangat pelestarian budaya dan penguatan karakter keagamaan terus digaungkan di lingkungan sekolah dasar. Kali ini, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar menggelar kegiatan pembinaan non akademik bagi anak -anak Banjar Apuh dan Tegalsuci berlokasi di SDN 5 Sebatu, Tegallalang, Sabtu (16/5) . Kegiatan digelar usai pelaksanaan persembahyangan Tilem. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran spiritual sekaligus pelestarian tradisi Hindu sejak usia dini.
 
Suasana penuh antusias terlihat saat para siswa mengikuti kegiatan pasraman yang dikemas menarik dan edukatif. Tidak hanya mendapatkan penguatan nilai-nilai keagamaan, para siswa juga diajak belajar keterampilan tradisional yang masih erat kaitannya dengan kehidupan adat dan budaya Bali.
 
Dalam kegiatan tersebut, siswa laki-laki diberikan pelatihan membuat klakat sebagai sarana penunjang upacara keagamaan Hindu. Sementara itu, siswa perempuan belajar membuat tipat yang memiliki nilai filosofis sekaligus fungsi penting dalam berbagai yadnya di Bali. Seluruh proses pembelajaran berlangsung dengan pendampingan penyuluh.
 
Baca Juga: Sempat Dilaporkan Hilang, Kakek 63 Tahun di Tegallalang Ditemukan Selamat di Dasar Jurang
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar, I Kadek Cihna Harta, mengatakan bahwa pembinaan semacam ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya dan spiritualitas Hindu.
 
Menurutnya, penguatan tradisi sejak dini perlu dilakukan secara berkelanjutan di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Dengan mengenalkan praktik langsung pembuatan sarana upakara, anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menjaga warisan leluhur.
 
“Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak memahami nilai budaya dan agama secara langsung. Mereka belajar membuat sarana upakara sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi Bali agar tetap lestari di masa depan,” ujar I Kadek Cihna Harta.
 
Ia menambahkan, pendidikan karakter berbasis budaya dan keagamaan menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki etika, spiritualitas, dan kepedulian terhadap adat istiadat di lingkungannya.
 
Kegiatan penyuluhan pun mendapat sambutan positif dari para peserta yang terlihat aktif dan bersemangat mengikuti setiap tahapan pelatihan. Diharapkan, pembinaan seperti ini terus berlanjut sehingga generasi muda Bali mampu menjaga identitas budaya sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari. *
Editor : Putu Agus Adegrantika
#Budaya Bali #Kemenag Gianyar