BALIEXPRESS.ID-Di balik setiap upacara yadnya umat Hindu di Bali, terdapat simbol-simbol sakral yang tidak hanya bermakna estetis, tetapi juga mengandung kekuatan spiritual. Salah satunya adalah gambar rerajahan ulap-ulap, selembar kain putih bergambar aksara dan simbol suci yang kerap dipasang dalam prosesi melaspas bangunan, merajan, maupun tempat suci.
Bagi masyarakat Hindu Bali, ulap-ulap bukan sekadar ornamen ritual, melainkan media spiritual yang dipercaya mampu menghadirkan kekuatan suci dan menetralisir energi negatif.
Sarati Banten, Jro Ketut Untara menjelaskan bahwa ulap-ulap memiliki kedudukan penting dalam rangkaian upacara yadnya karena menjadi simbol pemanggil kekuatan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar berstana pada bangunan yang telah disucikan.
“Ulap-ulap itu bukan hanya gambar biasa. Di dalamnya ada simbol, aksara, dan doa-doa suci yang berfungsi sebagai media spiritual. Ketika dipasang saat melaspas, ulap-ulap menjadi penanda bahwa bangunan itu sudah diberi kehidupan secara niskala,” ujar Jro Ketut Untara.
Menurutnya, tradisi rerajahan ulap-ulap sudah diwariskan turun-temurun oleh para sulinggih, pemangku, dan sangging di Bali. Proses pembuatannya pun tidak boleh sembarangan karena berkaitan dengan kesucian. Biasanya ulap-ulap dibuat di atas kain putih menggunakan tinta hitam dengan berbagai bentuk simbol dan aksara Bali suci atau modre.
“Orang yang membuat ulap-ulap idealnya sudah melakukan penyucian diri. Karena yang digambar bukan sekadar garis, tetapi simbol sakral yang diyakini memiliki vibrasi spiritual,” katanya.
Baca Juga: Ketua DWP BNNK Gianyar, Widya Ismar, Tekankan Ketahanan Keluarga sebagai Benteng Anti Narkoba
Dalam tradisi Hindu Bali, ulap-ulap sering dipasang di bagian atas pintu bangunan atau pelinggih. Simbol ini dipercaya berfungsi sebagai penolak energi buruk sekaligus memohon keselamatan bagi penghuni bangunan. Selain itu, ulap-ulap juga menjadi sarana penyucian secara sekala dan niskala terhadap bangunan yang baru selesai dibangun.
Jro Ketut Untara menjelaskan bahwa makna ulap-ulap berkaitan erat dengan konsep memanggil kekuatan suci. Kata “ulap” dalam bahasa Bali berarti melambai atau memanggil.
“Maknanya seperti mengundang sinar suci Tuhan agar hadir dan memberikan perlindungan. Jadi bangunan itu tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga kuat secara spiritual,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam praktiknya gambar rerajahan ulap-ulap memiliki berbagai bentuk simbolik. Ada yang menyerupai manusia suci, binatang sakral, perpaduan manusia dan binatang, hingga aksara-aksara suci. Semua simbol tersebut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kekuatan para dewa dan keseimbangan alam semesta.
“Setiap simbol tidak dibuat asal-asalan. Ada pakem dan lontar yang menjadi dasar. Bahkan posisi garis dan aksara pun memiliki arti tersendiri,” jelasnya.
Di tengah perkembangan zaman modern, Jro Ketut Untara melihat masih banyak generasi muda yang belum memahami makna mendalam dari ulap-ulap. Padahal, menurutnya, tradisi ini merupakan bagian penting dari warisan spiritual dan budaya Bali.
Ia menilai sebagian masyarakat kini hanya melihat ulap-ulap sebagai pelengkap upacara tanpa memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Karena itu, edukasi mengenai simbol-simbol ritual Hindu perlu terus dilakukan agar tradisi tidak kehilangan makna.
“Kalau hanya dipasang tanpa memahami nilai sucinya, lama-lama maknanya bisa hilang. Generasi muda harus tahu bahwa di balik gambar sederhana itu ada filosofi kehidupan Hindu Bali,” katanya.
Baca Juga: KaKanwil Kemenag Bali Kuatkan ASN Kemenag Gianyar dengan Pemahaman Agama untuk Cegah Narkoba
Jro Ketut Untara menegaskan bahwa filosofi ulap-ulap sangat berkaitan dengan konsep Satyam, Sivam, Sundaram yang menjadi dasar estetika dan spiritualitas Hindu. Konsep ini mencerminkan perpaduan antara kebenaran, kesucian, dan keindahan dalam setiap sarana yadnya.
Pada aspek Satyam, ulap-ulap mengandung nilai kebenaran spiritual yang bersumber dari ajaran lontar dan tattwa Hindu. Simbol-simbol yang tergambar dipercaya merepresentasikan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan.
“Satyam itu kebenaran. Ulap-ulap dibuat berdasarkan sastra dan keyakinan suci, bukan sekadar kreasi artistik. Jadi ada dasar tattwa yang menjadi pegangan,” jelasnya.
Sementara aspek Sivam terlihat pada proses pembuatannya yang harus dilakukan dalam keadaan suci dan disertai upakara tertentu. Kesucian menjadi unsur utama karena ulap-ulap dipakai sebagai media ritual keagamaan.
“Orang yang membuat harus menjaga pikiran, ucapan, dan perilaku. Sebelum menggambar biasanya ada canang dan dupa sebagai bentuk penyucian,” ujarnya.
Sedangkan aspek Sundaram tampak pada unsur estetika visual ulap-ulap yang memadukan garis, simbol, dan aksara Bali dalam bentuk artistik. Walaupun sederhana, rerajahan ulap-ulap memiliki keindahan tersendiri yang sarat makna spiritual.
“Keindahan dalam ulap-ulap bukan hanya indah dipandang, tetapi juga indah secara rohani. Seni dalam Hindu memang selalu berkaitan dengan kesucian,” katanya.
Menurut Jro Ketut Untara, konsep Satyam Sivam Sundaram menjadi bukti bahwa seni dalam tradisi Hindu Bali tidak pernah lepas dari nilai religius. Karena itu, rerajahan ulap-ulap tidak bisa dipisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Ia menilai keberadaan ulap-ulap juga menjadi simbol harmonisasi antara budaya dan agama yang hingga kini masih lestari di Bali. Melalui simbol-simbol sederhana tersebut, masyarakat diajak untuk selalu menjaga keseimbangan antara sekala dan niskala.
“Ulap-ulap mengajarkan bahwa hidup itu harus selaras. Bangunan bukan hanya tempat tinggal fisik, tetapi juga ruang spiritual yang harus dijaga kesuciannya,” ucapnya.
Di era modern saat pembangunan fisik semakin pesat, Jro Ketut Untara berharap masyarakat tetap mempertahankan tradisi penggunaan ulap-ulap dalam setiap upacara yadnya. Ia menilai tradisi ini bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya Bali yang mengandung nilai spiritual tinggi.
“Modernisasi boleh berkembang, tetapi nilai-nilai leluhur jangan sampai hilang. Ulap-ulap adalah pengingat bahwa manusia Bali hidup berdampingan dengan kekuatan sekala dan niskala,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika